Langsung ke konten
Opini Publik

OPINI: Selamat Hari Listrik Nasional, Brother! Kami Masih Menunggu Terang

Hari Listrik Nasional 2026 menjadi refleksi warga Makassar tentang pemadaman listrik berulang, kelangkaan solar, dan pentingnya pelayanan publik yang andal.

ardiyanti Diperbarui
Haslinda (Warga Sudut Kota Makassar)
Haslinda (Warga Sudut Kota Makassar)

Oleh: Haslinda (Warga Sudut Kota Makassar)

KabarMakassar.com -- Hi Brother, bagaimana kabarmu di kota orang? Semoga sehat-sehat saja, urusan kuliah lancar, dan yang paling penting, listrik di tempatmu tidak sedang ikut-ikutan merayakan Hari Listrik Nasional dengan cara memadamkan dirinya sendiri. 

Demikian percakapan awal saya dengan sahabat kecil saya, dari mengaji, remaja masjid hingga sempat menjadi mahasiswa saya satu semester di salah satu kampus swasta.

Meskipun reputasi akademiknya sedikit berada di depan saya, tapi tak banyak sikap yang berubah darinya, WA di dini hari, pagi hari, di sore hari, tak terikat waktu, yang penting silaturahmi jalan, sambil ngajak ngakak menertawai banyak hal.

Saya bercerita kepadanya bahwa di Makassar, hari ini, 27 Oktober, sambil memperingati Hari Listrik Nasional. Sebuah hari yang mestinya dirayakan dengan penuh terang, semangat, dan optimisme.

Tetapi, entahlah guman saya, di kota ini, perayaan Hari Listrik Nasional kadang terasa seperti perayaan ulang tahun seseorang yang justru tidak hadir di pestanya sendiri, kocak bukan?

Saya lalu menceritakan situasi bahwa di rumah saya, alhamdulillah, hari ini tidak mati lampu. Kemarin jie dengan logak khas Makassar saya, dari pukul 14.00 sampai 17.00, listrik padam. Tiga jam saja. Tidak terlalu lama memang. 

Cukup untuk membuat pekerjaan tertunda, handphone bertahan pada mode "hemat daya", dan kipas angin berhenti berputar, sambil mulai bertanya-tanya, apakah hidup ini memang harus selalu diselingi ujian kesabaran.

Tadi sore, hujan perdana turun sampai menjelang Magrib. Alhamdulillah sahabat saya menimpali. Hujan yang sudah lama ditunggu-tunggu. Tetapi, di Makassar, kami  kadang punya hubungan yang agak rumit dengan cuaca. 

Hujan datang membawa harapan, sekaligus sedikit kecemasan. Jangan-jangan hujan, jangan-jangan listrik padam. Jangan-jangan listrik padam, jangan-jangan hujan. Kita seperti sedang bermain tebak-tebakan dengan alam dan infrastruktur. 

Sahabat saya tertawa ngakak, ikat saat dulu sering main tebak-tebakan di pekarangan masjid tempat kami mengaji bersama.

Yang lebih menarik brother, pemadaman listrik di Makassar belakangan ini terasa seperti sedang mengikuti sistem pemerataan. Kemarin, pagi di Sudiang. Siang sekitar Talasalapang. Begitu Talasalapang menyala, giliran Alauddin yang padam. 

Entah bagaimana mekanisme pembagiannya. Mungkin ada rapat khusus yang membahas wilayah mana yang mendapat jatah gelap hari ini. Kawan saya sambil ngakak minta saya pindah ke kawasan Citraland, perumahan elit yang sampe sekarang menjadi salah satu impian saya yang belum terwujud.

Curhat sosial saya lanjutkan, bayangkan brother, kita hidup di zaman ketika manusia sudah bisa memesan makanan lewat aplikasi, mengirim uang dalam hitungan detik, bekerja dari mana saja, bahkan berdiskusi dengan orang di luar kota sambil duduk di teras rumah. 

Tetapi, untuk memastikan lampu rumah tetap menyala, kadang kita masih harus menunggu dengan penuh harap. Lucu, bukan? Lucu kata sahabat saya, selucu muka culung kami saat pengen nangis ketika rotan kecil guru ngaji kami nyatis mendarat di tangan gara-gara lupa huruf hijaiyahnya.

Oh iya bro, saya ini tidak sedang mengeluh soal tiga jam pemadaman kemarin. Kalau memang ada gangguan teknis, pemeliharaan jaringan, atau persoalan lain yang harus diselesaikan, yah tentu kita bisa memahaminya, it's ok, namanya juga pelayanan publik, pasti ada-ada saja tantangannya.

Tetapi yang membuat masyarakat kecil seperti saya ini jadi gelisah adalah ketika gangguan itu datang berulang, sementara penjelasan yang diterima terasa tidak cukup menjawab keresahan.

"ah... Situ mah resah terus dari dulu, doi saja mau datang berkunjung, kamu yang resah juga ngajak saya ikut-ikutan resah menghadapi doski kamu hingga jam berkunjug selesai" timpa sahabat saya.

Sebab, listrik bukan hanya soal lampu. Listrik itu urusan pekerjaan, pendidikan, usaha kecil, rumah tangga, dan kehidupan sehari-hari. Ketika listrik padam, yang ikut berhenti bukan cuma mesin. Kadang, penghasilan orang juga ikut berhenti.

Dan di tengah situasi seperti itu, beberapa hari terakhir, kita kembali mendengar soal kelangkaan solar. Antrean panjang di SPBU mulai terlihat lagi.

Sobat, ini yang kadang membuat saya berpikir, ada apa dengan negeriku?
Pertanyaan itu sebenarnya sederhana, akan tetapi, kalau terlalu jauh untuk memikirkannya, bisa berbahaya juga kha  ke saya.

Jujur saja teman, beberapa hari ini pikiranku mulai ke mana-mana. Apalagi setelah berinteraksi dengan sejumlah pengusaha dan pengambil kebijakan. Ada banyak hal yang saya dengar, ada banyak hal yang saya amati, dan ada banyak hal yang akhirnya saya simpulkan sendiri.

Kadang, pikiran ini mulai curiga.

 Jangan-jangan ada persoalan yang lebih besar di balik semua ini. Jangan-jangan ada kepentingan ekonomi-politik yang membuat sebagian pihak terus mencari keuntungan, sementara masyarakat menjadi pihak yang paling sering menanggung akibatnya.

Tetapi, tentu saja, itu baru kecurigaan. Belum ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa semua persoalan ini merupakan bagian dari konspirasi pemerintah dan oligarki.

Saya juga tetap sadari, bahwa kecurigaan yang tidak disertai bukti bisa berubah menjadi opini negatif yang merugikan banyak orang. 

Jangan sampai kita terlalu bersemangat menyusun teori, tetapi lupa memeriksa fakta, khan nggak fair jadinya.

Lagi pula, saya ini cuma warga biasa di sutu gang di Makassar yang sedang mencoba memahami keadaan. Bukan ahli konspirasi, bukan pengamat yang punya akses ke ruang-ruang rahasia, apalagi orang yang bisa memastikan apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik layar. 

Kalau terlalu banyak bicara, nanti malah dianggap tahu terlalu banyak pusing, khan nggak enak dikatai oleh tetangga "oeee... sibuk", sebuah istilah populer di masa lalu saat kami saat masih SMA kala itu.

Atau jangan-jangan, brother, kalau saya terus terang menyampaikan isi kepala, bukan hanya listrik yang padam, tetapi saya juga ikut menghilang.

Hehehe... ini bercanda, tentu saja. Semoga negara kita masih cukup terang untuk menampung orang-orang yang bertanya.

Saat waktu jelang isya, kami menutup diskusi ringan ini dengan kesimpulan awal, bahwa rakyat kecil seperti kami ini tidak  meminta listrik yang tidak pernah padam sepanjang waktu. 

Rakyat kacil seperti kami ini  hanya ingin pelayanan yang bisa diandalkan, informasi yang jelas, dan pemerintah serta penyedia layanan yang tidak menganggap gangguan berulang sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. 

Karena  kalau gelap terus-menerus sudah dianggap biasa, lama-lama kita bisa lupa bahwa terang itu sebenarnya hak yang harus diperjuangkan. Gokil khan!!

Selamat Hari Listrik Nasional, Brotherku di Kampung orang!.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua