Oleh: Airah Amir (Dokter UGD RSUD Kota Makassar)
KabarMakassar.com - Penyebaran kasus HIV/AIDS di Makassar kian meresahkan. Berita terakhir, terdapat 445 kasus baru rentang periode Januari hingga Juli 2026. Sekitar 35 persen diantaranya adalah kelompok remaja usia 15-24 tahun. Jumlah total kasus pada periode ini di Sulsel adalah 963 kasus dengan kota Makassar menempati peringkat tertinggi, menyusul kabupaten Gowa, 74 kasus dan kota Palopo, 38 kasus.
Penyakit infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) disebabkan oleh virus RNA. Penularan utama penyakit ini umumnya melalui kontak seksual baik melalui hubungan sesama jenis maupun berbeda lawan jenis. HIV akan menyerang sistem kekebalan tubuh manusia sehingga pasien yang terinfeksi oleh kuman HIV ini akan mengalami berbagai infeksi opportunistik yang bisa menyebabkan kematian bagi penderitanya. Pasien dengan infeksi HIV dalam perjalanan penyakitnya bisa jatuh dalam kondisi Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS).
Kondisi pergaulan bebas sesama jenis atau lawan jenis, juga lebih kurang sama terjadi di banyak kota besar lainnya. Artinya dapat diprediksi kasus HIV pada remaja juga ditemukan di kota besar lainnya. Penularan pada remaja terutama adalah melalui hubungan seksual. Risiko bertambah besar Ketika perilaku berganti-ganti pasangan telah menjadi kebiasaan. Apalagi jika pasien telah mengidap infeksi menular seksual lainnya seperti sifilis, herpes, gonore, juga berisiko terinfeksi HIV karena adanya luka pada kelamin atau duburnya.
Masalah utama dalam penanggulangan AIDS adalah deteksi kasus baru yang rendah. Kemenkes pada tahun 2025 menyebutkan dari target 95 persen kasus terdeteksi baru sekitar 63 persen yang ditemukan. Yang artinya jika masih ada kasus baru yang belum ditemukan maka ini akan berdampak pada rantai penularan yang terus menerus terjadi di tengah masyarakat jika kasus yang belum terdeteksi tersebut melakukan kontak seksual dengan siapa saja. Begitu pula suami atau istri yang menderita HIV akan menularkan HIV pada istri atau suami. Demikian juga dengan Ibu penderita HIV bisa menularkan kepada anak yang dilahirkannya.
Bagi saya yang sehari-hari bekerja di UGD, kasus remaja yang terinfeksi ini cukup merisaukan. Beberapa pasien yang datang justru dengan keluhan umum, tidak khas dan berlangsung kronis, sampai pasien tersebut masuk dalam kondisi HIV/ AIDS. Sebagian pasien HIV ini telah berobat sebelumnya tetapi diagnosis HIV belum terpikirkan. Oleh karena itu perlu ada kejujuran dari pasien saat berobat ke dokter untuk menyampaikan bahwa ia memiliki risiko terinfeksi HIV.
Seringkali pula, diagnosis HIV justru muncul ketika pemeriksaan laboratorium untuk persiapan operasi, remaja dengan kehamilan yang tidak diinginkan, remaja dengan infeksi pada alat kelamin atau dubur dan keluhan lidah yang putih dalam jangka waktu lama yang sebenarnya mengarah pada jamur pada rongga mulut (candidiasis oral). Kadang pula disertai penurunan berat badan atau pada pasien TBC paru dengan risiko tinggi mengalami HIV/AIDS harus pula dievaluasi kemungkinan terinfeksi HIV.
Gejala lainnya adalah bagi pasien yang mengalami diare kronis maka perlu memikirkan bahwa HIV adalah penyebabnya. Perlu dipahami bahwa pasien dengan HIV bisa seperti orang sehat lainnya sampai ia mengalami AIDS dengan gejala klinis batuk kronis, diare berkepanjangan, timbul benjolan di leher dan kulit berwarna kehitaman.
Sehingga edukasi perlu terus menerus dilakukan karena bisa saja infeksi ini terjadi karena ketidaktahuan tentang cara penularan dan perilaku bebas yang telah menjadi pilihan banyak orang saat ini.
Faktanya, di beberapa kota besar, kasus HIV meningkat di kalangan remaja dan mahasiswa. Ini mengindikasikan bahwa edukasi seksual selama ini tidak menyentuh akar persoalan. Yang sering disampaikan hanya sekadar “gunakan pengaman”, bukan “hindari perilaku penyebabnya”. Padahal keduanya menghasilkan perilaku yang sangat berbeda.
Kondisi semakin meningkatnya kasus HIV/AIDS menunjukkan pentingnya pendekatan secara medis. Namun aspek moral dan pengaturan perilaku manusia tidak bisa diabaikan. Islam sejak awal memberi batasan yang jelas terkait hubungan seksual sebagai sesuatu yang hanya ditempatkan dalam bingkai pernikahan. Bukan untuk mengekang manusia, tetapi untuk menjaga kehormatan, kesehatan, serta kejelasan nasab.
Di saat data statistik menunjukkan peningkatan penularan lewat hubungan bebas, syariat Islam menawarkan pencegahan paling logis yaitu menutup pintu penyebab sebelum penyakit itu terjadi. Allah berfirman, “Janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32). Larangan “mendekati” ini bukan sekadar melarang hubungan terlarang, tetapi juga segala aktivitas yang mengantarkan ke sana.
Jika kita melihat dari sisi kesehatan masyarakat, ajaran ini selaras dengan prinsip pencegahan primer. Ketimbang menumpuk biaya terapi, edukasi perilaku adalah benteng paling kokoh. Sayangnya, ketika nilai-nilai ini disampaikan, sering dianggap kuno atau moralistik. Padahal justru kini kita mulai merasakan mahalnya mengabaikan nilai tersebut.
HIV/AIDS bukan sekadar penyakit, ia adalah indikator bahwa ada sesuatu yang salah dalam pola hidup masyarakat. Ketika angka infeksi meningkat, itu berarti perilaku berisiko ikut meningkat. Kita tidak bisa menyalahkan virus semata, sementara akar penyebab yaitu perilaku seksual bebas terbiarkan tanpa intervensi negara.
Maka solusi harus komprehensif. Pemeriksaan rutin, terapi ARV, konseling medis dan psikologis adalah bagian penting. Tetapi tanpa perbaikan moral dan sistem sosial, kasus tidak akan pernah menurun. Di sinilah Islam secara utuh memberi arah yang lebih komprehensif yaitu menjaga individu dari perilaku berbahaya. menjaga keluarga sebagai benteng moral, dan menjaga masyarakat dengan aturan yang mendorong terjaganya pergaulan.
HIV/AIDS bisa dikendalikan. Kita pun dapat melakukannya, tetapi dengan cara yang lebih mulia yaitu mengembalikan fungsi keluarga, memperkuat pendidikan adab bagi generasi dan menghadirkan aturan sosial yang selaras dengan nilai Islam.
Akhirnya kesehatan bukan hanya urusan tubuh. Ia adalah cermin peradaban. Dan peradaban yang sehat dibangun dari individu yang menjaga diri, keluarga yang saling menguatkan, serta masyarakat yang diatur oleh nilai Ilahi. Dalam itulah Islam menjadi solusi, bukan sekadar untuk mengobati penyakit tetapi untuk memutus rantai HIV/AIDS agar dapat mencegah generasi ini terperosok semakin dalam. Wallahu a’lam.