Pemprov Sulsel Perpanjang Imbauan Peniadaan Salat Jumat untuk Sementara Waktu

(IST)

KabarMakassar.com — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) kembali mengeluarkan Surat Edaran Gubernur Sulsel tentang imbauan kepada masyarakat di Provinsi Sulsel terkait pelaksanaan kegiatan keagamaan di wilayah Sulsel.

Surat edaran ini juga sekaligus memperpanjang imbauan yang sama dan telah dikeluarkan dua pekan lalu (Jumat, 20 Maret 2020)

Dalam surat edaran tertanggal 1 April 2020 itu, gubernur kembali mengimbau seluruh masyarakat di wilayah Provinsi Sulsel yang beragama Islam agar sementara waktu meniadakan Salat Jumat selama tiga pekan (3 April, 10 April, dan 17 April 2020), dan diganti dengan Salat Dzuhur di rumah masing-masing.

Begitupun untuk masyarakat yang beragama Nasrani, Hindu, Budha dan Konghucu, pelaksanaan ibadah tatap muka diimbau untuk diganti dengan pemanfaatan teknologi digital dan media sosial selama tiga pekan kedepan.

Sekadar diketahui, Surat Edaran Gubernur ini dikeluarkan menindak lanjuti Surat Imbauan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulsel tertanggal 1 April 2020, yang isinya mengimbau agar untuk sementara waktu Salat Jumat di wilayah Provinsi Sulsel ditiadakan dan diganti dengan Salat Dzuhur di rumah masing-masing selama tiga Jumat kedepan (3 April, 10 April, dan 17 April 2020).

Hal ini dilakukan menyikapi peningkatan jumlah orang yang terinfeksi Covid-19 di wilayah Sulsel.

Surat imbauan yang ditandatangani langsung oleh Ketua MUI Sulsel, DR. (HC) AGH. Sanusi Baci,Lc, dan Sekretaris Umum MUI Sulsel, Prof. Dr. HM Galib, M.A itu juga sekaligus memperpanjang imbauan yang sama dan telah dikeluarkan MUI Sulsel dua pekan lalu (Kamis, 19 Maret 2020).

Sebelumnya, Sekretaris Umum MUI Provinsi Sulsel, Galib mengatakan, imbauan ini dikeluarkan sebagai upaya pencegahan penularan Covid-19.

Namun, kata dia, imbauan ini diberlakukan bagi daerah-daerah yang sudah memiliki pasien suspect. Sementara bagi daerah yang masih dianggap aman, dapat melakukan ibadah Salat Jumat seperti biasa.

“Jadi imbauan kita seperti itu. Untuk daerah yang belum ada suspect, tetap berjalan seperti biasa,” ungkapnya.

Galib meminta, MUI kabupaten/kota juga melakukan koordinasi dengan Satuan Petugas (Satgas) terkait, untuk memastikan apakah masih diperbolehkan melakukan pertemuan dalam jumlah besar.

“Diharapkan ada koordinasi dengan pihak yang punya otoritas, seperti satgas di lapangan yang memberikan kita informasi apakah daerah itu masih boleh berkumpul dalam jumlah yang banyak atau tidak. Kalau itu ada unsur kekhawatiran, maka sebaiknya Salat Jumat itu diganti dengan Salat Dzuhur saja,” katanya.

Untuk umat muslim yang ingin tetap melaksanakan ibadah Salat Jumati, Galib mengimbau agar lebih menjaga jarak antara satu dengan lainnya.

“Kalau pun tetap dilaksanakan karena belum ditemukan suspect, pada saat masuk dan keluar mesjid supaya tidak berdesakan. Kemudian kita berharap bahwa mereka yang kurang sehat untuk tidak ke mesjid. Jadi sifatnya tindakan pencegahan untuk memelihara kesehatan dan keselamatan masyarakat kita,” tuturnya.

Galib menambahkan, imbauan ini juga termasuk untuk pelaksanaan ibadah salat lima waktu yang sifatnya menghadirkan jemaah dalam jumlah besar.

“Termasuk itu juga untuk ibadah salat lima waktu lainnya kalau itu dalam jumlah yang banyak. Jadi sifatnya upaya pencegahan penyakit,” jelasnya.

Reporter :

Editor :

Firdaus

Redaksi

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

REKOMENDASI