Oleh: Sitti Nurliani Khanazahrah (Penulis, Dosen dan Pegiat Filsafat)
KabarMakassar.com - Pukul sembilan malam di sebuah warung kopi dekat anjungan Pantai Losari, angin laut beraroma garam berembus pelan, bergesekan dengan deru knalpot dan gelak tawa orang-orang yang berbagi meja. Di tengah keramaian itu, seorang pemuda menunduk dalam senyap. Wajahnya disiram cahaya kebiruan dari layar ponsel di genggamannya.
Di dalam kotak kaca berukuran lima inci itu, dunia bergerak dengan kecepatan cahaya. Kawan sebayanya memamerkan amplop penerimaan beasiswa Eropa, rekreasi mewah di tebing Bali, serta tumpukan pencapaian yang dibungkus dalam senyuman hangat. Tanpa ia sadari, keramaian di sekelilingnya mendadak lenyap, menyisakan satu suara bising di dalam kepalanya yang terus berbisik bahwa hidupnya sendiri sedang berjalan di tempat.
Adegan komposit di atas menggambarkan fenomena keseharian yang lazim ditemui di ruang-ruang publik perkotaan. Anak muda tersebut tidak sedang mencari informasi spesifik, ia hanya sedang menggulir layar. Tetapi setelah sekian lama, muncul perasaan yang sulit dijelaskan. Hidupnya sendiri terasa berjalan terlalu lambat. Pencapaiannya tampak kecil, rencana-rencananya terasa tertinggal, bahkan masa depan yang sebelumnya masih terbuka perlahan berubah menjadi sumber kecemasan.
Pengalaman semacam ini layak diperhatikan. Sebagian anak muda menjalani masa ketika pendidikan dan pekerjaan, kemandirian dan ekonomi, relasi, serta gambaran tentang masa depan masih terus dinegosiasikan. Dan di tengah ketidakpastian itu, media sosial menghadirkan kehidupan orang lain dalam jumlah yang nyaris tidak terbatas. Setiap hari selalu ada seseorang yang tampak lebih berhasil, lebih bahagia, lebih menarik, atau lebih cepat mencapai sesuatu.
Kita perlu berhati-hati sebelum menyebutnya sebagai penyakit baru seluruh generasi. Kecemasan memiliki banyak sebab, dan tidak setiap orang yang menggunakan media sosial mengalami tekanan psikologis. Meski demikian, ada persoalan yang patut diuji, yaitu bagaimana paparan terus-menerus terhadap kehidupan orang lain memengaruhi cara seseorang memahami nilai dirinya sendiri. Kecemasan yang berkaitan dengan penggunaan media sosial sering dijelaskan melalui Fear of Missing Out atau FoMO, yaitu kekhawatiran bahwa orang lain sedang mengalami sesuatu yang penting sementara diri sendiri tertinggal.
Perbandingan sosial juga berperan ketika seseorang menilai kehidupannya dengan menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran. Penelitian Fathul Jannah dan Thalitha Sacharissa Rosyiidiani pada tahun 2022 mengenai hubungan antara FoMO dan kecenderungan adiksi media sosial pada remaja di Cirendeu memberi gambaran awal tentang bagaimana kecemasan tertinggal informasi berkaitan dengan intensitas penggunaan linimasa. Tetapi, temuan pada sampel spesifik tersebut tidak serta-merta dapat digeneralisasikan untuk menyimpulkan bahwa seluruh anak muda di berbagai daerah mengalami gejala yang persis sama.
Penjelasan psikologis mengenai perbandingan sosial memang penting, tetapi tidak cukup berdiri sendiri. Ketika seseorang berulang kali melihat pencapaian orang lain, maka ia dapat mulai membandingkan kehidupan sehari-harinya dengan gambaran yang dianggap lebih unggul. Akan tetapi, persoalannya tidak hanya pada kemampuan individu mengendalikan diri, sebab kita juga perlu memeriksa lingkungan digital yang mengatur apa yang muncul di layar dan seberapa sering seseorang terpapar, serta bagaimana perhatian pengguna dipertahankan.
Platform digital beroperasi dalam kerangka ekonomi perhatian. Perhatian pengguna memiliki nilai komersial, sementara sistem rekomendasi berupaya menyajikan konten yang diperkirakan akan membuat mereka terus berinteraksi. Konten yang membangkitkan emosi kuat dapat memperoleh perhatian besar, meskipun tidak semua konten emosional selalu lebih dominan atau selalu menimbulkan dampak negatif. Karena itu, tidak tepat mengatakan bahwa algoritma secara sengaja merancang kecemasan setiap pengguna. Klaim yang lebih masuk akal adalah bahwa sistem yang mengutamakan keterlibatan dapat memperpanjang paparan terhadap materi yang memancing rasa ingin tahu, perbandingan, kemarahan, atau kekhawatiran.
Perbedaan ini penting karena menggeser pertanyaan dari tuduhan bahwa teknologi pasti merusak manusia menuju pemeriksaan tentang insentif struktural yang membentuk cara teknologi dalam bekerja. Individu memang memiliki tanggung jawab atas kebiasaannya, tetapi kebiasaan itu tumbuh dalam lingkungan teknologis yang tidak sepenuhnya ia kendalikan.
Dalam karyanya yang berjudul The Burnout Society, Byung-Chul Han, filsuf Korea-Jerman ini menggambarkan pergeseran dari masyarakat disiplin menuju masyarakat pencapaian atau achievement society, ketika manusia semakin terdorong untuk terus meningkatkan kemampuan, produktivitas, serta prestasinya. Tekanan tidak lagi selalu datang dalam bentuk perintah eksternal dari atasan atau larangan dari institusi, tetapi hadir dalam bentuk dorongan yang diinternalisasi, yaitu keinginan dari dalam diri untuk terus berkembang, memaksimalkan potensi, serta membuktikan bahwa hidupnya tidak berjalan sia-sia.
Dorongan untuk berkembang tentu saja tidak dengan sendirinya bermasalah karena pendidikan dan kerja keras, serta pencapaian memang dapat membuka kesempatan yang nyata. Yang menjadi persoalan adalah ketika tuntutan untuk terus maju berubah menjadi ukuran tunggal bagi harga diri. Seseorang mulai merasa bahwa beristirahat berarti tertinggal, kegagalan berarti kurang berusaha, bahkan kehidupan yang belum menghasilkan sesuatu yang dapat dipamerkan adalah kehidupan yang kurang bernilai.
Media sosial turut memperkuat tekanan masyarakat pencapaian ini karena ia menyediakan panggung yang terus tersedia bagi pameran performa di TikTok dan Instagram. Keberhasilan dapat diunggah, dibagikan, dihitung melalui akumulasi tanggapan, serta dibandingkan dengan pencapaian orang lain. Dalam keadaan demikian, manusia bukan hanya bekerja untuk mencapai sesuatu, tetapi ia juga dapat merasa perlu memperlihatkan bahwa dirinya sedang mencapai sesuatu.
Dalam hal ini, gagasan Han tentang eksploitasi diri atau self-exploitation menjadi relevan. Individu dapat menjalankan tuntutan produktivitas terhadap dirinya sendiri secara sukarela, bahkan ketika tidak ada pihak yang secara langsung memerintahkannya. Tetapi penerapan gagasan Han ini perlu dibatasi secara cermat. Tentu tidak setiap usaha menampilkan pencapaian berarti seseorang telah kehilangan kebebasannya, dan tekanan eksternal seperti tuntutan ekonomi keluarga atau krisis lapangan kerja tetap ada secara nyata. Konsep Han berfungsi sebagai lensa untuk mengenali pola tekanan batin modern, dan bukan sebagai vonis mutlak yang berlaku bagi seluruh pengguna media sosial.
Persoalan berikutnya menyangkut bagaimana representasi digital di platform seperti TikTok dan Instagram memengaruhi persepsi kita atas kenyataan. Melalui lensa konsep simulakra dan hiperrealitas Jean Baudrillard, kita dapat mempertanyakan bagaimana representasi visual di media sosial dapat memperoleh kedudukan yang lebih kuat daripada kenyataan yang direpresentasikannya. Kehidupan yang hadir di layar bukan keseluruhan kehidupan seseorang, tetapi pilihan terkurasi dari apa yang hendak ditampilkan dan dibagikan.
Foto perjalanan tidak memperlihatkan kelelahan atau ketidakpastian di balik perjalanan tersebut, serta unggahan keberhasilan jarang menyertakan rentetan kegagalan yang mendahuluinya. Citra digital tersebut tidak mesti berarti kepalsuan total, tetapi sebuah representasi selektif yang keterbatasannya kerap kita lupakan. Ketika seseorang membandingkan seluruh kerumitan hidupnya yang nyata dengan potongan terbaik kehidupan orang lain di layar, maka perbandingannya sejak awal tidak setara. Dari sini, kehidupan riil yang sebenarnya cukup bermakna dapat terasa kurang memadai hanya karena tidak menyerupai gambaran hiperrealitas yang berulang kali muncul di linimasa.
Dalam hal ini, kita perlu mengakui secara jujur bahwa media sosial juga memiliki manfaat material yang nyata. Anak muda di Makassar dan berbagai kota lainnya dapat menemukan informasi beasiswa, pelaku usaha kecil dapat menjangkau konsumen, serta komunitas warga dapat menggalang solidaritas sosial. Media sosial menyediakan ruang bagi orang-orang yang sebelumnya sulit memperoleh akses terhadap perhatian publik. Karena itu, menganggap seluruh kehidupan digital sebagai ilusi yang merusak akan mengabaikan kesempatan nyata yang dihadirkannya.
Media sosial menjadi sarana yang memberdayakan ketika ia dipergunakan sebagai alat kerja, jejaring belajar, serta penghubung sosial yang konkret. Tetapi ia bergeser menjadi sumber tekanan psikologis ketika fungsi praktis tersebut tergerus oleh dorongan perbandingan sosial tanpa henti, dan ketika ukuran keberhasilan digital mengambil alih cara seseorang menilai harga dirinya. Nasihat agar pengguna sekadar mengatur waktu layar memang berguna, tetapi sering kali tidak cukup untuk mengatasi tekanan ini. Kecemasan seorang anak muda di era TikTok dan Instagram tidak hanya bersumber dari gawai, tetapi berkaitan pula dengan ketidakpastian pekerjaan, biaya hidup, tuntutan keluarga, serta terbatasnya kesempatan.
Pemikiran Søren Kierkegaard memberi sudut pandang lain mengenai kerentanan ini. Dalam pembahasannya tentang kecemasan, Kierkegaard menghubungkannya dengan kemungkinan dan kebebasan manusia, atau yang ia sebut sebagai pusingnya kebebasan atau dizziness of freedom.
Menerapkan kerangka Kierkegaard ini pada era digital membantu kita melihat bagaimana kemungkinan-kemungkinan hidup hadir secara visual dalam jumlah yang serba melimpah di linimasa. Seseorang melihat teman yang menjadi pengusaha, orang lain yang menempuh pendidikan tinggi di luar negeri, serta orang lain lagi yang bekerja sambil mengelilingi dunia. Semua pilihan itu dapat menginspirasi. Tetapi ketika setiap kemungkinan yang tampak di layar diperlakukan sebagai standar yang harus diwujudkan, maka kebebasan berubah menjadi beban. Pemaparan visual ini dapat memicu kelumpuhan keputusan, di mana seseorang tidak lagi bertanya apa yang sungguh-sungguh penting baginya, tetapi terus-menerus merasa ragu apakah pilihan hidupnya saat ini sudah cukup baik dibandingkan kehidupan orang lain.
Kendati demikian, kecemasan tidak dapat dirujukkan secara eksklusif pada kelimpahan pilihan visual semata. Kondisi ekonomi, dukungan sosial, serta kesempatan riil ikut menentukan bagaimana seseorang menghadapi masa depannya. Bagi seorang anak muda yang harus menopang ekonomi keluarga, kegelisahan tentang pekerjaan lahir dari tuntutan hidup yang konkret, bukan semata-mata akibat melihat unggahan teman sebayanya. Analisis filosofis membantu kita memahami kerangka batin manusia, tetapi tidak boleh mengabaikan realitas sosial dan material yang membentuknya.
Upaya merebut kembali ketenangan batin tidak harus diartikan sebagai penolakan total terhadap teknologi. Langkah awal dapat dimulai dengan mengevaluasi hubungan kita dengan gawai, yaitu kapan penggunaan media sosial membantu kita memahami dunia? Kapan ia sekadar menjadi kebiasaan kompulsif yang melelahkan? Kapan kehidupan orang lain mulai kita jadikan tolok ukur untuk menghakimi diri sendiri?
Pertanyaan ini perlu kita bawa keluar dari layar ponsel menuju ruang hidup yang lebih luas. Apakah kota-kota kita, seperti Makassar, menyediakan ruang publik yang aman, inklusif, serta terjangkau bagi warga untuk bertemu dan membaca, atau sekadar beristirahat tanpa tuntutan komersial? Apakah lembaga pendidikan dan lingkungan keluarga memberi ruang bagi proses tumbuh yang tidak terus-menerus diukur dari capaian instan? Karena ketenangan batin memang membutuhkan kesadaran personal, tetapi ia juga membutuhkan lingkungan sosial yang memungkinkan manusia untuk hidup tanpa harus terus-menerus memamerkan nilainya kepada dunia.
Hemat saya, yang paling mendasar kita pulihkan adalah kemampuan untuk menilai kehidupan dengan ukuran yang lebih beragam dan membumi. Memahami bahwa ada pencapaian yang patut dirayakan, tetapi ada pula proses lambat yang tidak harus segera menghasilkan apa-apa. Ada masa untuk melangkah cepat, dan ada masa untuk mengakui keterbatasan diri. Kehidupan orang lain dapat menjadi sumber inspirasi, asalkan ia tidak berubah menjadi ruang pengadilan bagi kehidupan kita sendiri.