Oleh: Dewi Angreini (Psikolog/Akademisi)
KabarMakassar.com -- Beberapa hari lalu apple resmi merilis beberapa lini device terbarunya, kehadiran teknologi terbaru raksasa IT asal USA ini bersama dengan produk terbaru teknologi dari Samsung, Huawei, Xiaomi, Lenovo, Asus, dan perusahaan teknologi IT lainnya di kuartal ketiga (Q3) tahun 2026, tentu akan banyak membawa dampak bagi pola penggunaan teknologi informasi dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan, hingga kondisi psikologis manusia dalam beberapa tahun kedepan.
Harus diakui, dalam empat dekade terakhir, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. Namun di sisi lain tidak dapat kita pungkiri juga tetap akan membawa dampak negatif bagi masyarakat. Salah satunya adalah yang saat ini sedang marak diperbincangkan yakni judi online. Judi online (judol) dan kesehatan mental saling berhubungan, kecanduan judi online ini memiliki dampak yang buruk tidak hanya berpengaruh pada masalah finansial saja, melainkan juga pada kesehatan mental.
Yang cukup menarik perhatian kasus pada pemberitaaan di media kabarmakassar.com (19/9/26), dimana dikabarkan puluhan ribu Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Sulawesi Selatan terindikasi menggunakan rekening yang berkaitan dengan transaksi judi online (judol). Dimana rekening milik seorang penerima bansos lanjut usia diketahui digunakan anaknya untuk bermain judol.
Fenomena sosial tersebut menunjukkan bahwa persoalan judol itu rupanya tidak berhenti pada urusan ekonomi atau penyalahgunaan rekening semata, tetapi juga telah menyentuh aspek yang lebih dalam yakni kondisi psikologis manusia dan kemampuan seseorang dalam mengendalikan dirinya.
Dari kasus tersebut di atas, membuat persoalan kesehatan mental menjadi penting untuk dibicarakan sedikit lebih mendalam. Kesehatan mental merupakan bagian integral dari kesejahteraan individu, mencakup kondisi emosional, psikologis, dan sosial. Gejala gangguan kesehatan mental dapat bervariasi mulai dari kecemasan, depresi, hingga stres kronis yang sering kali mempengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan bertindak. Judi online (judol) sebagai salah satu bentuk perilaku menyimpang dapat memperburuk kondisi kesehatan mental individu.
Skema judol yaitu biasanya pemain baru sengaja diberi kemenangan awal (umpan) lalu muncul ilusi hampir menang (near miss) yang mana membuat pemain merasa bahwa kekalahan sebelumnya hanya karena kurang beruntung dan terdorong untuk terus mencoba (top-up). Lalu akhirnya kecanduan yang mana saat mulai kalah berturut-turut, pemain justru semakin bernafsu mengejar kekalahan (chasing losses), yang berujung pada pengurasan seluruh aset finansial
Judol biasanya dimulai dari faktor lingkungan. Teman-teman mereka melakukan hal tersebut sehingga mereka pun ingin mencobanya. Awalnya mereka hanya ingin coba-coba trus akhirnya penasaran bahkan timbul rasa “hope” bahwa dengan ikut judol siapa tahu dapat mengubah nasibnya atau bisa kaya mendadak. Hal ini membuat para pelaku judol menjadi pecandu sampai mempertaruhkan semua yang mereka miliki seperti Keluarga, aset kekayaan, pekerjaan, status sosial, bahkan nyawa sekalipun.
Pelaku judol nampak kepercayaan diri rendah karena tidak percaya diri dengan kemampuannya sehingga memilih untuk judol dan berkhayal akan menjadi kaya mendadak jika menang judol. Pelaku judol jg memiliki ketahanan mental yang lemah yaitu tidak sabar ingin menjadi kaya. Efek psikologis dari judol ini sangat besar bahkan akan timbul perilaku adiktif.
Perilaku adiktif ini mendorong tindakan menyimpang seperti berbohong, mencuri uang orang tua, berhutang, hingga menjual asset pribadi demi modal taruhan dan menutupi utang. Secara psikologis, aktivitas judol ini mengakibatkan stress kronis, kecemasan, penurunan fungsi eksekutif otak, serta distorsi kognitif. Secara sosial, judol memicu isolasi diri, keretakan hubungan karena hilangnya rasa percaya (trust issue), peningkatan angka kriminalitas, serta penurunan solidaritas sosial di masyarakat.
Judi online bisa memanipulasi otak seperti Pelepasan dopamin yang mana setiap kali pemain menang atau bahkan hampir menang otak melepaskan dopamin atau hormon kesenangan. Rasa senang yang kuat tersebut akhirnya membuat pelaku ingin terus memainkannya. Ketergantungan pada judi online dapat memicu gangguan kesehatan mental yang serius, termasuk perilaku bunuh diri.
Sebagai catatan penutup, kita sadar, bahwa judi online itu bukan sekadar persoalan kalah dan menangnya saja, itu hanya dilapisan paling terendahnya. Akan tetapi judi online itu tentang bagaimana ia perlahan membajak kendali diri hingga akhirnya kita kehilangan penuh atas pengendalian diri sendiri, lalu perlahan menjauh dari orang-orang yang dicintai, dan akhirnya terjebak dalam lingkaran harapan semu yang dapat merenggut ketenangan, harga diri, bahkan makna hidup akan ikut-ikutan kosong, sekosong saldo akun bermainnya.