DPRD Kota Makassar

Oknum Polisi Diduga Tembak Warga, Satu Meninggal

Oknum Polisi Diduga Tembak Warga, Satu Meninggal
Korban penembakan oknum polisi menjalani perawatan intensif

KabarMakassar.com -- Terjadi penembakan oleh oknum kepolisian terhadap tiga pemuda di Jalan Barukang 3, Kecamatan Ujungtanah, Kota Makassar, Minggu (30/8). Akibatnya, tiga pemuda mengalami luka tembak masing Iqbal (23) dan Amar (19) terluka dibagian kaki dan Anjas (23) dibagian kepala.

Berdasarkan kronologi yang diterima Kabar Makassar dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kota Makassar dengan nomor 16/SK/LBH-MKS/VIII/2020, sekitar pukul 01.00 Wita, terjadi penembakan agas air mata di Jalan Bolu dan Jalan Barukang 1 sebanyak 2 kali. Area tersebut merupakan pemukiman padat penduduk.

Sekitar pukul 01.16 Wita, dari arah Jalan Barukang Raya, dua orang terduga polisi melepaskan tembakan dan mengenai kaki kiri korban AM (19) tapi tetap dapat berjalan tapi pincang dan masuk ke Jalan Barukang 2. AM kemudian didapati oleh temannya.

Karena terluka, AM diajak temannya ke RS Angkatan Laut Jala Ammari tapi dihadang oleh oknum anggota polisi dan melepaskan puluhan kali tembakan sebagaimana keterangan warga dan berdasarkan rekaman CCTV. Hal itupun membuat warga panik dan bersama anggota Binmas meminta oknum anggota polisi menghentikan tembakan.

Pasca kejadian itu, seorang pemuda Iqbal (23) terkena tembakan dikaki kanan. Akibatnya, sempat terjadi ketegangan karena warga terus berupaya meminta polisi agar menghetikan tembakan. Kemudian sekitar pukul 01.28 Wita seorang bernama Anjas (23) tersungkur dan diduga terkena tembakan.

Kapolsek Ujung Tanah AKP Ridwan mengatakan bahwa anggotanya melakukan penyelidikan di sekitar Jalan Barukang dan Jalan Bolu terkait kasus pengeroyokan terhadap MR pada 26 Agustus lalu yang dilakukan oleh NA warga Jalan Sabutung Baru.

"Ketika personil melaksanakan tugas dan bertanya kepada kelompok orang yang sedang minum minuman keras, tiba-tiba terjadi penyerangan dan mengeroyok petugas. Bahkan, ada yang berteriak maling sehingga banyak warga yang ikut memukul dan melempar," kata AKP Ridwan.

Lanjut, kata dia, ketika informasi pengeroyokan itu, Tim Respon Polres Pelabuhan dan anggota Polsek Ujung Tanah menuju Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk menjemput 3 orang anggota Polsek Ujung Tanah yang sudah dalam keadaan terkepung oleh warga.

"Karena massa tetap melakukan pelemparan dan pengeroyokan bahkan menyerang Tim Resmob Polres Pelabuhan sehingga terdesak diserang dan membahayakan jiwa, serta sudah diberikan tembakan peringatan tetapi masih melempar dan menyerang petugas, sehingga anggota terpaksa mengeluarkan tembakan," jelasnya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Kapolres Pelabuhan, AKBP Muhammad Kadarislam Kasim. Ia mengatakan jika kasus ini masih dalam pendalaman. Ia mengaku peristiwa itu terjadi ketika anggota polisi melaksanakan Lidik kasus pengeroyokan.

"Keterangannya masih dalam pendalaman kejadian tadi malam, dimana kejadian malam itu awalnya ada anggota Lidik kasus pengeroyokan tapi begitu sampai di TKP anggota dipukul dan diteriaki pencuri akhirnya lari, terdesak akhirnya melakukan untuk penyelamatan disitu," kata AKBP Muhammad Kadarislam Kasim.

Satu Korban Meninggal Dunia

Satu dari tiga korban penembakan meninggal dunia. Korban bernama Anjas (23) meninggal ketika menjalani perawatan intensif di RS Bhayangkara Makassar. Hal itupun dibenarkan oleh AKBP Muhammad Kadarislam Kasim. Ia mengatakan pihaknya kini melakukan koordinasi dengan pihak keluarga korban atas kejadian tersebut.

"Iya meninggal, dan betul keluarga keberatan maka kita sementara ke sana koordinasi dengan rumah sakit mau dibawa ke rumah korban," kata AKBP Muhammad Kadarislam Kasim.

Walau demikian, ia mengaku jika salah satu anggotanya bernama Bripka Usman juga mengalami luka akibat terkena lemparan batu. "Juga ada luka gores dibagian tangan kiri dan luka gores bagian punggung belakang. Bripka Usman sudah keluar (RS)," pungkasnya.

Salah satu orangtua korban, Jawad mengatakan jika penembakan itu terjadi sekira pukul 02:00 Wita dini hari. Ia mengaku saat itu dirinya sedang tidur dan terbangun ketika mendengar suara dentuman senjata hingga beberapa kali.

"Banyak sekali bunyi tembakan kayak orang perang. Saya juga tidak tahu ceritanya bagaimana. Tiga kena tembak, yang dua itu kakinya semua tembus. Anakku yang parah kena kepala," kata Jawad.

Enam Polisi Diperiksa Propam Polda Sulsel

Peristiwa penembakan oknum polisi di Ujung Tanah Makassar berbuntut panjang. Pasalnya, enam oknum anggota polisi kini sedang menjalani pemeriksaan di Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Sulsel. Keenam oknum polisi itu merupakan personel Polsek Ujung Tanah dan Satuan Sabhara Polres Pelabuhan.

"Sementara 6 orang, yang tadi malam melakukan penyelidikan, ada anggota dari Polsek Ujungtanah dan Respon Sabhara Polres. Untuk penembakannya sendiri itu masih didalami Polda apakah disitu ada kelalaian anggota atau tidak, untuk sementara ini bisa disampaikan," kata AKBP Kadarislam.

Walau demikian, kata dia, tidak menutup kemungkinan akan bertambah jumlah polisi yang akan diperiksa oleh Propam Polda Sulsel. "Karena anak menggunakan peluru tajam saat berada di lokasi. Dugaan sementara salah tembaklah dan itu peluru tajam," pungkasnya.

Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Ibrahim Tompo mengatakan jika pihaknya masih mendalami dugaan kasus penembakan oknum polisi di Ujung Tanah. Menurutnya, Propam Polda Sulsel masih harus memperjelas terkait penembakan tersebut.

"Penembakan itu sedang didalami karena segala situasi masih perlu kita perjelas, walaupun info awal bahwa tembakan yang dikeluarkan untuk peringatan atau memang tembakan untuk membela diri, kita tunggu hasilnya," kata Kombes Pol Ibrahim Tompo.

LBH Makassar Desak Komnas HAM dan Kompolnas Turun Tangan

Advokat LBH Makassar, Abdul Azis Dumpa menduga jika pada peristiwa tersebut diduga polisi telah melakukan tindakan penggunaan kekuatan dan sejata api secara berlebihan, menyalahi prinsip nesessitas, proporsionalitas dan reasonable/masuk akal sesuai ketentuan Pasal 3 huru a, b,c dan f Peraturan Kapolri nomor 1 tahun 2009.

Kata dia, dalam penggunaan senjata api, pada prinsipnya hanya diperbolehkan dalam rangka penegakan hukum dan untuk melindungi nyawa, serta masuk akal dimana penggunaan senjata api sangat dibutuhkan dan tidak bisa diganti dengan tindakan lunak lainnya.

"Dari keterangan warga, pada saat itu situasinya polisi menembakkan senjata api berkali-kali dan bahkan pada saat itu terdapat kerumunan warga. Terlebih lagi saat peristiwa di Lorong 4 Jalan Barukang III, anggota Binmas Patingalloang sudah turun tangan untuk meminta agar polisi menghentikan tembakan," kata Aziz.

Ia menilai tindakan kepolisian itu diduga kuat telah melanggar Hak Asasi Manusia yang tidak dapat dikurangi oleh siapapun dan dalam keadaan apapun hak untuk bebas dari perlakuan yang kejam dan tidak manusiawi dan hak untuk bebas dari penghilangan paksa dan penghilangan naywa sebagaimana diatur dalam pasal 33 ayat (1) dan (2)  jo undang undang nomor 12 tahun 2005 tentang Ratifikasi Kovenan Hak Sipil dan Politik.

"LBH Makassar mendesak pertanggungjawaban hukum pihak kepolisian yang terlibat baik secara pidana maupun etik dan disiplin sebagaiman secara tegas disebutkan dalam Protokol PBB Tahun 1980 dan pemberlakukan Protap Kapolri No. 1 tahun 2010," ungkapnya.

Ia menambahkan adapun dugaan tindak pidana yang dilanggar adalah tindak pidana menghilangkan nyawa dan/atau kekerasan secara bersama-sama dan/atau penganiayaan yang mengakibatkan luka berat dan mengakibatkan kematian, sebagaimana diatur dalam pasal 338 Jo. Pasal 170 ayat (1) dan (2) jo. Pasal 351 ayat (2) dan (3)

Karena itu, ia meminta agar proses hukum kasus ini harus dilakukan secara profesional dan akuntabel karena kasus dugaan penggunaan senjata api oleh pihak kepolisian secara melawan hukum terus berulang bahkan berakibat kematian, namun tindakan penegakan hukum yang dilakukan cenderung lamban dan tidak akuntabel.

"Maka dengan ini kami mendesak Kabareskrim Polri Cq. Reskrim Polda Sulsel, Komnas HAM RI dan Kompolnas RI untuk segera turun tangan melakukan penyelidikan, penyidikan terkait peristiwa ini," pungkasnya.

Penulis : Redaksi

Editor : Redaksi

Pemkot Makassar
Pertamina
Tabungan Valas Bank SulselBar