Perusda
Bank SUlsel Bar

Mahasiswa Unibos Lakukan Diskusi Berantas Hoax

on 16/5/18 Oleh Lina Budi Astuti
Mahasiswa Unibos Lakukan Diskusi Berantas Hoax
Diskusi publik terkait hoax, Rabu 16 Mei 2018 (Ist.)

KabarMakassar.com --- Semaraknya penyebaran berbagai macam informasi termasuk hoax menjadi landasan Fakultas Hukum (FH) Universitas Bosowa (Unibos) untuk mengajak mahasiswa ikut memberantas hoax dalam Dialog Publik yang digelar di Aula Fakultas Hukum Unibos Lantai 5 Gedung I Unibos, Rabu 16 Mei 2018.  

Kegiatan yang diikuti puluhan mahasiswa FH Unibos dengan menghadirkan Dekan Fakultas Hukum Unibos, Ketua Prodi Ilmu Hukum Unibso dan Sosiolog Unibos sebagai pemateri mengangkat tema Generasi Muda Melawan Hoax dengan menyoroti pentingnya peran masyarakat melawan hoax yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

"Memang indonesia ini banyak ujian terhadap kebersamaannya. Hoax dan radikalisme inilah penjajahan model baru untuk Indonesia. Tetapi dengan Indonesia yang kaya akan norma, saya kira ini bisa digunakan sebagai salah satu cara pemberantasan hoax”, tutur Syamsul Bahri, Asisten Direktur Pascasarjana Unibos sekaligus sosilog. 

Dalam dialog ini juga mendapat tanggapan dari Ketua Prodi Ilmu Hukum Unibos, Siti Zubaidah. Menurutnya mahasiswa berperan penting untuk mampu membantu pengelolaan informasi dengan cerdas agar tidak semakin semarak tersebar dimasyarakat jika informasi tersebut tidak benar. 

“Hoax itu akan terus menerus diproduksi dan menjadi pemicu masyarakat melihatnya sebagai berita benar. Tetapi kita sebagai civitas akademika memiliki kewajiban untuk memfilter berita dengan logika. Kita adalah kelompok cendekiawan dari masyarakat. tetapi keterbukaan pemikiran jika tidak dibatasi makan akan merusak moral bangsa dan menimbulkan ketidakstabilan," ungkap Siti Zubaidah. 

Hal tersebut juga perkuat oleh Dekan Fakultas Hukum Unibos,  Dr. Ruslan Renggong yang memfokuskan persatuan bangsa sebagai kunci utama menangkal hoax yang menyebar di masyarakat saat ini.

“Untuk menangkal hoax, radikalisme, terorisme, tidak ada jalan lain selain memperkuat persatuan seluruh anak bangsa. Bangsa Indonesia memang sudah mengalami pesang surut penjajahan dan revolusi kemerdekaan. Tetapi kita tidak boleh lemah. Musuh saat ini memang tidak sama dengan dulu. Sekarang lawan kita tidak terlihat. Jadi jika kita tidak waspada maka inilah penghancur kesatuan”, kata Dr Ruslan Renggong.

Perlu diketahui, dalam tahun 2017 Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) merilis survei tentang informasi palsu (hoax) yang tengah marak di Tanah Air. Dari hasil survei itu, diketahui media sosial menjadi sumber utama peredaran hoax dengan 62,8 persen responden mengaku sering menerima hoax dari aplikasi pesan singkat seperti Line, WhatsApp atau Telegram.