Oleh: Nur Faidah Munir
KabarMakassar.com -- Tempe adalah bagian penting dari kehidupan pangan masyarakat Indonesia. Harganya relatif terjangkau, mudah diolah, dan menjadi sumber protein bagi berbagai lapisan masyarakat. Namun, di balik kesederhanaan makanan yang akrab di meja makan ini, terdapat persoalan mendasar: bahan baku utamanya masih sangat bergantung pada kedelai impor.
Besarnya impor kedelai menunjukkan bahwa pasokan industri pangan domestik masih terhubung erat dengan pasar internasional. Ketika harga, kurs, biaya logistik, atau pasokan global berubah, produsen tempe dapat ikut terdampak. Diversifikasi bahan baku dapat menjadi salah satu instrumen untuk mengurangi risiko tersebut.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Indonesia mengimpor sekitar 2,56 juta ton kedelai pada 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 2,21 juta ton berasal dari Amerika Serikat. Angka ini memperlihatkan betapa pentingnya pasokan luar negeri bagi pemenuhan kebutuhan kedelai nasional. Ketika harga internasional, nilai tukar, dan biaya distribusi mengalami perubahan, industri pangan yang bergantung pada kedelai dapat ikut merasakan dampaknya.
Persoalannya bukan semata-mata apakah Indonesia mampu memproduksi kedelai lebih banyak. Pertanyaan yang juga perlu diajukan adalah: mengapa bahan baku tempe harus begitu bergantung pada satu jenis kacang, sementara Indonesia memiliki beragam sumber daya pangan lokal?
Diversifikasi Bahan Baku Tempe Perlu Menjadi Bagian dari Strategi Ketahanan Pangan Nasional
Tidak Harus Meninggalkan Kedelai
Mengurangi ketergantungan terhadap kedelai impor bukan berarti menghentikan impor secara mendadak atau meninggalkan tempe kedelai yang sudah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat. Peningkatan produksi kedelai domestik tetap penting. Namun, strategi tersebut perlu dilengkapi dengan pengembangan bahan baku alternatif agar sistem pangan memiliki lebih banyak pilihan ketika pasokan utama terganggu.
Indonesia mengenal berbagai kacang-kacangan yang berpotensi diolah menjadi tempe, antara lain kacang gude, kacang tunggak, kacang hijau, dan koro pedang. Kajian ilmiah telah menunjukkan bahwa sejumlah kacang nonkedelai dapat difermentasi menggunakan kapang tempe, meskipun karakteristik bahan dan proses pengolahannya berbeda.
Penelitian mengenai koro pedang (Canavalia ensiformis), misalnya, melaporkan bahwa bahan ini dapat menghasilkan pertumbuhan miselium yang baik selama fermentasi. Evaluasi sensori juga menunjukkan potensi penerimaan produk, khususnya ketika tempe diolah dengan cara digoreng. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan tempe nonkedelai bukan sekadar gagasan, melainkan peluang yang telah memiliki landasan penelitian.
Kacang gude (Cajanus cajan) juga menarik dikembangkan karena merupakan sumber protein nabati yang berpotensi dimanfaatkan dalam diversifikasi pangan. Sementara itu, kacang tunggak dan kacang hijau dapat menjadi pilihan untuk penelitian formulasi serta pengembangan produk fermentasi berbasis sumber daya lokal.
Tantangannya Bukan Hanya Mengganti Bahan Baku
Meski menjanjikan, pengembangan tempe nonkedelai tidak dapat dilakukan hanya dengan mengganti kedelai menggunakan kacang lain. Setiap jenis kacang mempunyai ukuran biji, komposisi zat gizi, kekerasan, kandungan senyawa antigizi, serta karakteristik fermentasi yang berbeda.
Karena itu, dibutuhkan rekayasa proses yang tepat. Tahapan perendaman, perebusan, pengupasan kulit, pengaturan kadar air, pemberian inokulum, dan lama fermentasi perlu dioptimalkan sesuai karakteristik bahan baku. Pengujian juga perlu mencakup kandungan protein, keamanan pangan, mutu mikrobiologis, tekstur, aroma, rasa, dan penerimaan konsumen.
Di sinilah perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan pelaku industri pangan dapat mengambil peran strategis. Penelitian tidak seharusnya berhenti pada keberhasilan menghasilkan tempe di laboratorium. Inovasi perlu dilanjutkan hingga menghasilkan teknologi pengolahan yang mudah diterapkan, efisien, aman, dan sesuai dengan kebutuhan perajin tempe skala kecil.
Dari Laboratorium Menuju Kesejahteraan Petani
Diversifikasi bahan baku tempe juga harus ditempatkan dalam kerangka ekonomi lokal. Jika kacang alternatif hanya tersedia dalam jumlah kecil, harganya tidak kompetitif, atau pasokannya tidak konsisten, perajin tempe akan kesulitan mengadopsinya.
Pemerintah perlu mendorong kemitraan antara petani, kelompok usaha, perajin tempe, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah. Pengembangan kacang lokal harus disertai pemetaan kesesuaian lahan, penyediaan benih bermutu, pendampingan budidaya, jaminan penyerapan hasil panen, serta pengembangan pasar.
Langkah berikutnya adalah membangun proyek percontohan di daerah yang memiliki potensi produksi kacang-kacangan. Perajin dapat menguji formulasi tempe berbahan kacang lokal, sementara peneliti membantu mengoptimalkan fermentasi dan mengevaluasi mutu produk. Pemerintah daerah dapat memfasilitasi promosi dan mempertemukan produsen dengan konsumen maupun pelaku usaha pangan.
Namun, satu hal perlu diperhatikan: kacang lokal tidak otomatis lebih murah daripada kedelai impor. Harga benih, produktivitas, biaya pengolahan, ketersediaan bahan baku, dan skala produksi akan menentukan daya saingnya. Karena itu, kelayakan ekonomi harus dihitung secara terbuka, bukan diasumsikan sejak awal.
Ketahanan Pangan Dimulai dari Keberagaman
Tempe nonkedelai memang tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan ketergantungan pangan Indonesia. Kedelai tetap dibutuhkan oleh berbagai industri, dan peningkatan produksi dalam negeri tetap memerlukan dukungan kebijakan yang konsisten. Akan tetapi, diversifikasi dapat menjadi salah satu cara untuk membangun sistem pangan yang lebih tangguh.
Kita perlu mengubah cara pandang terhadap kacang-kacangan lokal. Bahan pangan tersebut bukan sekadar komoditas tradisional yang kurang populer, melainkan sumber daya yang dapat dikembangkan melalui inovasi teknologi, peningkatan mutu, dan penciptaan pasar.
Pada akhirnya, ketahanan pangan tidak cukup diukur dari banyaknya bahan pangan yang tersedia di pasar. Ketahanan juga ditentukan oleh kemampuan masyarakat memproduksi, mengolah, dan memperoleh pangan dari sumber yang beragam serta berkelanjutan.
Tempe telah membuktikan bahwa fermentasi dapat mengubah kacang menjadi pangan bernilai tinggi. Kini, tantangannya adalah memperluas kemungkinan itu. Indonesia tidak harus memilih antara meningkatkan produksi kedelai dan mengembangkan kacang lokal. Keduanya dapat berjalan beriringan.
Sebab, ketika tempe memiliki lebih banyak pilihan bahan baku, petani memperoleh peluang usaha baru, dan konsumen mendapatkan pilihan pangan yang terjangkau, diversifikasi tidak lagi sekadar wacana. Ia menjadi langkah konkret menuju ketahanan pangan yang lebih mandiri.