PDAM Makassar

Penjelasan Pakar Kesmas Unhas Soal Kematian Sulaiman Usai di Vaksin

Bank Sulsel Bar
Penjelasan Pakar Kesmas Unhas Soal Kematian Sulaiman Usai di Vaksin
Pakar Kesehatan Masyarakat (Kesmas) dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Sulawesi Selatan, Yahya Thamrin, SKM., M.Kes., MOHS, Ph.

KabarMakassar.com -- Kematian Sulaeman (50) sempat menggegerkan sebagian masyarakat di Kabupaten Takalar, terkhusus dilingkup Dinas Kesehatan di Sulawesi Selatan. Kendati demikian, Sulaiman (50) warga Jonggoa Desa Batu-batu, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar  yang bekerja di PLN Gardu Induk Daya Makassar meninggal dunia yang diduga usai menjalani vaksinasi covid-19 di kantornya pada Senin 15 Maret lalu. 

Ketika itu, menurut pengakuan anak korban Mahmud almarhum bapaknya mengalami demam, sesak nafas dan panas yang naik turun. 

"Sehat-sehat ji (sebelumnya), kemarin meninggal. Tanggal 15 bapak vaksin, gejalanya (dirasakan) setelah dua hari kemudian dirasakan seperti demam, sesak napas dan linglung. Naik turun juga panasnya," katanya kepada wartawan kemarin. 

Almarhum Sulaiman menghembuskan nafas terakhir pada Senin (22/3) lalu, dimana sebelumnya sempat di rawat di Puskesmas Aeng Towa Galut kemudian dirujuk ke RS Haji Makassar. 

Akibat informasi tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulsel akan menurunkan Tim Independen Kesehatan untuk melakukan Investigasi. 

Kematian Sulaiman yang diduga akibat vaksinasi covid-19 KabarMakassar.com mencoba mendapatkan informasi penjelasan melalui Pakar Kesehatan Masyarakat (Kesmas) dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Sulawesi Selatan, Yahya Thamrin, SKM., M.Kes., MOHS, Ph.

Yahya menjelaskan dugaan kematian Sulaiman yang diduga akibat vaksinasi covid-19 mesti ditelusuri lebih mendalam, terkhususnya hasil diagnosa hingga riwayat penyakit korban.

"Jadi waktu kejadian itu pak, di diagnosa, apakah dia meninggal dunia karena covid atau mungkin ada penyakit yang lain," kata Yahya kepada wartawan saat diwawancara, Selasa (23/3/2021) malam.

Terkait Epidemologi atau bagaimana menganalisis tentang penyebaran, pola, dan penentu kondisi kesehatan dan penyakit pada populasi tertentu, Yahya menjelaskan ada tiga hal yang menjadi prespektif.

"Kalau Epidemiologi itu, kalau prespektif epidemiologi itu, perspektifnya itukan terkait tiga hal pak, orang, tempat dan waktu, yah karakteristik orangnya itu, bagaimana, apakah umurnya berapa, jenis kelaminnya apa, kemudian apa kemungkinan resikonya, dia mengalami, katakanlah masalah kesehatan, kalau sekarang kan sudah meninggal yah, jadi yah harus diurai dulu karakteristik resikonya, itu dari segi orang," paparnya.

Yahya menjelaskan dalam tahap proses vaksinasi dilakukan dengan berbagai syarat, seperti screaning dengan diajukan beberapa pertanyaan sebelum akhirnya bersyarat untuk dilakukan vaksinasi.

"Itu dicek screaningnya, karena sebelum di vaksin itu setiap orang di screaning ada 16 pertanyaan itu yang diajukan ke dia (setiap peserta, red). Jadi harus ditelusuri itu, untuk pendekatan Epidemiologinya kita harus telusuri itu pak dia (korban) punya istilahnya depression, dia punya riwayat (atau tidak, red)," bebernya.

Persyaratan untuk screaning dalam tahap vaksinasi juga dipersyaratkan untuk tidak mempunyai riwayat atau gejala penyakit yang diderita.

Bahkan, tekanan darah, hingga penderita gula, demam dan flu juga tidak diperbolehkan untuk mengikuti tahap vaksinasi.

Menurutnya, jika yang bersangkutan atau peserta yang memiliki riwayat atau gejala itu, bisa saja menjadi resiko. 

"Jadi di 16 pertanyaan itu pak itu pada saat divaksin tidak boleh tekanan darah diatas, nda boleh hipertensi yah, kemudian gula darah itu tidak boleh diatas 200, kemudian tidak boleh ada infeksi akut, tidak boleh ada flu, atau demam berat atau batuk-batuk dan sebagainya pada saat divaksin sebelum divaksin, apabila ada gejala itu seperti itu, berarti tidak melewati screaning dengan benar," jelas Yahya Thamrin.

Sebagaimana diketahui, bahwa program vaksinasi ini bertujuan untuk meningkatkan daya imun tubuh. Selain itu para peserta juga harus menjawab pertanyaan-pertanyaan para petugas screaning sebelum masuk di tahap vaksinasi.

"Itu harus menjawab dengan jujur pak, harus dia ungkap dia punya keadaan dengan jujur nda boleh dia tutupi, karena vaksin itu, itu adalah upaya meningkatkan imunitas yah, dan itu adalah virus yang di lemaskan, yang jadi masalah itu kalau misalnya ada di vaksin itu kemudian virusnya korban, virusnya kemudian lagi tidak aktif pada saat itu kemudian ketika masuk dalam tubuh, maka dia baru aktif, itu masalah lain oleh karena itu, untuk menjaga resiko berat seperti ini, maka harus dia lewati screaning dengan baik, dia harus mengungkap itu kondisinya dengan jujur, kalau misalnya ada 16 pertanyaan yang dia tidak memenuhi syarat harus memang dia ungkapkan," tandasnya.

Penulis : Abdul Kadir

Editor : Fritz Wongkar

Pemkab Luwu
Pemprov Sulsel
Pemkot Makassar
DPRD Kota Makassar
Pemkab Sinjai
Kabar Serupa :
Pelindo
Bank Sulsel Bar