Oleh: Sitti Nurliani Khanazahrah (Penulis, Dosen, Pegiat Filsafat)
KabarMakassar.com -- Di linimasa Threads dan berbagai platform media sosial belakangan ini, kita menyaksikan sebuah percakapan riuh yang meresmikan satu tragedi kebudayaan yang muram, yaitu isi kepala dan ruang sunyi kini resmi diperjualbelikan.
Praktik ini dibicarakan secara terbuka, dinormalisasi, dan bahkan dirayakan sebagai tren gaya hidup baru di bawah payung "joki baca buku". Dengan tarif yang membentang dari puluhan ribu hingga menyentuh angka jutaan rupiah, seseorang kini memiliki keistimewaan untuk mempekerjakan orang lain guna mengunyah, mencerna, serta memuntahkan kembali isi sebuah buku.
Sementara itu, sang penyewa jasa bisa tetap duduk manis, menghemat energinya, untuk kemudian memanen pengakuan sosial atas sebuah proses intelektual yang tidak pernah ia jalani. Tetapi jika kita menyelidiki fenomena ini lebih teliti, transaksi yang terjadi di ruang-ruang obrolan digital itu sama sekali tidak digerakkan oleh dahaga akan pengetahuan. Para penyedia jasa joki ini tahu persis apa yang sebenarnya dicari oleh klien mereka, yaitu sebuah paket estetika.
Buku-buku yang disewakan untuk dibaca itu dikembalikan kepada pemiliknya tidak hanya bersama lembaran ringkasan, tetapi dalam wujud fisik yang sudah dipoles sedemikian rupa. Halaman-halamannya dipenuhi coretan stabilo berwarna cerah, dijejali sticky notes beraneka warna yang menyembul berjejer rapi di pinggiran kertas, lengkap dengan anotasi-anotasi tulisan tangan di sudut margin yang seolah-olah menandakan terjadinya pergulatan pemikiran yang amat serius.
Bahkan tidak jarang penyedia jasa ini menyertakan layanan ekstra berupa foto buku tersebut dengan tata letak yang instagrammable, lengkap dengan secangkir kopi, kacamata baca, serta pencahayaan yang temaram. Motif transaksional tersebut terpampang dengan sangat gamblang. Sang penyewa tidak sedang membeli pemahaman tetapi sedang menyewa properti panggung. Buku telah dilucuti marwah ontologisnya dari sebuah medium pencarian kebenaran, menyusut menjadi sekadar kosmetik digital untuk memvalidasi status kelas di etalase media sosial.
Gejala sosial yang sangat banal ini memaksa kita berhadapan dengan satu pertanyaan eksistensial yang mengusik, bahwa jika proses membaca, yang sejatinya merupakan area dialog paling intim, sunyi dan otonom antara manusia dengan sebuah teks, kini bisa dialihdayakan dengan selembar uang kepada pihak ketiga, lalu apa yang sebenarnya tersisa dari kemandirian kita sebagai subjek yang berpikir?
Secara kodrati, membaca karya pemikiran, teori sosial, maupun novel-novel sastra yang berat tidak pernah sekadar urusan kognitif memindai deretan alfabet untuk menyedot informasi. Ia adalah sebuah peristiwa dialektika batin. Proses ini menuntut kesediaan tubuh dan pikiran kita untuk melambat di dunia yang terus-menerus memaksa kita berlari. Membaca menuntut kemampuan menahan diri di tengah lautan kebingungan saat menghadapi gagasan yang rumit, dan memaksa kita membongkar prasangka-prasangka lama yang selama ini kita pelihara di dalam kepala.
Ada jeda-jeda hening yang teramat krusial saat kita membaca buku secara sungguh-sungguh. Itu adalah momen-momen ketika mata kita tiba-tiba terhenti di ujung sebuah paragraf yang menampar kesadaran. Di detik-detik itulah pandangan kita biasanya beralih dari kertas, menatap kosong ke arah langit-langit kamar atau jalanan di luar jendela. Pikiran kita melayang pergi, membenturkan teks asing tersebut dengan trauma masa lalu, ingatan masa kecil, kekecewaan, hingga realitas hidup yang sedang kita jalani hari ini. Pemaknaan sebuah buku tidak pernah menempel pada tinta cetak di atas kertas. Makna itu selalu mekar di dalam kesunyian yang lambat dan kadang menyakitkan di kepala pembacanya.
Masalahnya, kapitalisme kiwari dan budaya gila kerja (hustle culture) memendam kebencian yang sangat mendalam terhadap kelambatan. Kecepatan adalah dogma tertinggi hari ini, dan efisiensi adalah ukuran moralnya. Di bawah tekanan ekspektasi sistemik yang brutal, manusia modern terus-menerus dipaksa bekerja, berjejaring, serta memproduksi sesuatu. Kita hidup dalam kecemasan laten bahwa jika kita berhenti sejenak, maka kita akan tertinggal oleh rekan-rekan kita. Akibatnya, segala hal dalam siklus hidup kita, mulai dari cara kita makan, membangun relasi, hingga mengelola waktu luang, dituntut agar serba instan, terukur dan segera membuahkan hasil yang bisa dipamerkan.
Fenomena joki baca buku adalah bukti konkret bahwa nalar kapitalistik ini telah berhasil merangsek masuk dan menjajah sisa ruang batin kita yang paling dalam. Waktu luang dan proses permenungan, yang seharusnya menjadi ruang otonom bagi manusia untuk merebut kembali kewarasannya, kini diubah menjadi semacam Key Performance Indicator (KPI) yang baru. Kita memisahkan "hasil" (berupa kesan pintar dan tumpukan buku yang tampak telah dibaca) dari "proses" (kelelahan membaca, dialektika batin, serta keheningan).
Sama persis seperti kelakuan kita yang terbiasa memesan makanan cepat saji melalui aplikasi daring semata-mata untuk menghindari repotnya memasak dan mencuci piring, kini kita memesan kesimpulan yang sudah dikunyah paksa oleh kepala orang lain. Ironisnya, setelah menyewa isi kepala sang joki, kita menipu diri sendiri dengan bertingkah seolah kitalah yang menyerap kedalaman pengetahuan dari buku tersebut. Komodifikasi literasi ini pada dasarnya menyingkap betapa lelah, terkuras, serta teralienasinya manusia modern, hingga untuk sekadar duduk berdiam diri dan berpikir pun, kita merasa tidak lagi memiliki sisa energi.
Jika kita menarik persoalan ini ke atas panggung masyarakat tontonan, ramalan sosiologis pemikir Prancis Jean Baudrillard tentang Simulakra, begitu relevan, paripurna sekaligus mengerikan. Baudrillard jauh-jauh hari mengingatkan bahwa peradaban tontonan akan membawa kita pada suatu masa di mana masyarakat kehilangan kemampuan untuk membedakan mana realitas yang faktual dan mana representasi buatan. Dalam pusaran fenomena ini, coretan stabilo, lipatan kertas, serta sticky notes dari sang joki sama sekali bukanlah jejak otentik dari sebuah pemikiran. Benda-benda itu sepenuhnya adalah simulakra, salinan fisik dari sesuatu yang realitas aslinya tidak pernah terjadi. Ia hanyalah benda mati yang meniru pergumulan batin yang tidak pernah dialami oleh sang pemilik buku.
Bagi si pemilik buku yang menyewa jasa tersebut, lembaran-lembaran kertas itu menyusut nilai gunanya menjadi semata-mata alat tukar sosial. Ketika foto buku penuh coretan artifisial itu diunggah ke internet, ia mulai memanen algoritma, mengumpulkan tanda suka (likes), dan memancing decak kagum di kolom komentar. Validasi digital pun didapatkan. Ia berhasil diakui oleh lingkaran pertemanannya sebagai sosok individu yang peka, literat, serta seorang pemikir yang tekun. Kebutuhan eksistensial dan alamiah manusia untuk "benar-benar tahu" telah ditelan mentah-mentah oleh hasrat narsistik yang dangkal untuk sekadar "terlihat tahu". Manusia direduksi menjadi etalase hidup yang sibuk merawat diri palsu (false self), di mana pemeliharaan citra adalah pekerjaan utama, sementara kerumitan substansi dan kedalaman makna disingkirkan karena dianggap sebagai beban yang memperlambat laju produksi konten.
Tentu saja, konsekuensi dari kepalsuan kolektif ini membentang jauh lebih mematikan daripada sekadar narasi tentang kebohongan gaya hidup di dunia maya. Ketika kita merasa nyaman dan terbiasa menyewa kepala orang lain untuk mencerna kompleksitas suatu wacana, maka kita sebenarnya sedang melakukan penyerahan kedaulatan akal budi secara sukarela.
Manusia yang terus-menerus disuapi dan dibuai oleh pemikiran instan yang telah disederhanakan perlahan-lahan akan mengalami atrofi atau penyusutan otot kritisnya. Membaca buku-buku yang menguras pikiran sejatinya melatih kita untuk menjadi skeptis, mengenali cacat logika, menimbang argumen yang saling berseberangan, serta merumuskan sikap. Jika daya tahan dan kemandirian intelektual ini direnggut karena segala sesuatunya selalu diwakilkan kepada joki, maka sebuah masyarakat akan kehilangan kekebalan kognitifnya terhadap berbagai bentuk manipulasi, baik dari korporasi maupun dari penguasa negara.
Ketika untuk memahami sebuah novel peraih Nobel atau sekadar buku esai populer saja kita membutuhkan perantara berbayar yang meringkaskan isinya, bagaimana kita bisa diharapkan memiliki kemandirian untuk membedah masalah-masalah hidup yang jauh lebih pelik? Bagaimana mungkin masyarakat dengan kemalasan kognitif semacam ini bisa mengendus kebijakan penguasa yang menindas? Bagaimana mereka bisa membongkar ketidakadilan hierarki kelas sosial, atau memiliki ketajaman untuk melawan relasi kuasa yang menjajah kehidupan privat mereka di dalam rumah tangga?
Inilah ancaman nyata yang sangat mendesak. Normalisasi praktik joki baca buku secara perlahan sedang melapangkan jalan bagi lahirnya generasi "intelektual etalase". Mereka adalah kumpulan individu yang akan sangat fasih mengutip aforisme dari filsuf-filsuf dunia, sangat mahir merangkai kalimat-kalimat melankolis dan menggugah di takarir media sosial, tetapi seketika menjadi gagap, bisu, serta kehilangan orientasi ketika dihadapkan pada penderitaan material serta kontradiksi sosial yang terjadi tepat di depan mata mereka. Mereka mungkin menghafal beragam istilah akademik tentang keadilan dan kebebasan sipil, tetapi mereka telah kehilangan kemampuan organik untuk menalar bagaimana kebebasan itu sebenarnya sedang dirampas dari kehidupan mereka setiap hari.
Melihat anatomi keputusasaan ini, joki baca buku sesungguhnya bukanlah penyakit itu sendiri. Fenomena ini hanyalah ruam merah di permukaan kulit dari sebuah peradaban yang sedang sakit parah akibat kelelahan sistemik dan tuntutan ekspektasi sosial yang tidak masuk akal. Kita hidup di era kecemasan struktural, di mana pandangan orang lain seolah-olah menjelma menjadi panoptikon raksasa yang mengawasi dan memaksa kita untuk terus tampil utuh, cerdas, serba tahu, serta produktif tanpa diberi kesempatan untuk bernapas.
Memutus rantai kepalsuan ini tidak bisa dilakukan hanya dengan mencela mereka yang menyewa joki. Ia menuntut sebuah perlawanan eksistensial dari dalam diri kita masing-masing. Bentuk perlawanan itu pun tidak harus meledak-ledak di jalanan. Ia bisa dimulai dari sebuah sikap batin yang paling sederhana, yaitu kesediaan untuk berdamai dengan ketidaktahuan dan kerentanan kita sendiri. Kita harus berani membiarkan buku-buku tebal yang baru kita beli itu tetap berjejer rapi di rak, bersih tanpa coretan stabilo palsu, jika kita memang belum sanggup dan belum memiliki waktu luang untuk membacanya. Kita harus melatih diri untuk mengambil jarak dari kebisingan tren media sosial, serta menolak keharusan untuk membaca apa yang sedang dibicarakan semua orang hanya demi diakui keberadaannya di tongkrongan.