Oleh: Airah Amir (Praktisi Kesehatan)
KabarMakassar.com - Beberapa hari terakhir, keluhan yang sama terdengar di antara warga kota. Siang menyengat diikuti listrik yang padam bergiliran. Aktivitas di luar ruangan terasa tidak nyaman. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sudah jauh hari mengingatkan, wilayah Sulawesi Selatan sedang dilanda cuaca panas, diselingi hujan sesekali yang membuat cuaca menjadi ekstrem, panas dan dingin bergantian di luar batas normal. Kita mengira ini hanyalah soal cuaca, padahal dampaknya langsung ke tubuh. Dan hari ini dampak itu menjadi berlipat karena satu faktor tambahan yaitu pemadaman listrik bergilir.
Perubahan iklim telah diakui sebagai ancaman kesehatan. Ikatan Dokter Anak Indonesia menegaskan, kelompok paling rentan adalah anak usia 0-18 tahun. World Health Organization mencatat tiga jalur dampak iklim terhadap kesehatan yaitu dampak langsung melalui perubahan ekosistem, dampak melalui perubahan perilaku manusia dan dampak akibat bencana alam terkait iklim. BMKG juga pernah mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari. BMKG mencatat konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 di Sulsel berada pada rentang 44,4-74,6 mikrogram permeter kubik. Kualitas udara pada titik tersebut berada pada kategori sedang hingga tidak sehat.
Imbauan ini tidak salah. Namun bagaimana jika di dalam ruangan pun sama panasnya karena listrik padam? Secara fisiologis, ketika tubuh terpapar cuaca panas, terjadi vasodilatasi pada pembuluh darah di kulit untuk membuang panas. Termoregulasi ini diatur oleh sistem saraf pusat di hipotalamus dan sumsum tulang serta sistem saraf perifer di kulit dan organ. Jika mekanisme ini berhasil maka panas terbuang. Jika gagal, muncullah penyakit akibat panas. Gejalanya bertingkat mulai dari yang ringan seperti heat edema atau bengkak pada kaki, heat rash atau biang keringat yang gatal, heat cramps atau kram otot karena kehilangan garam, dan heat syncope atau pingsan karena panas. Yang berat adalah heat stroke, suhu tubuh di atas 40 derajat, kesadaran menurun, dan dapat mengancam jiwa. Untuk mencegahnya, tubuh butuh cairan yang cukup dan bantuan lingkungan yang sejuk.
Di sinilah pemadaman bergilir mengubah segalanya. AC dan kipas angin adalah alat bantu utama tubuh untuk melakukan termoregulasi. Ketika listrik padam 4 sampai 6 jam di siang hari, bantuan itu hilang. Keringat tidak menguap dan mekanisme vasodilatasi tidak cukup. Anak yang seharusnya aman karena tidak beraktivitas di luar, justru mengalami heat rash dan heat cramps di dalam rumah. Lansia dengan hipertensi dan penyakit jantung bebannya meningkat dua kali lipat. Ibu hamil lebih cepat dehidrasi. Bayi rewel karena biang keringat dan risiko dehidrasi meningkat karena ASI perah yang disimpan di freezer mencair setelah 4 jam pemadaman.
Fenomena ini tidak lepas dari kondisi kota kita sendiri. Makassar dan kota besar lain di Indonesia mengalami pembangunan kawasan perkotaan yang pesat. Permukaan bumi didominasi perumahan, gedung bertingkat, dan pengaspalan jalan yang menyerap dan meradiasikan kembali sinar matahari dalam jumlah besar. Inilah yang disebut urban heat island atau pulau panas kota. Ditambah industri dan peningkatan jumlah kendaraan bermotor yang menyumbang karbondioksida dan menyebabkan efek rumah kaca, panas yang diradiasikan bumi terperangkap dan dikembalikan lagi ke permukaan.
Fakta deforestasi memperparah hal ini. Dalam 2 tahun terakhir penyebab lonjakan deforestasi berasal dari kebutuhan proyek berskala luas seperti energi, pangan, perkebunan hingga pertambangan. Faktanya rentang Januari hingga Oktober 2026, Indonesia telah kehilangan hutan 1.091.197 hektar.
Di sisi lain kita membangun kota yang menyerap panas, lalu ketika cuaca ekstrem datang, kita mematikan satu-satunya alat adaptasi yaitu listrik. Layanan kesehatan ikut terdampak. Puskesmas rawat inap, klinik bersalin, dan rumah dengan pasien yang menggunakan oksigen ikut lumpuh. Nebulizer untuk pasien asma tidak bisa dipakai, vaksin di cold chain terancam rusak dan persalinan harus mengandalkan senter. Obat seperti insulin dan ASI perah yang wajib dingin rusak tanpa terlihat. Tidur pun menjadi korban. Tidur tanpa kipas di malam yang pengap membuat tidur terfragmentasi. Daya konsentrasi mengalami penurunan keesokan harinya. Bagi sebagian orang ini meningkatkan risiko kecelakaan dan menurunkan imunitas.
Pemerintah dan PLN harus mengelola pemadaman bergilir dengan kacamata kesehatan. Dibutuhkan sistem peringatan dini cuaca ekstrem dan pemadaman berbasis digital di tingkat kelurahan. Perbaikan lingkungan untuk mencegah efek cuaca ekstrem memang butuh waktu lama. Tetapi menjaga agar listrik tetap menyala di tengah cuaca ekstrem adalah mitigasi bencana yang bisa kita lakukan hari ini. Karena ketika cuaca ekstrem dan pemadaman bergilir terjadi bersamaan, yang padam bukan hanya lampu, melainkan mekanisme tubuh kita sendiri untuk bertahan hidup.
Malangnya dalam sistem kapitalisme hari ini regulasi diatas sangat sulit untuk ditemukan. Negara hanya berperan sebagai regulator. Layanan publik seperti listrik yang seharusnya menjadi hak masyarakat sering kali diperlakukan layaknya komoditas ekonomi yang harus menghasilkan keuntungan. Kondisi inilah yang membuat masyarakat tidak mendapat haknya dengan baik dan akhirnya kesehatan pun ikut menjadi taruhan. Wallahu a’lam.