Langsung ke konten
Opini Publik

OPINI: Karhutla, Ketika Kesehatan Manusia dan Keseimbangan Ekosistem Dipertaruhkan

Ayu Puspitasari mengulas dampak karhutla terhadap kesehatan manusia, keanekaragaman hayati, habitat satwa liar, dan keseimbangan ekosistem serta pentingnya pemulihan hutan.

Nofisari Diperbarui
Ayu Puspitasari. S.KM.M.Kes (Dok: Ist)
Ayu Puspitasari. S.KM.M.Kes (Dok: Ist)

Oleh: Ayu Puspitasari. S.KM.M.Kes

 

KabarMakassar.com - Setiap kali kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi, perhatian publik biasaya tertuju pada luas lahan yang terbakar, jumlah titik panas (hotspot), dan upaya memadamkan kobaran api. Namun, ada persoalan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan masyarakat yaitu udara yang mereka hirup, kesehatan yang terancam, dan kemampuan negara melindungi warga dan ekosistem dari dampak kebakaran.

Pada 2026, persoalan ini kembali terlihat di berbagai wilayah Indonesia. Data dari Kementerian Kehuatanan menunjukkan bahwa luas karhutla nasional selama januari-juni 2026 mencapai 107.465,47 hektare. Sementara itu, dikuti dari tirto id, total hotspot 2026 yang masih aktif berdasarkan data SiPongi per Oktober 2026 mencapai 6.116 titik berdasarkan pengamatan pendekatan NASA-Terra/Aqua.

Karhutla tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan vetegasi yang terbakar. Ketika api menghasilkan asap yang menyebar ke pemukiman, dampaknya meluas menjadi persoalan kesehatan lingkungan, pelayanan kesehatan, aktivitas ekonomi, dan hak masyarakat untuk memperoleh udara yang aman. Paparan asap dapat menganggu sistem pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan, terutama pada anak-anak, lansia dan ibu hamil, serta orang dengan penyakit kardiovaskular. Dengan demikian, karhutla bukan sekedar bencana ekologis, melainkan juga ancaman nyata terhadap kesehatan publik.

Namun, di balik dampak yang dirasakan manusia, terdapat persoalan yang krusial yang kerap luput dari sorotan utama pemberitaan: kehidupan flora dan fauna yang turut terancam. Karhutla tidak hanya membahayakan manusia melalui paparan asap, tetapi juga merusak habitat pepohonan, tumbuhan bawah, serangga, burung, mamalia, reptil, amfibi hingga berbagai organisme kecil yang selama ini menopang keseimbangan ekosistem. Hutan bukan sekedar kumpulan pohon, melainkan ruang hidup bagi ribuan spesies yang saling bergantung satu sama lain.

Di Sumatra dan Kalimantan, kebakaran hutan dan lahan gambut menjadi ancaman serius bagi habitat satwa liar. Ketika hutan terbakar, satwa dapat mati, mengalami luka, kehilangan tempat berlindung, atau terpaksa berpindah ke wilayah permukiman dan perkebunan. Perpindahan ini dapat meningkatkan konflik antara manusia dan satwa liar. Sementara itu, satwa yang tidak mampu berpindah secara cepat, terutama kelompok tertentu yang memiliki habitat terbatas atau bergantung pada kondisi lingkungan spesifik menghadapi risiko yang lebih besar.

Dampaknya juga tidak berhenti pada kematian atau hilangya invidu satwa. Kebakaran dapat merusak tempat berkembang biak, mengurangi ketersediaan pakan, dan memecah habitat menjadi bagian-bagian yang terisolasi. Ketika populasi satwa menurun atau terpisah, kemampuan mereka untuk berkembang biak dan mempertahankan populasinya juga dapat terganggu. Bahkan, Ketika Kawasan yang terbakar mulai menghijau kembali, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa habitat, keaneka ragaman hayati, dan fungsi ekologisnya telah pulih sepenuhnya. Pemulihan ekosistem membutuhkan waktu, dan pada habitat yang mengalami kerusakan berat atau kebakaran berulang, proses tersebut berlangsung sangat lama.

Lebih jauh, kerusakan habitat dapat memicu ancaman lainnya yang tidak kalah serius, yaitu tenganggunya rantai makanan. Tumbuhan berperan sebagai produsen utama yang menyediakan energi herbivora. Herbivora kemudian menjadi sumber makanan bagi karnivora dan berbagai predator lainnya. Ketika vegetasi terbakar, ketersediaan makanan bagi serangga, burung pemakan biji, mamalia, dan organisme lainnya dapat menurun. Berkurangnya mangsa juga dapat mempengaruhi predator pada tingkat trofik yang lebih tinggi.

Gangguan ini tidak selalu terjadi secara sederhana atau langsung. Dalam ekosistem, satu spesies dapat memiliki banyak sumber makanan dan berinteraksi dengan spesies lainnya. Namun, ketika kebakaran  meluas, terjadi berulang kali dan merusak habitat dalam waktu lama, perubahan pada satu kelompok organisme dapat merambat ke kelompok lain. Penurunan populasi serangga, misalnya dapat memengaruhi satwa pemakan serangga dan proses penyerbukan. Hilangnya vegetasi juga dapat mengganggu perlindungan tanah, siklus unsur hara, serta regenerasi tumbuhan. Dengan demikian, yang dipertaruhkan bukan hanya keberadaan satu atau dua spesies, melainkan kestabilan jejaring kehidupan yang menjaga fungsi ekosistem secara keseluruhan.

Dampak kerusakan tersebut pada akhirnya kembali kepada manusia melalui terganggunya jasa ekosistem. Hutan yang sehat membantu menyimpan karbon, mengatur tata air, melindungi tanah, dan menyediakan habitat bagi organisme yang mendukung fungsi ekologis. Sebaliknya, Kerusakan hutan dan gambut dapat memperburuk kualitas lingkungan, mulai dari penurunan kualitas udara, mengganggu tata air dan meningkatnya kerentanan lanskap terhadap kebakaran berikutnya. Bagi masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada hasil hutan, perikanan, pertanian dan sumber daya alam setempat, kerusakan ekosistem juga dapat berarti hilangnya sumber pangan, pendapatan dan ruang hidup. Dengan demikian, karhutla tidak hanya dirasakan saat api berkobar, tetapi juga dapat berlanjut setelah kebakaran berakhir.

Karena itu, memandang karhutla semata-mata sebagai persoalan pemadaman api merupakan pendekatan yang terlalu sempit. Api memang harus dipadamkan, tetapi penanganan tidak boleh berhenti ketika tiitk api berhasil dikendalikan. Pemulihan habitat, perlindungaan satwa liar, restorasi gambut, pemantauan keanekaragaman hayati, serta pencegahan kebakaran berulang harus menjadi bagian dari srategi yang sama pentingnya.

Pada akhirnya, karhutla menegaskan bahwa kesehatan manusia dan kesehatan ekosistem merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Udara yang tercemar mengancam kesehatan pernapasan manusia, habitat yang terdampak mengancam keberlangsungan hidup flora dan fauna, sementara rantai makanan yang terganggu dapat melemahkan keseimbangan ekosistem yang menopang kehidupan. Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan sekedar tuutpan pohon melainkan juga rumah bagi satwa, sumber pangan, jejaring kehidupan, serta kemampuan alam untuk menjaga keseimbangannya. Sebab, manusia bukanlah makhluk yang hidup sendiri; keberlangsungan hidupnya tergantung pada makhluk hidup lain dan ekosistem yang saling terhubung. Ketika alam kehilangan kemampuannya menopang kehidupan, manusia pada akhirnya turut kehilangan fondasi bagi keberlangsungan hidupnya sendiri.

Hutan merupakan bagian penting dari sistem pendukung kehidupan di bumi. Melalui foto sintesis, pepohonan menyerap karbon dioksida dan melepaskan oksigen, seklaigus menyimpan karbon serta menyediakan habitat bagi beragam makhluk hidup. Namun, peran hutan jauh melampaui oksigen yang dihasilkannya. Hutan adalah ruang tempat berbagai spesies berinteraksi, rantai makanan berlangsung, siklus air terjaga, dan keseimbangan ekologis dipertahankan. Karena itu, melindungi hutan bukan semata-mata menyelamatkan alam, melainkan juga tentang menjaga kesehatan manusia, mempertahankan keanekaragaman hayati, dan memastikan keberlangsungan hidup generasi sekarang maupun yang akan datang. Sebab, melindungi hutan berarti melindungi kehidupan itu sendiri, hari ini, esok dan bagi generasi yang akan datang.

 

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua