Waspada! Bahaya yang Disebar Hacker Lewat WhatsApp

Waspada! Bahaya yang Disebar Hacker Lewat WhatsApp

KabarMakassar.com-- Keamanan online adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh para pengguna internet (netter). Terlebih lagi saat ini banyak beredar berita bahwa netter bukan hanya menjadi target serangan hacker, tapi juga pengawasan pemerintah.

Dilansir Liputan6.com, Hacker memanfaatkan WhatsApp untuk menyebarkan virus atau malware yang sangat berbahaya. Hal itu otomatis melahirkan masalah baru sebab banyak orang yang mungkin belum sadar akan bahaya tersebut.

Sebelum kamu terkena kerugian akibat hal itu, berikut daftar ulasan 5 virus atau malware berbahaya yang disebarkan lewat WhatsApp:

1. WhatsApp Gold
Seperti yang kita tahu, WhatsApp memiliki ikon berwarna hijau. Pernahkah kamu berpikir ingin memiliki WhatsApp dengan ikon berwarna emas? Nah, para hacker berusaha menyebarkan virus berbahaya lewat ajakan mengunduh WhatsApp Gold.

Pengguna akan mendapatkan pesan ajakan beserta link untuk mengunduh WhatsApp Gold yang disebut-sebut hanya dipakai oleh kalangan selebritas dan memiliki sejumlah fitur yang tak bisa ditemui di WhatsApp biasa.

Ketika pengguna terjebak dan mengakses link yang diberikan, maka saat itulah smartphone akan terjangkit malware serta serangan siber yang berujung pada pencurian data pribadi.

2. Skygofree
Skygofree adalah malware berbahaya yang dapat meretas dan mengintip pesan WhatsApp serta mengambil foto menggunakan kamera smartphone tanpa diketahui pengguna. 

Tidak berhenti di situ, malware ini juga mampu melacak lokasi dan rekaman audio pengguna serta menyusup ke histori sehingga berkemungkinan membobol password hingga hal-hal penting lainnya. Lewat serangan ini, hacker bisa mengetahui segala aktivitas yang dilakukan pengguna dengan smartphone.

Tentunya, Skygofree sangat berbahaya apalagi jika pengguna mengakses internet banking, maka besar kemungkinan hacker dapat mencuri semua isi rekening pengguna.

3. Pesan Organisasi
Jika kalian menerima pesan berantai dari teman atau kontak di WhatsApp yang disertai dengan perintah membuka link tertentu, maka sebaiknya abaikan atau hapus saja pesan tersebut.

Perlu diketahui, ada sebuah malware disebarkan hacker lewat pesan berantai dengan mengatasnamakan organisasi-organisasi tertentu yang sekiranya berpengaruh bagi pengguna.

Jika pengguna membuka tautan yang dikirim bersama pesan tersebut, maka pencurian informasi milik pengguna yang tersimpan di dalam ponsel akan terjadi. Biasanya, malware ini dibuat mirip seperti format Microsoft Excel, Microsoft Word, dan PDF.

4. Warna Baru di WhatsApp
Malware yang satu ini disebarkan melalui pesan WhatsApp yang menjanjikan fitur dan warna baru WhatsApp bagi para penggunanya. Untuk dapat mengaktifkan fitur tersebut, pengguna harus mengirimkan kembali pesan yang didapat tersebut ke 10 kontak atau 5 grup WhatsApp.

Tentu saja ini hanya modus hacker karena ketika pengguna melakukan apa yang diperintahkan, maka secara otomatis di smartphone-nya akan terpasang berbagai aplikasi dan munculnya notifikasi palsu bahwa smartphone sedang dalam kondisi bahaya.

Dari sini pula, smartphone kamu akan dipenuhi oleh iklan-iklan yang ketika diklik, maka para hacker tersebut akan mendapatkan keuntungan finansial sementara smartphone pengguna dalam bahaya.

5. WhatsApp Video Calling
Fitur Video Calling WhatsApp sempat digunakan para hacker untuk menyebarkan virus dengan tujuan mencuri data atau kontak pengguna. Melalui fitur ini, hacker menyebarkan pesan palsu untuk mencoba layanan baru WhatsApp dan melampirkan tautan untuk mengunduh fitur tersebut.

Setelah fitur terinstall, akan muncul halaman seperti survei online yang meminta pengguna mengisi data-data yang diminta. Dari sinilah pencurian data pribadi pengguna terjadi. Hacker akan memanfaatkan data-data tersebut untuk kemudian disalahgunakan.

Bahayanya lagi jika pengguna juga memasukkan data rekening bank ke halaman tersebut, maka pencurian saldo rekening tak dapat lagi dihindari.

Selain hal-hal di atas, bila ada nomor mencurigakan di WhatsApp, lebih baik langsung blokir saja, karena dikhawatirkan oknum tersebut memiliki niat tidak baik.

Google sebagai salah satu perusahaan internet terbesar, juga melihat keamanan saat berselancar di dunia maya sebagai hal yang penting. Perusahaan asal Amerika Serikat (AS) itu berusaha mengedukasi netter agar bisa tetap merasa aman saat menggunakan internet.

Google belum lama ini merilis sejumlah tips keamanan online. Tips-tips ini dapat membantu netter lebih baik dalam melindungi informasi mereka, seperti password, file sensitif, dan menangkis serangan hacker.

Berikut tips dari Google tersebut:
1. Buat password yang kuat
Password adalah salah satu hal terpenting di layanan online. Sayangnya, menurut Google, sejumlah orang memiliki password yang sangat buruk.

Sebaiknya gunakan password berbeda untuk setiap layanan online yang dimiliki. Tak ada salahnya menggunakan manager password, tapi harus yang sudah terpercaya kualitasnya.

2. Lindungi akun
Google menyarankan agar menggunakan verfikasi dua-langkah, sebagai langkah keamanan yang sangat mudah digunakan dan juga sangat penting. Hal ini sangat berguna saat Anda mengakses layanan online dari perangkat komputer baru.

Metode ini akan bekerja, misalnya, saat Anda mengakses akun Google dari komputer yang sebelumnya belum pernah digunakan. Ketika itu, sebuah kode verifikasi akan dikirimkan ke ponsel Anda untuk meyakinkan bahwa Anda benar-benar pemilik akun tersebut.

3. Awasi terus perangkat mobile
Tips ini berguna untuk para pengguna perangkat mobile. Sangat disarankan untuk menggunakan nomor PIN, password, atau opsi keamanan lain seperti sensor sidik jari, untuk mengamankan perangkat Anda.

Langkah ini bisa mencegah orang asing melihat isi perangkat Anda.

4. Pakai browser versi terbaru
Semua orang mungkin merasa terganggu oleh pemberitahuan update, tapi itu adalah bagian super penting untuk menjaga keamanan online. Tak ada salahnya menggunakan versi browser terbaru.

Browser lama kemungkinan memiliki celah keamanan yang perlu ditambal, jadi jangan ragu-ragu untuk memperbarui saat pemberitahuan update muncul. Hal ini juga berlaku untuk browser Google Chrome. [Nur Fadhilah Sophyan]

Penulis :

Editor :