Menjelang pilkada 2018

Menjelang pilkada 2018

KabarMakassar.com - - Pelaksanaan Pilkada 2018 serentak akan digelar pada hari Rabu, 27 Juni 2018. Ada 171 daerah yang akan berpartisipasi. Dari 171 daerah tersebut, ada 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten yang akan menyelenggarakan pilkada.
"Situasi politik relatif kondusif karena masyarakat kita sudah cukup dewasa. Masyarakat sudah melalui 2 kali Pilkada serentak 2015 dan 2017 dan semua berjalan aman.Hanya beberapa titik yg dianggap cukup rawan tapi pemerintah dan Polri sdh mengantisipasinya," kata Edward Tanari saat diwawancarai oleh Redaksi Kabar Makassar.com.
Tentu masing-masing calon mempunyai elektabilitas kekuatan dan keunggulan serta peluang sendiri. 
Menurut Sekjen Alumni Perkumpulan Senior GMKI,  elektabilitas calon dapat dilihat dari hasil survey,  walaupun banyak yang meragukan hasil survey dari beberapa lembaga survey yang dianggap pesanan dari paslon tertentu. Hal itu bisa dilihat dari penyajian survey yang kadang diluar logika akademis, misalnya; ada calon yang popularitasnya (keterkenalannya rendah) tapi elektabilitasnya tinggi. Padahal logika survey yang akademis itu urutannya; popularitas (keterkenalan) dulu baru disukai (karena kinerja dan track record) baru terakhir dipilih (elected).Sedangkan,  kekuatan dan keunggulan masing-masing calon di Pilgub Sulsel misalnya, sudah terbaca oleh masyarakat melalui track record dan penampilan mereka lewat debat yang digelar oleh penyelenggara Pemilu. Jadi masyarakat tinggal memilih sesuai hati nuraninya tanpa tekanan atau iming-iming money politic paslon.
Apakah situasi politik sekarang ini membawa pengaruh besar terhadap stabilitas ekonomi Indonesia?
Mantan Ketua Umum PP GMKI Era Reformasi ini mengungkapkan bahwa politik dan ekonomi itu ibarat dua sisi dari satu mata uang. Jika politik stabil maka stabilitas ekonomi juga akan baik. Kita dapat melihat dan merasakan sekarang akibat stabilitas politik yg baik di era pemerintahan Jokowi dan Jusuf Kalla maka stabilitas ekonomi Indonesia relatif baik. Memang kita lihat nilai rupiah melemah dari mata uang dunia tapi secara nasional masih bisa diatasi oleh pemerintah. Daya beli masyarakat masih tetap terjaga. Contoh konkritnya, hari raya Idul Fitri tetap semarak, mudik lebaran ramai.
Bagaimana seharusnya masyarakat Indonesia memandang hari Nasional saat pilkada besok ?
"Penetapan hari libur karena pilkada serentak hendaknya dimaknai sebagai apresiasi kita terhadap demokrasi yang semakin berkembang baik. Untuk itu diharapkan semua elemen masyarakat tidak menciderai demokrasi dengan money politics atau bentuk-bentuk lain yang keluar dari ketentuan perundangan yang ada. Bangsa yang beradab adalah bangsa yang taat terhadap ketentuan dan aturan yang telah disepakatinya," jelasnya.
Edward Tanari menegaskan bahwa masyarakat tampak antusias karena mereka pun sudah makin melek politik. Cost politik yang dikeluarkan oleh masing-masing paslon dapat dinikmati oleh masyarakat secara luas melalui UMKM yang menyiapkan logistik pilkada.

[Laurensia Maggie Picarima] 

Penulis :

Editor :