News

Pemilik Barang Menjerit Tarif Freight Container Naik 70 Persen

Pemilik Barang Menjerit Tarif Freight Container Naik 70 Persen

Kabar Makassar -- Pelaku usaha di Sulawesi Selatan menjerit akibat kenaikan tarif jasa kontainer atau Freight Container naik hingga 70 persen di wilayah timur Indonesia.

Hal ini terungkap dalam rapat koordinasi yang digelar Asosiasi Logistik dan Forwarder (ALFI/ILFA) Sulselbar bersama pemilik barang dan Angkasa Pura di Makassar, Kamis 14 September 2017.

Perwakilan Pemilik Barang Semen Bosowa, Sumirlan dalam pertemuan itu mengeluhkan produknya tidak bisa lagi bersaing dengan produk-produk semen lainnya.

"Kita punya produk lokal yang ingin dijual murah ke masyarakat. Dengan adanya kenaikan ini bisa berdampak bagi daya beli masyarakat," kata dia.

Bahkan dia mengaku pesanan semen lokal sebanyak 300 ribu ton terpaksa ditahan karena harga Freight Container naiknya sangat drastis. "Tidak ada alasan, tarif freight kapal naik. Kami heran kenapa di wilayah timur yang kenaikan sangat signifikan dibanding daerah-daerah lainnya. Ini ada apa," keluh Sumirlan yang mewakili pemilik barang.

Dia meminta agar pemerintah bisa mengendalikan tarif Freight Container karena bisa berdampak pada kenaikan harga barang-barang kebutuhan masyarakat khususnya di wilayah timur Indonesia.

"Kalau ada kenaikan ini pasti berat. Karena kenaikannya sangat berdampak. Kalau pemilik barang dan konsumen tidak mampu membayar. Maka persoalan ini akan berdampak luas," keluh dia.

Hal sama juga disampaikan Ketua ALFI/ILFA Sulselbar, Syaifuddin Syahrudi yang mengkhawatirkan kenaikan Freight Container 40 - 70 persenini bisa mempengaruhi daya saing produk lokal, akibatnya masyarakat di Sulsel akan mengalami disparitas harga yang tinggi.

"Meski uangnya para pedagang dan pabrikan hanya melintas melalui kami pelaku distribusi. Tetapi kenaikan ini sangat tidak wajar karena akan menyebabkan biaya logistik yang tinggi. Ini bertolak belakang dengan kebijakan pemerintah menekan high cost logistik di wilayah timur khususnya di Sulawesi Selatan," keluhnya

ALFI Sulselbar menggelar pertemuan ini, diakui guna menghindari adanya anggapan bahwa biaya jasa transportasi menjadi penyebab tingginya biaya logistik di Sulsel. "Kami sebenarnya tidak anti kenaikan biaya jasa transportasi. Tetapi kenaikan ini harus normatif. Kami tidak mau dituding lagi sebagai penyebab high cost logistik," ungkap pria yang akrab disapa "Ipho" ini.

Dikhawatirkan harga barang di tingkat konsumen akan mengalami gejolak karena menimbulkan disparitas harga yang terlalu tinggi. Apalagi, lanjutnya kenaikan tarif jasa tambang kontainer yang signifikan di Pelabuhan Makassar, Tanjung Perak Surabaya dan Jakarta berdampak bagi konsumen di Makassar dan Sulawesi Selatan.

Dia berharap pemerintah bisa bertindak agar disparitas harga di wilayah timur tidak terjadi akibat kenaikan Freight Container yang dilakukan sejumlah oknum pelaku pelayaran. "Kami harap pemerintah bisa merespon dampak kenaikan tarif yang kami anggap sepihak ini. Konsumen wajib memperoleh harga yang wajar," ujarnya.

Pengurus ALFI/ILFA Sulselbar, Milwan Kamil juga menilai kenaikan ini tidak masuk akal misalnya rute Makassar - Shanghai Rp3,5 juta per box untuk 20 feet, lebih murah dibanding rute Makassar - Ambon yang mencapai Rp 8 juta per box untuk 20 feet. "Kenaikan tarif secara sepihak ini bisa mempengaruhi daya saing produk daerah. Tidak ada keadilan untuk masyarakat Indonesia timur," keluh dia.

Foto: Nick

Redaksi

Related Articles

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close