Perusda
Bank SUlsel Bar

TAJUK: Anomali Kotak Kosong atau Omong Kosong

Terbit 8/7/18 Oleh Hendra N. Arthur
TAJUK: Anomali Kotak Kosong atau Omong Kosong

KabarMakassar.com -- Hasil rekapitulasi KPU Makassar akhirnya rampung. Kotak Kosong yang berada di posisi 53%. Berhasil tumbangkan kekuatan 10 partai dari kandidat tunggal. Appi-cicu terpaksa kandas di posisi kisaran 46% 

Kemenangan kotak kosong yang kerap disebut Koko ini, jadi sebuah anomali. Kok bisa ? Kemana suara partai penggusung yang hampir 100% menguasai kursi di legislatif. Apa yang terjadi dengan figur calon tunggal ini, yang notabene kerabat dekat Jusuf Kalla, Komjen Pol. Sjarifuddin dan Founders Bosowa Group Aksa Mahmud.

Siapa sangka, kekuatan modal dan politik calon tunggal ini keok menghadapi figur kandidat tanpa gambar. 

Padahal, kemampuan mereka menyingkirkan kandidat petahana dari kontestasi Pilkada Walikota Makassar sangat jelas. 

Komponen yang dianggap menghambat keinginan mereka. Disingkirkan satu per satu bahkan tahap demi tahap. 

Beragam skenario politik dimainkan. Ajang kekuatan modal dan kekuasaan jadi tontonan fulgar. Kekuatan pemilik modal tampil terbuka. 

Kriminalisasi administrasi hingga hukum bak kacang goreng dimainkan para penguasa. Pendukung kandidat petahana sebelumnya dipatahkan tanpa perlawanan signifikan. 

Bukan hanya itu, pertarungan terbuka melalui opini publik. Sang incumbent tak berdaya menghadapi serangan-serangan media milik pemodal besar ini.

Namun drama perpolitikan lokal ini terhenti. Ketika KPU secara resmi mengumumkan hasil rekap suara yang justru menumbangkan pengorbanan para pemilik modal. Bahkan politisi senior daerah ini juga dibuat tak berdaya. 

Ada apa dengan demokrasi Koko Kota Makassar. Apakah benar? kekuatan rakyat atau yang akrab disebut people power murni mengalahkan kekuatan pemodal. 

Ataukah ini bagian dari skenario perang dingin penguasa dan pemilik modal raksasa jelang Pilpres 2019 mendatang ?

Kita lihat saja nanti....