MPL Tanamkan Metode Ecobricks, Solusi Sampah Plastik

MPL Tanamkan Metode Ecobricks, Solusi Sampah Plastik

KabarMakassar.com -- Sampah yang baru bisa diuraikan oleh tanah membutuhkan setidaknya 200 sampai 400 tahun setelah tertimbun, bahkan ada penelitian yang menyebutkan bisa sampai mencapai 1000 tahun lamanya. 

Hal inilah yang kemudian menginspirasi Komunitas MPL (Mahasiswa Peduli Lingkungan) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar untuk merubah pola pikir masyarakat untuk mengelolah sampah.


Taufiq Hidayat, Ketua sekaligus pendiri komunitas MPL menuturkan kehadiran komunitasnya bercermin dari rasa malunya kepada pemulung di luar sana yang mengelolah sampah lebih baik dibanding mahasiswa.

"Awalnya komunitas ini terbentuk karna pemikiran terhadap banyaknya sampah berserakan di lingkungan kampus, ternyata sebgian besar mahasiswa tidak sadar atau peduli terhadap masalah lingkungan. Kita seharusnya malu pada pemulung di luar sana, karena mengambil smpah yang dihasilkan oleh mahasiswa, berarti secara tidak langsung pemulung lebih muliah ketika mengambil sampahnya mahasiswa yang notabene berpendidikan, disitulah kami berinisiatif untuk membuat suatu komunitas oleh lembaga kemahasiswaan yang mau mengurusi masalah sampah, " jelasnya.

MPL kemudian mengelola sampah dengan menggunakan metode ecobricks, yaitu metode dengan media botol plastik yang diisi penuh dengan sampah anorganik hingga benar-benar keras dan padat. Setelah sampah anorganis telah berbentuk, sampah kemudian dimanfaatkan untuk membuat meja, kursi tempok, maupun barang kesenian lainnya.

 "Besar harapan saya agar MPL memiliki kawasan pengelolahan limbah berbasis kampus, sebagai wadah belajar, untuk  bergabung dalam komunitas ini sangatlah mudah, cukup menyetor 3 botol yg berisih sampah plastik yang sudah dipadatkan dan menerapkan ecobricks dalam sosialisasi solusi sampah plastik kepada mahasiswa UIN," tutupnya.

Perlu diketahui, dalam riset berjudul Plastic Waste Associated with Disease on Coral Reefs menunjukkan bahwa sampah plastik merupakan sampah paling banyak yang ditemukan di Indonesia, yakni 25,6 bagian per 100m2 di lautan. Kota Denpasar, Bali merupakan kota dengan tingkat keterangkutan sampah terbesar di Indonesia, yaitu 97,47 persen dari 3.719 meter kubik sampah yang diproduksi.

Posisi Bali sebagai destinasi wisata internasional memang menjadi faktor capaian positif ini. Sedangkan, tingkat keterangkutan sampah di Kota Mamuju merupakan yang terendah di Indonesia, yaitu hanya 2,82 persen dari total produksi sampah sebesar 7.383 meter kubik.

[Nur Fadhilah Sophyan]

Penulis :

Editor :