Oleh: Haslinda (Warga di Sudut Makassar)
KabarMakassar.com -- “Pak Doktor, sumpah, ini hujan awal yang paling membahagiakan sejak saya jadi pemudi.”
Demikianlah sapaan saya pagi hari ini yang bertapatan dengan momen Sumpah Pemuda. Saya harus bagikan kebahagiaan saya di minggu ini, yang akhirnya bisa menikmati hujan pertama di Kota Makassar.
Setelah berbulan-bulan lamanya menunggu langit menumpahkan airnya, hujan yang datang kali ini terasa seperti tamu istimewa yang sudah lama dinantikan.
Apalagi kalau selama ini kita lebih akrab dengan panas matahari yang kadang membuat kepala terasa seperti sedang dijemur sambil mengomel "bambangna alloa deh" %.
“Alhamdulillah, akhirnya hujan juga. Sudah lama sekali kami menunggunya,” kata saya dengan nada penuh syukur.
Teman eks tetangga saya ini pun ikut senang mendengarnya. Sebab hujan kali ini memang bukan sekadar air yang jatuh dari langit. Ada rasa sejuk, ada harapan, ada sedikit kebahagiaan yang datang bersama suara tetesan air di atap rumah.
Apalagi bagi warga Makassar yang beberapa waktu terakhir lebih sering berhadapan dengan cuaca panas dan terik daripada hujan.
“Pak Doktor, hujannya tidak begitu derasji. Tapi Makassar langsung banjir.” sambil saya tertawa kecil.
Bukan karena banjirnya, tentu saja. Tetapi karena situasi ini terasa seperti sebuah lelucon yang sudah terlalu sering dipentaskan, sampai-sampai tak sedikit warga yang hafal alur ceritanya.
Hujan baru sekitar satu jam, beberapa ruas jalan sudah tergenang. Di sekitar Pettarani, misalnya, airnya langsung naik. Sejengkal kapang. Kendaraan mulai melambat, pengendara mencari jalan alternatif, dan warga kembali sibuk menyesuaikan diri dengan genangan yang seolah-olah sudah menjadi bagian dari kalender musim hujan di Kota Makassar.
“Padahal, Pak Doktor, hujannya tidak lama. Baru juga kita bahagia, eh, langsung banjir.”
Saya kembali chat dengan berkali-kali enter, "mungkin memang begitulah nasib hujan di Makassar, datangnya dirindukan, tetapi begitu datang dengan deras, eeeh.. kita malah sibuk mencari tempat yang lebih tinggi.
Yang lebih lucu lagi, begitu hujan berhenti, udara kembali panas. Seolah-olah hujan tadi hanya mampir sebentar untuk memberi salam, lalu pergi tanpa meninggalkan kesan. Kalau bukan karena genangan di jalan, mungkin kita akan mengira hujan tadi hanya sebuah notifikasi cuaca yang salah kirim.
“Kalau tidak banjir, mungkin tidak ada jejaknya hujan tadi, Pak Doktor.”
Kalimat itu membuat teman chat WA saya ini berpikir. Hujan yang seharusnya membawa kesejukan justru meninggalkan persoalan.
Bahkan, kalau bukan karena genangan dan kemacetan, mungkin kita tidak akan terlalu menyadari bahwa hujan tadi benar-benar turun.
Sebab hujan yang turun sesungguhnya bukan peristiwa yang datang tanpa penjelasan yang terang benderang. Air memiliki sifat dasar yang sangat sederhana: mengalir menuju tempat yang lebih rendah, kemudian meresap ke dalam tanah jika tersedia ruang dan kondisi yang memungkinkan.
Hujan juga itu bukan tamu yang datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan.
Kita sudah tahu bahwa musim hujan akan datang. Kita bisa mempelajari pola curah hujannya, memperkirakan intensitasnya, bahkan mempersiapkan berbagai kemungkinan yang menyertainya.
Dan biasanya, kalau banjir, PK5 disalahkan. Kalau jalan sempit, PK5 disalahkan. Kalau saluran tersumbat, PK5 kembali disalahkan.
Seolah-olah seluruh persoalan tata ruang, drainase, dan pengelolaan lingkungan kota bisa diselesaikan dengan memindahkan beberapa lapak dagangan.
Padahal, kalau kita serius ingin mengatasi banjir, mestinya kita mulai dengan memeriksa akar persoalannya.
Menyalahkan PK5 tanpa membenahi sistem drainase, kawasan resapan, dan tata kelola ruang kota itu ibarat mengobati penyakit bukan pada akarnya. Orang gatal, yang digaruk malah tempat lain.
“Lain gatal, lain digaruk, Pak Doktor,” sambil saya kirimkan sticker ketawa ngakak ke eks tetangga saya ini.
Dan kebetulan, minggu ini kita juga memperingati Hari Sumpah Pemuda pak Doktor, sambung saya
Sebuah peristiwa bersejarah yang selalu mengingatkan kita bahwa keberanian generasi muda itu tidak hanya terletak pada kemampuan mengucapkan sumpah, tetapi juga pada kesediaannya untuk ikut membangun masa depan bersama.
Barangkali, salah satu cara untuk menghormati semangat Sumpah Pemuda hari ini adalah dengan memastikan kota yang kita tinggali ini menjadi tempat yang lebih layak bagi generasi berikutnya. Kota yang tidak lagi membuat anak-anak harus belajar berenang di jalan raya setiap kali hujan turun.
Kota yang tidak membuat warga merasa bahwa menikmati hujan adalah sebuah keberanian yang selalu berisiko, seperti beresikonya keluar malam dari ancaman busur yang melayang dari arah yang tak terduga.
Sebab bagi saya pribadi, sumpah pemuda itu bukan sekadar mengenang tiga ikrar yang diucapkan hampir seabad lalu. Ia juga akan selalu menjadi pengingat bahwa sebuah bangsa harus memiliki keberanian untuk memperbaiki persoalan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Jadi, Pak Doktor, bagaimana menurutta? Hujan ini membahagiakan atau menyusahkan?”
Teman chat eks tetangga saya ini hanya membalas bahwa hujannya tentu tetap membahagiakan. Yang menyusahkan itu adalah ketika kita tahu hujan akan datang, tetapi kota kita tidak kunjung siap menyambutnya, sambil disertai motion tersenyum.
Dan pertanyaan saya sederhana saja: serius tidak ini pemerintah mau menyelesaikan masalah banjir?
Sebab, warga Makassar tidak meminta hujan berhenti. Mereka hanya ingin bisa menikmati hujan tanpa harus khawatir jalanan berubah menjadi sungai.
Sumpah, kita sudah terlalu lama merindukan hujan. Jangan sampai setiap kali hujan datang, yang ikut turun justru kesabaran warga.
Dan semoga suatu hari nanti, ketika hujan turun di Makassar, kita bisa benar-benar berkata: “Alhamdulillah, sudah turunmi hujan. Tlbisa maki tidur nyenyak malam ini.”
Selamat Hari Sumpah Pemuda.