FUFP UINAM Gelar Seminar Nasional, Peringati Hari Kartini

FUFP UINAM Gelar Seminar Nasional, Peringati Hari Kartini

KabarMakassar.com -- Bulan April identik dengan perayaan hari Kartini. Kali ini DEMA Fakultas Ushuluddin dan Filsafat mengadakan seminar nasional dengan tema 'Aktualisasi Gerakan Perempuan Dalam Menghadapi Zaman' .

Dalam Seminar ini tentunya menghadirkan 3 narasumber yang tidak diragukan lagi kualitasnya dalam memegang peran sebagai perempuan-perempuan hebat diantaranya Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, MA (Aktivis Perempuan), Prof. Dr. Hj. Aisyah Kara, Phd (Wakil Rektor III UINAM), dan Dra. Hj. Hartini Thahir, M.HI (Kepala Pusat Study Gender dan Anak), di Auditorium Kampus II UINAM, Senin (23/4/2018).

 Maka dari itu DEMA Fakultas Ushuluddin dan Filsafat senantiasa mengajak para mahasiswa untuk merefleksikan kembali perjuangan Raden Ajeng Kartini lewat pandangan beberapa narasumber yang handal.

Pemahaman keagamaan ikut andil dalam kanca existensi perempuan indonesia dalam menghadapi tantangan zaman yang diharapkan dapat menghasilkan pembaharuan dan perubahan yang dapat digaungkan oleh Fakultas Ushuluddin dan Filsafat. Musda menyarankan agar mahasiswa tidak ikut-ikutan pada setiap keadaan yang bersifat ilusi dan harus kembali kepada fakta-fakta yang objektif. 

"Kami Perempuan masih dalam garis kemiskinan dalam aspek ekonomi, moral, pendidikan, kesehatan, hal ini sangatlah memprihatinkan melihat bahwa angka kematian ibu sangatlah tinggi serta banyaknya kasus anak perempuan yang terpaksa tidak bersekolah untuk mengurangi biaya pendidikan, "jelas Musdah.

"Terakhir, semoga kita semua baik itu laki-laki maupun perempuan, mampu memanage diri sendiri dalam hal management waktu, qalbu dan syahwat, "tutupnya.

Gerakan perempuan dalam perspektif Hadis Nabi Muhammad SAW juga dikemukakan oleh Aisyah selaku Wakil Rektor III bahwa beberapa Hadis diduga bias diantaranya dalam persoalan hadis tentang penciptaan Adam dan Hawa dan Hadis tentang kepemimpinan perempuan.

Aisyah mengungkapkan, "Bukan saatnya sekarang perempuan di rumah, dimana dalam hal strategi perempuan yakni pendidikan sebagai wujud kemandirian, memiliki integritas, dan otonomi dalam keberagamaan, "tuturnya.

Untuk menjadi pemimpin sebagai seorang perempuan tentunya haruslah memiliki kapasitas dan skill yang mempuni dan memiliki pendidikan setinggi-tingginya, karena management pengelolaan emosi tidak hanya didapatkan dalam kampus saja untuk itu refleksi itegritas kita sangat menunjang demi menjadi lebih baik kedepannya sebagai seorang perempuan.
 
Hartini juga mengungkapkan, "Kita sebagai perempuan kapan pun pasti akan mendapatkan suatu hambatan, perempuan juga harus diberi kesempatan untuk ikut mengontrol jika ada kegiatan kegiatan rana public karena perempuan memiliki sudut pandang tersendiri dalam hal itu.

Ranah Gender juga suatu ruang bagi laki-laki maupun perempuan untuk memarginalkan perempuan, dalam faktanya perempuan selalu nomor dua, selama ini bentuk-bentuk kekerasan dalam ketidakadilan gender, penelantaran anak, dan pelabelan negative terhadap perempuan dan traviking, "jelasnya.

Berbagai kekerasan kerap terjadi dari segi fisik maupun mental, sehingga secara emosional perempuan dan laki-laki akan terusik batinnya. Terkait dengan perempuan bukanlah mengubah kodrat laki-laki dan perempuan bukan maksud mendikotomi yang satu dengan yang lainnya.

Dari serangkaian penjelasan di atas sudah sangat jelas bahwasahnya perempuan haruslah melakukan aktifitas public, yang produktif untuk lebih bergiat lagi dalam membesarkan perempuan ataupun laki-laki agar terlihat seirama.
[Nur Fadhilah Sophyan]

Penulis :

Editor :