Oleh: Rina Marlang (Akademisi)
KabarMakassar.com - Manusia adalah makhluk sosial yang terlahir dengan dua dimensi, yaitu jiwa dan raga. Keduanya saling menopang agar manusia dapat menjalani kehidupan sesuai fitrahnya—terlahir dalam keadaan bersih, suci, penuh semangat, serta mampu merasakan tangis dan tawa.
Seiring berjalannya waktu, manusia yang dalam bentuk person atau telah menjadi individu ini kemudian bertumbuh, bersosialisasi dengan alam, serta mengenal lingkungan dan kodratnya. Oleh karena itu, kita mesti ingat, bahwa ada satu aspek penting yang harus dijaga selain raga, yaitu jiwa (kesehatan mental). Sering kali kita terlalu fokus merawat fisik hingga lupa bahwa ada dimensi kehidupan lain yang sangat menentukan kesejahteraan kita.
Orang-orang terdahulu sangat pandai merawat mental mereka karena mereka tahu bahwa ketenangan jiwa adalah kunci utama kesehatan. Hal ini selaras dengan nasihat medis agar kita menghindari stres. Ketika seseorang sakit, dokter biasanya berpesan untuk tidak panik, tetap tenang, dan bersemangat.
Anjuran tersebut sangat berpengaruh pada otak untuk memerintahkan sel-sel tubuh agar rileks. Banyak hal positif yang bisa diciptakan hanya dengan merawat jiwa, seperti melakukan obrolan ringan yang mencairkan suasana dan membuat kita tertawa, sehingga sel-sel tubuh turut rileks di tengah berbagai tekanan penyakit.
Saat ini, rutinitas sering kali dipenuhi oleh target pekerjaan yang menuntut otak bekerja secara maksimal, membuat jiwa seolah-olah terus mengejar tenggat waktu tanpa diimbangi interaksi sosial yang santai. Pola hidup seperti inilah yang memicu tingkat stres melambung tinggi. Sebagai perbandingan, kita bisa melihat sebuah desa kecil di Jepang di mana penduduknya memiliki tingkat kesehatan di atas rata-rata masyarakat perkotaan di sana.
Hal yang membedakan adalah cara mereka menjalani hidup. Penduduk desa tersebut selalu memulai hari dengan harapan positif dan fokus mempersiapkan diri untuk keluarga tercinta di pagi hari, tanpa langsung memikirkan beban pekerjaan. Mereka kemudian berangkat kerja sambil mengobrol santai dan tertawa, serta menikmati waktu makan bersama secara sederhana. Dampak dari rutinitas sederhana ini luar biasa: mereka tampak lebih tenang, terhindar dari stres, memiliki mental yang sehat, dan pada akhirnya berimbas pada fisik yang lebih bugar dibandingkan masyarakat metropolitan yang dikelilingi tempat hiburan modern seperti diskotik, bar, dan pusat kebugaran trendi.
Di lain sisi, banyak hal di era modern yang memicu stres pada otak, mulai dari pemberitaan media yang mencemaskan hingga kondisi sosial-politik yang membuat kita khawatir sebagai rakyat. Hal ini mengingatkan saya pada pesan seorang kerabat: "Jangan suka menonton berita karena bisa memicu stres dan kejengkelan. Matikan saja TV-nya agar tidak mengganggu otak dan berimbas pada mentalmu."
Hal-hal kecil seperti ini kerap membebani pikiran hingga akhirnya berdampak buruk pada tubuh.
Lantas, apa yang harus kita lakukan? Tidak salah jika kita memulai dari langkah-langkah kecil berdampak dan bermanfaat yakni:
Pertama, awali hari dengan positif. Sambut pagi dengan semangat dan harapan baik. Kedua, kurangi informasi negatif: Jauhkan diri dari paparan berita yang tidak berguna. Ketiga, bangun interaksi yang menyenangkan. Lakukan obrolan ringan setiap hari tanpa membahas kondisi negara, masalah keuangan, atau tugas kantor. Ciptakan gelak tawa karena jiwa dan raga kita tidak harus menanggung beban permasalahan dunia. Keempat, perbanyak doa dan atur pernapasan. Relaksasi sederhana ini menjadi nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh.
Jika Anda merasa lelah menghadapi keadaan, berikan afirmasi positif pada diri sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Biarkan otak beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk informasi dunia luar.
Mari kita mulai merawat mental dan fokus pada yg kebahagiaan yang bisa kita ciptakan sendiri dari dalam pikiran.
Salam sehat!