Perusda
Bank SUlsel Bar

Terima Kasih Komandan!

Terbit 9/4/18 Oleh Hendra N. Arthur
Terima Kasih Komandan!
Syahrul Yasin Limpo. [Foto: Dok.KM]

KabarMakassar.com -- Hari ini, Syahrul Yasin Limpo (SYL) akan mengakhiri kepemimpinannya di Pemerintah Provinsi Sulsel. Sekilas, peralihan tampuk kendali pemerintahan menjadi sesuatu yang lumrah. Kegiatan rutin setiap lima tahun. Tidak hanya di tingkat provinsi. Tapi, di semua jenjang. Dari kabupaten/kota hingga pusat.

Bagi SYL, penyerahan tongkat komando selaku Gubernur Sulsel pada Senin, 9 April ini sangat spesial. Terbilang istimewa karena momentum ini jadi penanda titik akhir karier Sang Komandan di pemerintahan daerah. 

Karier SYL di birokrasi dimulai dari jenjang terbawah sebagai PNS pada 1980 silam. Kariernya mulai bergerak ke atas sebagai Kepala Seksi Tata Kota pada 1982. Dua tahun berselang, putra kedua pasangan (alm) H Muh Yasin Limpo-Hj Nurhayati itu diamanahi sebagai Camat di Bontonompo Gowa. 

Di Gowa, karier politik SYL kian berkibar. Di daerah penyanggah utama Makassar itu, SYL berturut-turut dua periode di percaya sebagai Kepala Daerah alias Bupati. Lalu menapak naik sebagai Wakil Gubernur Sulsel berpasangan Gubernur HM Amin Syam. Pasangan ini berhasil memenangkan pilkada terakhir melalui DPRD provinsi. 

Selanjutnya, dengan berpasangan Agus Arifin Nu'mang yang dikenal sebagai paket SAYANG, SYL naik kelas sebagai Gubernur Sulsel pada 2008. Hal sama, masih dengan paket SAYANG, Si Kumis, sapaan lain SYL, kembali terpilih sebagai Gubernur Sulsel. Jabatan dan amanahnya akan berakhir hari ini.

Dengan usia yang masih produktif, tentu saja kiprah dan sepak terjang SYL di dunia birokrasi, masih sangat mungkin berlanjut. Tapi tidak untuk tingkat provinsi. Alias, untuk jenjang daerah, kiprah langsung Sang Komandan telah usai. Regulasi tegas  membatasinya.

Tidak ada jalan lain baginya selain naik kelas ke tingkat nasional. Dan pilihan berlabuh ke Nasdem. Partai Politik bentukan Surya Paloh, senior SYL di Golkar. Ini sinyal nyata untuk naik kelas lagi. Kemana dan posisi apa yang diincarnya, tentu hanya SYL dan Allah yang tahu.

Terlepas akan kemana dan apa target berikutnya SYL di dunia politik, adalah sesuatu yang lumrah. Sah dan boleh-boleh saja. Apalagi selama 15 tahun berkiprah di Pemprov Sulsel. Lima tahun sebagai Wakil Gubernur dan 10 tahun terakhir sebagai orang nomor satu di Sulsel. 

Tanda matanya amat banyak. Mulai dari kasat mata seperti megaproyek infrastruktur, baik yang telah selesai maupun yang masih separuh jalan. Hingga yang tak kelihatan dengan mata telanjang, sudah tidak diragukan lagi.

Selama dua kali menjabat Gubernur Sulsel, misalnya, SYL mampu menyulap daerah ini bebas dari kekurangan pangan. Kalau tidak mau menyebutnya surplus beras dan jagung. Pertumbuhan ekonomi provinsi juga di atas pertumbuhan rata-rata nasional. Inflasi mampu ditekan. Bahkan dalam situasi tertentu yang daerah lain menjerit karena terimbas inflasi, Sulsel mampu dibuatnya deflasi. 

Di bidang pengelolaan anggaran daerah, kepemimpinan SYL juga terbilang fenomenal. Pemprov Sulsel bahkan tercatat sebagai pemegang rekor dalam meraih WTP tujuh tahun berturut-turut.

Stabilitas dan keamanan daerah juga mampu dijaganya bersama jajaran muspida lainnya. Padahal, Sulsel sempat masuk dan sering dicap sebagai zona merah kegiatan berbau radikal. Tapi hingga akhir pengabdiannya sebagai gubernur, toh Sulsel tetap aman-aman saja. 

Jadi, tidaklah berlebihan jika kepemimpinan Sang Komandan yang berakhir hari ini, mendapat apresiasi positif dari masyarakat Sulsel. Bahwa masih banyak yang belum berjalan seperti diharapkan, biarlah penggantinya yang kelak menyempurnakan. (*)