News

Perlunya Sinergi Masyarakat & Pemerintah dalam Penanganan Penyalahgunaan Narkoba

Perlunya Sinergi Masyarakat & Pemerintah dalam Penanganan Penyalahgunaan Narkoba

 Kabar Makassar ----- Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menyebabkan pertukaran informasi dan arus komunikasi semakin meningkat. Hal tersebut mendorong munculnya perkembangan zaman. Globalisasi merupakan salah satu wujudnya. Ibarat sisi koin bermata dua, globalisasi membawa peran positif maupun negatif. Berbagai kemudahan dalam kehidupan merupakan salah satu wujud peran positif globalisasi. Sementara itu, sisi negatif yang ditimbulkan menjadi suatu permasalahan yang kompleks. Diantara permasalahan tersebut terdapat kasus penyalahgunaan narkotika. Penyalahgunaan narkotika merupakan suatu bentuk kejahatan yang merugikan banyak kalangan.

Sebelum membahas lebih lanjut terhadap penyalahgunaan narkotika, penulis akan menjelaskan definisinya. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Tanaman papaver, opium mentah, opium masak (candu, jicing, jicingko), opium obat, morfina, kokaina, ekgonina, tanaman ganja, dan damar ganja. Garam-garam dan turunanturunan dari morfina dan kokaina, serta campuran-campuran dan sediaan-sediaan yang mengandung bahan tersebut di atas (Kusmaryani, 2009). Narkotika juga erat kaitannya dengan psikotropika, namun memiliki perbedaan tersendiri. Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan pada aktivitas mental dan perilaku (Kusmaryani, 2009).

Sementara itu, juga terdapat zat lain yang termasuk berbahaya, yaitu bahan adiktif. Bahan Adiktif berbahaya lainnya adalah bahan-bahan alamiah, semi sintetis maupun sintetis yang dapat dipakai sebagai pengganti morfina atau kokaina yang dapat mengganggu sistim syaraf pusat (Kusmaryani, 2009). Adapun permasalahan dari zat-zat tersebut adalah terdapat penyalahgunaan terhadapnya. Secara universal penyalahgunaan narkotika dapat mengancam dan merusak masa depan penggunanya, bahkan dapat menimbulkan kejahatan-kejahatan lainnya sebagai akibat sindroma ketergantungan terhadap zat kimia narkotika atau obat-obatan terlarang (Adam, n.d.).

Akan tetapi, sebenarnya narkotika merupakan bagian dari beberapa jenis obat yang dibutuhkan dalam kehidupan manusia (Puspitasari, 2005). Hal tersebut jelas menimbulkan suatu masalah baru. Diperlukan adanya jaminan supaya narkotika tidak terjadi penyalahgunaan. Karena pada kurun waktu sejak 1970an, penyalahgunaan narkotika mulai marak terjadi. Hal yang perlu disayangkan adalah adanya penyalahgunaan narkotika yang menyasar para generasi muda. Sementara itu, jika berbicara tentang penyalahgunaan narkotika, seperti yang telah kita ketahui bersama, hal tersebut merupakan tindakan illegal yang dilarang oleh negara. Penyalahgunaan narkotika (drugs abuse) adalah suatu pemakaian non medical atau ilegal barang haram yang dinamakan narkotika (narkotik dan obat-obat adiktif) yang dapat merusak kesehatan dan kehidupan yang produktif manusia pemakainya (Sofyan, 2005:154 dalam Adam, n.d.). Adapun terdapat berbagai alasan terkait penyalahgunaan tersebut.

Alasan tersebut antara lain menurut Kusmaryani (2009) adalah, menggunakan narkotika di lingkungan pergaulan sudah dianggap hal yang wajar, bahkan sebagai suatu gaya hidup; ada yang pada awalnya dibujuk untuk merasakan manfaat semunya; terdapat keinginan untuk lari dari masalah; dan telah terjadi ketergantungan serta keinginan untuk berhenti tidak ada.

Penyalahgunaan narkotika menyebabkan banyak kerugian.  Adapun risiko tersebut menurut Adlin (2003 dalam Adam, n.d.) terbagi secara hukum, medis dan psikososial. Secara hukum, penyalahgunaan narkotika akan dikenakan sanksi pidana seperti yang diatur dalam Pasal 78, Pasal 79, Pasal 81 dan Pasal 82 UU No.22 tahun 1997 Tentang Narkotika. Sedangkan secara medis, penyalahgunaan narkotika akan meracuni sistem syaraf dan daya ingat, menurunkan kualitas berfikir, merusak berbagai organ vital seperti: ginjal, hati, jantung, paru-paru, dan sum-sum tulang, bisa terjangkit hepatitis, HIV/AIDS, serta bila over dosis bisa menimbulkan kematian. Berbagai permasalahan tersebut begitu kompleks dan merugikan. Selain itu ditambah lagi dengan permasalahan psikososial, penyalahgunaan narkotika akan mengubah seseorang menjadi pemurung, pemarah, pencemas, depresi, paranoid, dan mengalami gangguan jiwa, menimbulkan sikap masa bodoh, tidak peduli dengan norma masyarakat, hukum, dan agama, serta dapat mendorong melakukan tindak kriminal seperti : mencuri, berkelahi (Adam, 2005).

Melihat dari dampak yang ditimbulkan akibat penyalahgunaan narkoba tersebut diatas maka hal yang paling utama untuk dilakukan adalah tindakan preemitif (edukatif) dan preventif (pencegahan). Tindakan edukatif dilakukan dengan tujuan menghilangkan faktor peluang dan pendorong pengkonsumsian narkoba oleh masyarakat (Puspitasari, 20005). Misalnya melalui kegiatan pembinaan, penyebaran posterposter, sosialisasi, sarasehan, dan lain-lain. Sedangkan pencegahan dilakukan melalui pengendalian dan pengawasan jalur resmi dan jalur peredaran gelap narkoba. Misalnya melakukan razia di tempat-tempat yang diduga kuat menjadi “sarang” narkoba, pengawasan di bandara, dan lain-lain. Namun demikian tindakan represif (penegakan hukum terhadap penyalahgunaan yang sudah terjadi) juga tetap harus digalakkan (Puspitasari, 2005).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat berbagai permasalahan serius yang disebabkan oleh narkotika. Hal yang memrihatinkan adalah ketika narkotika telah menyasar pada generasi muda bangsa. Hal tersebut jelas akan merugikan bangsa dengan membunuh generasi harapan tersebut. Menyikapi hal tersebut, perlu adanya kebijakan dan hukum yang tegas dalam mengatasi permasalahan tersebut.  Penulis berpendapat bahwa diperlukan sinergi antara masyarakat dengan pemerintah dalam permasalahan narkotika tersebut. Jika pemerintah bekerja secara sendiri, maka solusi yang disiapkan olehnya akan terbatas dan kurang aplikatif. Sementara itu, jika masyarakat bergerak sendiri, maka hal tersebut akan kurang mendapatkan hasil yang maksimal. Sinergi diperlukan untuk memerkuat peran pemerintah dan juga sebagai bentuk pembangunan kesadaran masyarakat atas permasalahan narkotika. Oleh karena itu, sudah saatnya bagi kita untuk sadar akan dampak negatif narkoba dan bersikap mawas diri terhadapnya.

Referensi:

Adam, S. n.d. Dampak Narkotika pada Psikologi dan Kesehatan Masyarakat. Gorontalo: IAIN Sultan Amai Gorontalo.

Sumber Dari Google

Kusmaryani, E. 2009.             Mengenal Bahaya Narkoba Bagi Remaja. dalam kegiatan penyuluhan “Upaya Penyelamatan Generasi Muda Melalui Penyuluhan Pengetahuan Bahaya dan Cara Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba” tanggal 8 September 2009.

Puspitasari, D. 2005. Narkoba: Ancaman Bagi Generasi Muda. Yogyakart

 

Redaksi

Related Articles

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close