Langsung ke konten
Opini Publik

OPINI: Krisis yang Berulang

Dosen Farmasi UMI Hamsinah Hasan menyoroti dampak karhutla terhadap kesehatan, lonjakan kasus ISPA, serta pentingnya peran tenaga farmasi dalam edukasi dan kesiapsiagaan kesehatan.

Nofisari Diperbarui
Hamsinah Hasan - Mahasiswa Program Doktor Ilmu Farmasi Universitas Indonesia dan Dosen Fakultas Farmasi UMI (Dok: Ist)
Hamsinah Hasan - Mahasiswa Program Doktor Ilmu Farmasi Universitas Indonesia dan Dosen Fakultas Farmasi UMI (Dok: Ist)

Oleh: Hamsinah Hasan (Mahasiswa Program Doktor Ilmu Farmasi Universitas Indonesia dan Dosen Fakultas Farmasi UMI)


KabarMakassar.com - Setiap tahun, ketika musim kemarau tiba, Indonesia kembali bergulat dengan persoalan yang sama: kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Tahun ini pun tidak berbeda. Hingga akhir Agustus 2026, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara nasional telah menembus 11,5 juta, naik 45 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Di tujuh provinsi yang paling terdampak asap, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan, tercatat lebih dari 50 ribu kasus ISPA kumulatif hanya dalam dua bulan. Di Pontianak, indeks kualitas udara sempat menyentuh angka 328, kategori "berbahaya." Lembaga riset Celios bahkan memperkirakan hingga 17,4 juta jiwa berpotensi terpapar ISPA akibat karhutla tahun ini.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Di baliknya ada anak-anak yang terpaksa belajar dari rumah karena sekolah diliburkan, lansia yang sesak napas tanpa akses cepat ke fasilitas kesehatan, dan tenaga kesehatan yang bekerja ekstra di tengah keterbatasan.

Sebagai akademisi sekaligus praktisi di bidang farmasi, saya melihat persoalan ini bukan sekadar bencana lingkungan musiman, melainkan krisis kesehatan masyarakat yang menuntut respons farmakologis dan edukatif yang lebih serius dan lebih antisipatif.

Asap kebakaran hutan mengandung campuran kompleks partikulat (PM2.5 dan PM10), karbon monoksida, hidrokarbon aromatik polisiklik, serta berbagai senyawa iritan lainnya. Partikel PM2.5, yang berdiameter kurang dari 2,5 mikron, menjadi perhatian utama karena mampu menembus jauh ke saluran pernapasan bawah, bahkan masuk ke aliran darah melalui alveoli paru-paru.

Dari sudut pandang farmakologi dan toksikologi, paparan partikulat ini memicu respons inflamasi sistemik. Stres oksidatif yang ditimbulkan dapat memperburuk kondisi penyakit pernapasan kronis seperti asma dan PPOK, meningkatkan risiko ISPA, serta berkontribusi pada gangguan kardiovaskular, termasuk peningkatan risiko hipertensi dan aritmia pada kelompok rentan. Data Kementerian Kesehatan sendiri mengonfirmasi bahwa paparan asap karhutla turut meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Kelompok yang paling berisiko adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis. Pada anak-anak, paparan berulang terhadap polusi udara akibat karhutla berpotensi mengganggu perkembangan fungsi paru yang masih berlangsung, sebuah dampak yang bisa dirasakan jauh melampaui musim kemarau itu sendiri.

Peran Farmasi yang Sering Terlewat

Dalam penanganan krisis kabut asap, peran tenaga farmasi kerap berada di pinggiran narasi, padahal sesungguhnya sentral. Apoteker adalah garda terdepan yang paling mudah diakses masyarakat, jauh sebelum mereka memutuskan ke dokter atau rumah sakit.
Ada beberapa area di mana kontribusi farmasi semestinya diperkuat.

Pertama, edukasi penggunaan masker yang tepat. Tidak semua masker setara dalam menyaring PM2.5. Masker kain biasa memberikan proteksi minimal, sementara masker N95 atau KN95 yang terpasang dengan benar jauh lebih efektif. Apoteker di apotek komunitas memiliki posisi strategis untuk mengedukasi hal teknis ini secara langsung kepada masyarakat.

Kedua, manajemen terapi untuk kelompok berisiko. Pasien asma dan PPOK memerlukan penyesuaian regimen terapi saat kualitas udara memburuk, termasuk ketersediaan bronkodilator kerja cepat dan edukasi tentang kapan harus mencari pertolongan medis lebih lanjut. Kemenkes sendiri telah menekankan pentingnya kesiapan stok obat asma dan oksigen di puskesmas serta rumah sakit di wilayah terdampak, sebuah langkah yang idealnya didukung farmasis dalam perencanaan dan distribusinya.

Ketiga, kewaspadaan terhadap swamedikasi yang keliru. Dalam kondisi kabut asap, lonjakan permintaan terhadap obat batuk, dekongestan, dan suplemen "penangkal polusi" sering kali tidak dibarengi pemahaman yang memadai tentang interaksi obat atau kontraindikasi, terutama pada lansia dengan polifarmasi.

Riset Formulasi: Celah yang Perlu Diisi

Sebagai peneliti yang berkecimpung dalam bidang formulasi dan sistem penghantaran obat, saya melihat ada ruang riset yang masih terbuka lebar: pengembangan sediaan farmasi yang lebih adaptif untuk kondisi darurat kualitas udara buruk. Ini mencakup formulasi topikal untuk mengatasi iritasi kulit dan mukosa akibat paparan asap, hingga inhaler atau nebulizer portabel yang lebih terjangkau untuk puskesmas di daerah terdampak.

Kolaborasi antara akademisi farmasi, industri, dan regulator (BPOM) semestinya tidak hanya hadir saat krisis berlangsung, tetapi menjadi bagian dari kesiapsiagaan jangka panjang, termasuk dalam penyusunan stok obat esensial di wilayah rawan karhutla, yang polanya, berdasarkan data bertahun-tahun, sebetulnya dapat diprediksi.

Krisis kabut asap sejatinya adalah persoalan yang dapat diantisipasi karena polanya berulang setiap tahun. Namun respons kita masih cenderung reaktif, seperti pembagian masker mendadak dan imbauan mengurangi aktivitas luar ruangan, tanpa strategi kesehatan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Lonjakan 45 persen kasus ISPA tahun ini dibanding tahun lalu seharusnya menjadi alarm bahwa pendekatan yang ada belum cukup.
Sudah saatnya tenaga farmasi dilibatkan lebih aktif dalam perencanaan kesiapsiagaan kesehatan daerah rawan karhutla, bukan hanya sebagai penyedia obat, tetapi sebagai mitra strategis dalam edukasi kesehatan masyarakat dan riset mitigasi dampak.

Persoalan karhutla tidak akan selesai hanya dengan pemadaman api, ia menuntut pendekatan lintas disiplin yang memperlakukan kesehatan masyarakat sebagai prioritas yang setara dengan pemulihan lingkungan.

Sebab panas karhutla itu tidak akan bisa diredakan dengan "paracetamol", apalagi jika efek panas api dan asapnya terus kambuh setiap tahun akibat pencegahan yang tak kunjung menjadikannya sebagai resep utama. Jangan sampai kita lebih rajin mengobati gejala daripada menyembuhkan akar persoalan, sesungguhnya pencegahan jauh lebih baik  sebelum api kembali kambuh setiap tahunnya.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua