Nenek Ini Tinggal Digubuk Bersama Anaknya Yang Cacat

Mengharapkan bantuan pemerintah

Nenek Ini Tinggal Digubuk  Bersama Anaknya Yang Cacat

Kabarnakassar.com.Jeneponto - Hidup dengan anaknya yang cacat, Tinggal di rumah reyot, sebagian atap ambruk, dan sangat kumuh.

Itulah kehidupan yang sehari-hari dijalani oleh seorang nenek lanjut usia bernama Binarung (86) di kampung Karampangpa'ja selatan, Desa Borongtala, Kec.Tamalatea Jeneponto.

Matanya berbinar-binar, senyumnya menyungging, tatkala seorang jurnalis datang ke rumahnya membawa sebungkus nasi dan mie instan untuk makan siangnya, Rabu (28/3/2018).

"Terima kasih nak semoga Allah taala membalas kebaikan Anda," ucapnya menggunakan bahasa Makassar

Bina sapaan akrabnya, sudah bertahun-tahun tinggal sendiri di rumah yang tidak layak huni itu. Sekitar dua minggu yang lalu, atap rumah bagian belakang ambruk akibat termakan usia dan hujan deras beberapa hari terakhir.

Tampak kayu-kayu penyangga, atap sengnya yang sudah bocor, bahkan dia beralaskan dengan tanah saja dan masih berserakan bersama dengan perkakas dapur yang sudah sangat kumuh.

Di sudut ruang depan ada dipan (tempat tidur kayu) yang biasa dipakai nenek Binarung tidur. Hanya dipan itulah satu-satunya tempat yang paling nyaman untuk nenek Bina bersama anaknya yang cacat.

Tempat tidur berada di bawah atap seng yang bocor sehingga ia bisa berlindung dengan tenda seadanya untu menghindari dari panasnya matahari dan dinginnya guyuran hujan. Ia rela bersisihan dengan selimut dan guling lusuh serta barang-barang usang.

Di sudut ruangan lainnya, hanya ada lemari dan kursi usang, serta tumpukan kayu-kayu tak terpakai. Sampah botol bekas minuman, plastik, hingga kotoran tikus, berserakan di lantai yang becek. Aroma tidak sedap tercium di sudut ini.

"Kalau tidur malam, sembahyang, ya hanya di sini. Kalau hujan ya banjir, saya cuma duduk di sini karena (ruangan) lainnya sudah tidak bisa dipakai," tutur Nenek Binarung

Rumah nenek Binarung yang berkukuran sekitar 4x5 meter itu hanya diterangi oleh satu lampu kecil. Aliran listriknya dari tetangga sebelah rumah. Apabila hendak mandi atau buang air kecil, nenek binarung harus menimba air di sumur milik tetangga tidak jauh dari rumahnya.

Nenek Binarung yang asli Karampang pa'ja Kabupaten Jeneponto itu menceritakan, dirinya tinggal di rumah tersebut sejak menikah dengan suaminya puluhan tahun silam. Sejak suaminya meninggal , ia hidup bersama anaknya yang cacat.

Setiap hari nenek binarung ini mencari kehidupannya dengan mencari sisa-sisa rumput laut untuk dijadikan makanan hari- harinya. Ia berjalan kaki pergi ke Pinggir laut yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari rumahnya untuk mencari nafkah atau sekedar mencari hiburan.

"Bangun tidur pagi-pagi, lalu saya sembahyang, terus ke pinggir laut jalan kaki, pulangnya kadang siang atau sore," katanya.

Nenek Binarung mengaku tidak ingin merepotkan orang lain. Ia juga tidak pernah meminta belas kasihan orang lain meski ia menyadari kehidupannya sangat memprihatinkan. Untuk makan sehari-hari saja tidak pasti apalagi jika harus memperbaiki rumah. Bahkan Baju yang melekat ditubuhnya adalah sala-satunya pakaian yang ia miliki.

"Kadang-kadang nia tau ansarea makanan (kadang ada yang memberi (makan) ya saya terima). Sumpade nia tau asserea makanan siagang kaddokang ( tadi ada yang memberi makan dan lauk pauk ini)," ujarnya pake bahasa makassar.

Menurut nenek binarung , selama ini belum ada bantuan dari pemerintah, baik bantuan kesehatan, beras, atau renovasi rumah. Apabila sakit, ia cukup memakan obat daun daunan saja.

Nenek Binarung mengaku pernah ada dermawan yang ingin membawanya ke panti jompo tapi ia menolak karena tetap ingin tinggal di rumah bersama anaknya.

"Tidak mau saya, kanne tomma riballaku sanggengku mate (di rumah saja sampaiku mati)," tandasnya.

Sementara itu, Herlina (28), Bidan di desa Borongtala, mengaku prihatin dengan kondisi nenek Binarung saat ini. Terlihat dari raut mukanya yang kusam dan sering sakit sakitan lantaran jarang makan bahkan tiap harinya hanya makan mie instan saja sehingga kulitnya terlihat gatal gatal dan benjol .

" Saya prihatin atas kondisi kesehatan nenek binarung,setiap harinya hanya makan mie instan saja itupun kalau ada yang memberikan, kondisi rumahnya pun tidak layak dihuni karena atap sudah bocor bahkan dia tidur hanya memakai ranjang yang sudah rapuh ditambah lagi dengan beralaskan tanah yang penuh dengan kotoran dan bau tikus," Ucap Herlina.

Menurut Herlina, sehari-hari, segala kebutuhan hidup diurus sendiri dan sesekali menerima belas kasih tetangga atau aktivis sosial. Bahkan anaknya yang cacat juga sesekaki dia membantu mengumpulkan sisa sisa rumput laut untuk dijadikan makanannya.

Kini nenek binarung hanya menunggu uluran tangan para dermawan untuk memberikan bantuannya.

Penulis :

Editor :