Langsung ke konten
Opini Publik

OPINI: Jika Robot yang Memasarkan Produk, Siapa yang Memahami Hati Konsumen?

AI mengubah industri pemasaran melalui otomatisasi, personalisasi, dan analisis data. Namun, kreativitas dan sisi humanis tetap penting dalam pemasaran.

Nofisari
Muhammad Fiqih Oktavian Hattah - Akademisi (Dok: Ist)
Muhammad Fiqih Oktavian Hattah - Akademisi (Dok: Ist)

Oleh: Muhammad Fiqih Oktavian Hattah (Akademisi)

 

KabarMakassar.com - AI menghadirkan banyak peluang dalam industri pemasaran melalui otomatisasi, personalisasi, dan analisis data. Namun, kemajuan ini juga memunculkan tantangan baru terkait kreativitas, moralitas, dan posisi manusia dalam industri pemasaran global.

Kita harus akui, bahwa keberhasilan suatu produk dalam berbagai situasi pasar sangat tergantung pada kemampuan pemasaran yang kuat dalam membangun hubungan dengan pelanggan. Itu artinya, sangat penting mengetahui karakteristik penjual dan pelanggannya, membuat iklan misalnya, sebisa mungkin kontennya mampu menggugah emosi penonton, ataukah seorang pemilik usaha kecil yang selama ini cukup mengetahui apa yang dibutuhkan pelanggan tetapnya harus mampu menghadirkan alur iklan yang bisa dipahami dan menyentuh sisi emosi target. Pada saat itulah, posisi pemasaran berada dalam kategori sebagai sebuah seni, khususnya dalam hal bagaimana memahami manusia dalam sisi sinematik, bukan sekadar dalam urusan menjual barang semata.

Namun dunia hari ini telah berubah. Teknologi semakin berperan dalam merubah cara manusia melakukan aktivitas pembelian, mencari informasi dan mengambil keputusan. Dengan algoritma, rekomendasi orang dapat menemukan produk tanpa harus bertemu langsung dengan penjual yang beriklan lewat media sosial misalnya. Saat ini, kita hidup di era di mana mesin tidak hanya membantu proses manufaktur, tetapi juga berperan dalam penyaluran produk yang didistribusikan ke seluruh dunia. Lebih 'gilanya' lagi, robot bahkan mulai memasarkan dirinya sendiri.

Istilah ini memang terdengar seperti judul film fiksi ilmiah yang kadang-kadang tidak masuk akal. Namun kenyataanya, hal ini sudah ada di sekeliling kita. Dalam dunia pemasaran, hal ini mencakup chatbot yang menjawab pertanyaan pelanggan sepanjang hari, sistem rekomendasi di platform perdagangan digital, AI yang membuat konten promosi, serta algoritma yang menentukan iklan mana yang muncul di layar seseorang.

Lebih jauh lagi, muncul pertanyaan sederhana, apakah kreativitas manusia akan menjadi kunci masa depan pemasaran global, ataukah malah algoritma yang secara perlahan akan mengambil alih peran itu? Seiring perusahaan-perusahaan di seluruh dunia berlomba mengadopsi AI demi memenangkan persaingan bisnis, pertanyaan ini menjadi semakin penting. Mereka menyadari bahwa siapa pun yang mampu menjangkau konsumen dengan cepat akan memenangkan persaingan dalam ekonomi digital.

Juga perlu diingat, pemasaran bukan hanya soal mengetahui apa yang dibeli orang, tetapi juga mengapa mereka membelinya. Ada jauh lebih banyak hal di baliknya daripada sekadar data dan angka. Mengapa orang membeli produk? Kisah pemasaran pada hakikatnya adalah kisah tentang bagaimana manusia beradaptasi dengan perubahan zaman.

Jika perdagangan bermula dari komunikasi langsung antara pedagang dan pembeli. Maka pedagang perlu mengenal pelanggan mereka dengan baik, mereka mengetahui apa yang dicari oleh pembeli, kebiasaan mereka, serta situasi keuangan mereka. Industri tumbuh dan polanya berubah. Perusahaan harus menemukan cara untuk menjangkau pasar yang lebih luas dan beragam untuk produk mereka. Dengan berkembangnya produksi massal dan ada munculnya surat kabar, radio dan televisi, maka pemasaran melalui media massa memasuki era baru.

Pada saat itu, perusahaan-perusahaan tersebut berupaya menyampaikan pesan yang mampu menarik minat banyak orang. Iklan televisi dapat menjangkau jutaan orang sekaligus. Slogan yang bagus dapat mempertahankan reputasi merek selama bertahun-tahun. Kunci untuk menarik perhatian pasar terutama terletak pada kreativitas.

Dan  tetap saja pemasaran tradisional memiliki beberapa kekurangan. Dalam era digital saat ini, biasanya pebisnis mengetahui berapa banyak orang yang melihat iklannya, namun tidak selalu mengetahui siapa yang benar-benar tertarik dengan iklan tersebut. Mereka kesulitan memahami alasan di balik keputusan orang untuk membeli atau menolak produk.

Di era digital, telah terjadi pergeseran besar dari pemasaran massal menuju pemasaran bersifat personal. Perusahaan tidak lagi bertanya: "Bagaimana cara menjangkau sebanyak mungkin orang?" Melainkan memulai dengan pertanyaan: "Bagaimana cara memahami setiap pelanggan dengan lebih baik? Secara lebih spesifik?"

Di mana data baru menjadi semakin penting, oleh karena data ini mencakup semua aktivitas digital, seperti mencari produk tertentu, berinteraksi dengan konten, membaca ulasan, atau mengunjungi toko online. Ini adalah data perilaku konsumen yang telah dipetakan. Masalahnya kemudian adalah kemampuan manusia terbatas dalam mengolah data dalam jumlah besar yang tersedia. Oleh karena itu, diperlukan teknologi yang mampu membaca puluhan juta atau miliaran data dalam waktu singkat.

Kecerdasan buatan (AI) menempati peran strategisnya disini. Dimana hal ini sebelumnya mustahil dilakukan. AI memungkinkan perusahaan untuk memahami konsumen. Algoritma dapat mendeteksi tren, mengantisipasi kebutuhan, dan memberikan rekomendasi berdasarkan perilaku. Saat ini, pemasar menggunakan intuisi sekaligus analisis data, bukan hanya intuisi seperti sebelumnya.

Iklan kini bukan lagi sekadar ditaruh di sana-sini oleh perusahaan secara sengaja, melainkan muncul karena sistem kecerdasan buatan (AI) telah mengenali kebiasaan digital masyarakat. Kita hidup di era ketika mesin tidak hanya membantu proses manufaktur, tetapi juga berperan dalam penyaluran produk ke seluruh dunia. Bahkan, robot mulai ikut memasarkan produk secara mandiri.

Bayangkan seseorang sedang menggunakan aplikasi belanja online. Aplikasi ini tidak hanya menampilkan produk-produk khusus, tetapi halaman utamanya juga langsung menyajikan rekomendasi produk yang disesuaikan dengan kebiasaan pengguna. Produk perawatan kulit mungkin muncul karena pengguna sering membaca artikel tentang kebugaran, sementara sepatu olahraga ditampilkan karena pengguna sebelumnya sering melihat konten yang berkaitan dengan kebugaran.

Juga penting untuk diingat, bahwa pemasaran bukan hanya soal mengetahui apa yang dibeli orang, melainkan juga memahami mengapa mereka membelinya. Ada banyak hal di balik itu semua yang jauh lebih mendalam daripada sekadar data dan angka. Mengapa seseorang memutuskan untuk membeli suatu produk? Kisah pemasaran di atas pada hakikatnya adalah kisah tentang bagaimana manusia harus terus beradaptasi dengan perubahan zaman.

Hari ini, pengalaman pengguna pun menjadi jauh lebih mudah dan nyaman.  Sebab di balik semua itu ada sistem algoritma yang bekerja untuk menganalisis data dalam jumlah besar (big data). Sebab perlu kita camkan dengan seksama, bahwa pada akhirnya, secanggih apa pun algoritma yang bekerja di balik layar, esensi dari pemasaran itu tetaplah tentang menghubungkan satu manusia dengan manusia lainnya tanpa harus kehilangan sisi humanisnya.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua