Oleh: Nur Faidah Munir
KabarMakassar.com -- Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) dikenal sebagai salah satu daerah penghasil jeruk pamelo di Sulawesi Selatan. Buahnya memiliki nilai ekonomi dan menjadi bagian dari potensi pertanian lokal. Namun, ada satu persoalan yang kerap luput dari perhatian ketika kita membicarakan kejayaan komoditas ini: ke mana perginya kulit jeruk setelah buahnya dikonsumsi atau diolah?
Pertanyaan tersebut mungkin terkesan sederhana. Padahal, di baliknya terdapat persoalan yang lebih besar tentang arah pembangunan pertanian, pengelolaan lingkungan, dan kesempatan ekonomi masyarakat. Selama keberhasilan komoditas hanya diukur dari produksi dan penjualan buah, potensi nilai tambah dari hasil sampingnya berisiko terus terabaikan.
Dari Hasil Samping Menjadi Sumber Daya
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa produksi jeruk besar atau pamelo pada 2024 mencapai sekitar 50.980,86 ton. Angka ini menggambarkan skala komoditas tersebut di tingkat provinsi, meskipun bukan khusus produksi Kabupaten Pangkep. Besarnya produksi layak menjadi alasan untuk menelaah lebih jauh bagaimana hasil sampingnya dikelola.
Kulit pamelo bukan material yang tidak berguna. Kajian ilmiah menunjukkan bahwa kulit buah ini mengandung berbagai komponen potensial, seperti pektin, serat pangan, minyak atsiri, flavonoid, dan senyawa bioaktif lainnya. Komponen tersebut membuka peluang pemanfaatan untuk bahan pangan, kosmetik, produk berbasis bahan alam, dan berbagai aplikasi industri.
Peluang ini seharusnya mengubah cara pandang kita. Kulit jeruk tidak semata-mata merupakan sisa konsumsi, tetapi dapat menjadi bahan baku sekunder yang memiliki nilai ekonomi. Meski demikian, potensi ilmiah tidak boleh langsung disamakan dengan keuntungan komersial. Setiap produk tetap membutuhkan pengujian mutu, keamanan, biaya produksi, dan kepastian pasar.
Jangan Berhenti Pada Slogan Zero Waste
Istilah zero waste semakin akrab dalam percakapan tentang keberlanjutan. Namun, mengumpulkan kulit jeruk, mengolahnya menjadi produk, lalu memamerkannya dalam kegiatan pelatihan belum cukup untuk disebut sebagai transformasi ekonomi sirkular.
Ekonomi sirkular menuntut sistem yang lebih utuh. Bahan baku harus tersedia secara konsisten, proses pengolahan harus efisien, produk harus memenuhi standar, dan hasilnya harus memiliki pembeli. Residu dari satu proses juga perlu dipertimbangkan pemanfaatan lanjutannya apabila layak dilakukan.
Kulit pamelo, misalnya, dapat diteliti untuk menghasilkan pektin sebagai bahan pembentuk gel dan penstabil pangan, minyak atsiri untuk aplikasi yang sesuai, atau serat untuk bahan pangan tertentu. Pilihan teknologi sebaiknya tidak ditentukan hanya karena terlihat inovatif, tetapi berdasarkan kebutuhan pasar, ketersediaan peralatan, kemampuan pelaku usaha, dan analisis kelayakan.
Inilah tantangan sesungguhnya: bukan sekadar membuat produk dari limbah, melainkan membangun rantai nilai yang dapat bertahan setelah program bantuan atau pendanaan penelitian berakhir.
Hilirisasi Harus Dimulai dari Kebutuhan Masyarakat
Pemerintah daerah perlu mengambil peran lebih strategis. Langkah pertama adalah memetakan volume kulit pamelo yang dihasilkan, lokasi sumbernya, pola musim panen, serta cara penanganan yang selama ini dilakukan. Tanpa data tersebut, sulit menentukan skala pengolahan yang realistis dan menghitung manfaat ekonominya.
Selanjutnya, pemerintah dapat mempertemukan kelompok tani, pelaku UMKM, koperasi, perguruan tinggi, dan calon pembeli. Fasilitas pengolahan bersama, pelatihan pengendalian mutu, pendampingan perizinan, serta akses pembiayaan dapat dikembangkan sesuai kebutuhan dan hasil kajian kelayakan.
Perguruan tinggi juga perlu melampaui pendekatan penelitian yang berhenti pada publikasi atau prototipe. Penelitian harus membantu menjawab pertanyaan praktis: berapa rendemen produk yang dihasilkan, berapa biaya pengolahannya, apakah kualitasnya konsisten, siapa pembelinya, dan bagaimana dampaknya terhadap pendapatan masyarakat?
Pada saat yang sama, petani dan UMKM tidak boleh sekadar ditempatkan sebagai pemasok bahan baku murah. Mereka perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan dan memperoleh manfaat yang adil dari nilai tambah yang tercipta. Hilirisasi yang baik bukan hanya menghasilkan produk baru, tetapi juga memperkuat posisi ekonomi masyarakat lokal.
Membuka Jalan Bagi Inovasi Yang Lebih Maju
Peluang pemanfaatan kulit pamelo bahkan dapat dikembangkan ke bidang bioteknologi dan material fungsional. Salah satunya adalah penelitian carbon dots, yaitu material karbon berukuran nano yang dapat memiliki sifat fluoresen dan berpotensi dikembangkan untuk sensor atau aplikasi kemasan cerdas.
Akan tetapi, inovasi seperti ini harus ditempatkan secara proporsional. Produk berbasis nanoteknologi memerlukan pengujian karakteristik, kinerja, keamanan, dan kelayakan ekonomi sebelum dapat dinyatakan siap diaplikasikan secara komersial. Penelitian lanjutan juga perlu membuktikan apakah proses tersebut benar-benar memberikan manfaat lingkungan dan nilai tambah dibandingkan pilihan pengolahan yang lebih sederhana.
Karena itu, strategi terbaik bukan mempertentangkan usaha kecil dengan teknologi tinggi, melainkan membangun tahapan hilirisasi. Produk yang relatif sederhana dan layak pasar dapat dikembangkan terlebih dahulu, sementara penelitian bernilai tinggi disiapkan melalui kolaborasi jangka panjang.
Mengukur Keberhasilan dari Nilai Yang Diciptakan
Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular Indonesia 2025–2045 memberikan landasan untuk memperkuat pemanfaatan sumber daya dan mengurangi limbah, termasuk pada sektor pangan. Tantangannya adalah menerjemahkan arah kebijakan tersebut menjadi tindakan konkret di tingkat daerah.
Pangkep dapat memulainya melalui proyek percontohan pemanfaatan kulit pamelo dengan indikator yang terukur: jumlah limbah yang berhasil dimanfaatkan, biaya dan pendapatan pengolahan, jumlah usaha yang bertahan, manfaat bagi petani, serta pengurangan beban lingkungan. Hasilnya harus dievaluasi sebelum program diperluas.
Pada akhirnya, kebanggaan terhadap jeruk pamelo tidak semestinya berhenti pada buah yang dipanen dan dijual. Keberhasilan pembangunan komoditas juga perlu dilihat dari kemampuan daerah memanfaatkan hasil sampingnya secara bertanggung jawab.
Kulit jeruk pamelo bukan otomatis menjadi sumber keuntungan. Namun, jika didukung data, teknologi yang tepat, kemitraan yang adil, dan pasar yang jelas, material yang selama ini kurang diperhatikan dapat membuka peluang ekonomi baru. Kini saatnya Pangkep bergerak dari sekadar menghasilkan komoditas menuju membangun ekosistem ekonomi sirkular yang memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.