Mengenal Ritual Pattola Bala di Dusun Mare-Mare

Mengenal Ritual Pattola Bala  di Dusun Mare-Mare

KabarMakassar.com-- Dusun Mare-mare, desa Jangan-jangan merupakan salah satu daerah yang terletak di kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru, Provinsi Sulawesi Selatan. Daerah ini terletak di kaki bukit Garincing dan merupakan salah satu daerah yang letaknya jauh dari pusat kota karena Barru sendiri terletak sebelah utara Makassar ±70 KM, sebelah utara Barru berbatasan dengan Kotamadya Pare-Pare, sebelah timur berbatasan dengan Kab.Soppeng dan Kab.Bone. Masyarakat dusun Mare-mare pada umumnya bekerja sebagai petani sawah, beberapa bekerja sebagai buruh bangunan di luar kota Barru, dan sebagian dari penduduk dusun ini melakukan sompe. Berdasarkan informasi yang didapatkan dari kepala dusun (Bapak Muh. Sabir berusia 30 tahun) bahwa dusun ini memiliki penduduk kurang lebih sekitar 200 orang dengan jumlah rumah yang berpenghuni sekitar 36 buah dan ada beberapa rumah sudah tidak berpenghuni. Pada siang hari di desa ini cuaca terasa begitu panas hingga malam hari.

Masyarakat di dusun ini menggunakan bahasa Bugis namun hal ini tidak menghalangi tim penulis dalam penelitian karena diantara tim penulis terdapat seseorang yang dianggap fasih atau mampu berbahasa Bugis sehingga menjadi penghubung dalam berkomunikasi pada masyarakat setempat.

Setiap rumah didusun ini tepatnya pada tiap kolong rumah mereka terdapat anyaman daun. Rangkaian daun tersebut merupakan sebuah simbol kepercayaan yang diyakini dan diberi nama oleh masyarakat setempat sebagai Pattola’ Bala . Kepercayaan ini sudah ada sejak terbentuknya dusun Mare-mare yang diwariskan oleh nenek moyang mereka.

 Anyaman dari ketujuh rangkaian daun itu juga menjadi simbol yang menandakan rumah yang berpenghuni sedangkan rumah yang tanpa anyaman daun menandakan rumah yang tidak berpenghuni (penghuni rumah sedang melakukan sompe).

Masyarakat dusun Mare-mare juga meyakini bahwa rangkain daun yang disusun dan diletakkan dikolong rumah merupakan pemberian dari malaikat Jibril. Menurut kepercayaan mereka malaikat Jibril selalu membawa rangkaian daun ini ketika menurunkan wahyu oleh karena itu anyaman pattola’ bala merupakan sesuatu yang disakralkan didaerah ini. Tidak hanya itu, rangkaian daun menyimbolkan pula sebuah penghormatan kepada roh nenek moyang mereka yang diyakini manakalah alusu’ (roh) nenek moyang datang menengok kerumah dan melihat rangkaian daun tergantung ada maka ia merasa di hormati dan masih dianggap keberadaannya oleh cucu-cucunya sehingga nenek moyangnya pun akan menjaganya seisi rumah dari berbagai hal buruk yang akan menimpa rumah tersebut. Selain itu juga anyaman daun dianggap sebagai simbol yang mendatangkan rezki.

Ritual Pattola’ bala selalu dilaksanakan sekali setahun yaitu setiap kali akan menggarap sawah, serta dilakukan selama 3 kali jumat atau selama 17 hari lamanya. Setiap hari jumat dalam pelaksanaan prosesi ini masyarakat dilarang untuk melakukan aktivitas seperti yang mereka lakukan pada hari-hari biasa seperti mandi dan bertani atau kegiatan bersawah lainnya. Masyarakat hanya bisa melakukan kegiatan seperti makan, berbicara dan tidur. Hanya aktivitas ini yang dapat mereka kerjakan mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

Dalam prosesi pembuatan rangkaian daun tersebut, masyarakat Dusun Mare-Mare memiliki Sanro. Daun yang dirangkai ini pada umumnya berjumlah 7 jenis daun yang antara lain daun inru, daun sape sala, daun katakka, daun siri, daun tallo, daun boleang langi dan daun araso. Ketujuh daun ini dipilih karena menurut kepercayaan masyarakat dusun mare-mare ketujuh daun ini memiliki makna sebagai obat dan pelindung, dan terkhusus untuk daun siri dianggap dapat menghindarkan mereka dari segala penyakit. 

Salah satu daun yang disakralkan dalam pembuatan pattola’ bala yaitu daun boleang langi. Menurut kepercayaan mereka daun boleang langi ini hanya tumbuh liar di dalam hutan saja dan tidak ada seorangpun masyarakat yang berhasil menanam tumbuhan dari daun ini. Walaupun demikian masyarakat tetap mencoba untuk menanamnya namun tetap hasil yang diperoleh tanaman daun itu tak pernah bertahan hidup dan mati.

 Sebelum sandro memberikan anyaman rangkaian tujuh daun terlebih dahulu sanro pergi ke bukit garincing yang diyakini memiliki penunggu yang menjaga dusun tersebut. Dibukit ini terdapat batu yang berbentuk buaya, diatas batu itulah biasanya sandro menaruh sesembahannya dan meminta restu untuk turun kerumah warga untuk membagikan anyaman tersebut. 

Setelah dari bukit, rumah pertama yang didatangi sanro yaitu rumahnya sendiri lalu berlanjut kerumah bapak kepala dusun lalu ke setiap rumah warga untuk dibaca-baca (didoakan) dan terakhir anyaman daun tersebut dibagikan ke masing-masing rumah.
Sebelum anyaman digantung dibawah kolong rumah ada beberapa prosesi yang mesti dilakukan diantaranya yaitu membuat sesajen berupa tiga baki (nampan) yang berisi sawa’, ayam 4 ekor, dan kelapa muda, selanjutnya baki disimpan di possi’ bola (pusat dari tiang rumah), di tengnga bola (bagian tengah rumah) dan yolo tange’ (didepan pintu). Dan beberapa leppe’-leppe’ yang dibungkus daun anggotang (daun sirih) didalamnya berisi beras pulu (beras ketan), pahale (isi dari leppe’-leppe’) dan beras biasa. 

Kemudian di lipat dan diikat menggunakan bana’ (tali) yang diletakkan disetiap sisi bawah rumah yang terdiri dari empat sisi yaitu sisi riattang/maniang(sisi bagian selatan), sisi riawang/manorang (sisi bagian utara), sisi alau(sisi bagian timur) dan sisi riaja(sisi bagian barat). Biasanya leppe-leppe juga diletakkan di rakkeang (tempat padi) karena dipercaya dapat memberikan berkah kepada padi . Setelah semuanya telah diperisapkan, sandro mulai ma’baca-baca (berdoa) atau yang disebut MAPPALEPPE’ dengan tujuan melepaskan segala musibah, bala dan bencana agar tidak mengganggu penghuni kampung, penghuni rumah , tanaman, dan hewan ternak agar selalu diberkati dan diberikan perlindungan. Sandro juga melakukan ritual marrumpu (mengasapi) di bawah anyaman daun tersebut. Setelah itu, anyaman daun sudah dapat digantung dibawah kolong rumah. [Nur Fadhilah Sophyan]

Penulis :

Editor :