Pasien Positif Covid-19 di Sulsel Lampaui Jateng, Ini Faktor penyebabnya

Ilustrasi - INT

KabarMakassar.com — Peningkatan jumlah kasus Covid-19 di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) sangat signifikan. Sejak pertama kali diumumkan adanya pasien positif Covid-19 di Sulsel pada 19 Maret lalu, dalam jangka waktu 25 hari saja jumlahnya sudah meningkat lebih dari 200 kasus.

Catatan negatif ini pun membuat Sulsel menjadi satu-satunya Provinsi di luar Pulau Jawa yang masuk dalam zona merah penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Dari sisi jumlah kasus, Sulsel saat ini berada di urutan kelima dari total 34 provinsi di Indonesia. Di bawah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Banten. Ironisnya, Sulsel berada di atas Jawa Tengah yang notabene jumlah penduduknya jauh lebih banyak.

Mantan Rektor Universitas Hasanuddin Makassar, Prof. Idrus Paturusi mengatakan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab jumlah kasus positif Covid-19 di wilayah Sulsel meningkat signifikan dalam waktu yang relatif singkat.

“Pertama, itu karena saat ini banyak orang yang sebenarnya sudah terpapar, tapi dia tanpa gejala (OTG) dan dia tidak sadar kalau dia terpapar. Orang-orang seperti ini masih bebas jalan kesana kemari dan sangat mudah sekali menularkan ke orang lain,” kata Prof. Idrus, Selasa (14/4).

Guru Besar Fakultas Kedokteran Unhas itu juga menilai, kondisi saat ini tak terlepas dari lambannya pemerintah setempat dalam mengambil sikap. Kebijakan yang diambil pun (pembatasan sosial berskala kecil/ tingkat kecamatan) menurut dia tidak efektif.

“Mestinya pemerintah dari tingkap pusat sampai ke daerah harusnya jeli untuk melihat kondisi ini. Harus berani bertindak cepat dan tegas. Jangan dibiarkan seperti ini. Kalau mau lockdown atau PSBB, jangan ragu. Contohnya seperti pembatasan skala kecil yang dilakukan sekarang salah satunya di Kecamatan Rappocini. Itu tidak efektif,” ujarnya.

“Perbatasan kecamatan itu kan hanya secara administratif. Saat orang jalan, dia tidak tahu sudah lewat atau masih di wilayah Rappocini. Ini yang saya kira harus dibenahi dan dipikirkan untuk segera mengambil langkah yang lebih tegas. Kalau tidak, ya jumlah kasus Covid-19 ini pasti akan terus meningkat,” sambungnya.

Prof. Idrus menambahkan, kesadaran dari masyarakat dalam melakukan social dan physical distancing juga harus lebih ditingkatkan jika ingin benar-benar menekan atau memutus penyebran Covid-19 di Sulsel.

Terpisah, Kepala Bidang Pelayanan Maasyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, Husni Thamrin menyampaikan hal yang tak jauh berbeda. Menurut dia, faktor utama terus meningkatnya jumlah kasus Covid-19 di Sulsel adalah masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengikuti imbauan pemerintah untuk melakukan social dan physical distancing, termasuk disiplin dalan menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

“Penyebaran utamanya angka kasus Covid-19 ini terus meningkat adalah kepatuhan masyarakat yang masih minim untuk menaati imbauan pemerintah, sepeti social dan physical distancing, pakai masker, cuci tangan dan lain sebagainya. Ini yang harus didorong terus,” kata Husni.

Selain itu, kata dia, banayaknya informasi tidak benar (hoax) yang justru diajadikan acuan oleh massyarakat. Husni mencontohkan, salah satu informasi tidak benar yang dimaksudnya yakni artikel atau kabar yang menyebut bahwa OTG dan ODP itu tidak bisa menularkan.

“Harus diingat, ketika virus masuk, meski belum ada gejala tapi itu sudah bisa menularkan,” ujarnya.

Perihal lambannya pemerintah dalam mengambil sikap dalam penanganan Covid-19 ini, Husni mengaku tak sependapat dengan anggapan tersebut.

Husni mengatakan, kinerja pemerintah dalam penanganan Covid-19 ini bisa terlihat dari data jumlah ODP, PDP, dan pasien positif yang setiap hari disampaikan ke masyarakat melalui website resmi gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 Provinsi Sulsel.

“Bsa dilihat datanya jumlah ODP itu ada 2 ribuan lebih, jumlah PDP dan pasien positif yang sembuh. Itu bukti bahwa pemerintah hadir dan kita tak pernah berhenti bergerak melakukan tracing kontak untuk memutus penyebaran virus ini. Covid-19 ini bisa disembuhkan, tapi kita butuh dukungan masyarakat untuk tetap tinggal di rumah,” imbuhnya.

“Yang harus diketahui juga, bahwa rata-rata pasien Covid-19 di Sulsel yang meninggal itu di rumah sakit. Beda dengan di Jawa, ada yang meninggal di rumah, di jalan dan lain sebagainya. Artinya, di Sulsel itu semua pasien Covid-19 tertangani. Ini juga bukti bahwa penanganan Covid-19 di Sulsel itu masih terkendali,” pungkasnya.

Reporter :

Editor :

Firdaus

Redaksi

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

REKOMENDASI