Oleh: Irham Rahman (Akademisi)
KabarMakassar.com - Asap dapur, kalimat familiar di masyarakat kita yang kadangkala menjadi indikator situasi normal tidaknya ekonomi internal sebuah keluarga. Kalimat ini adalah metafora purba tentang denyut kehidupan.
Mengepulnya asap dari perapian sebuah rumah bukan sekadar tanda adanya makanan yang dimasak, melainkan simbol bahwa di bawah atap tersebut, kehidupan sedang dirawat, perut-perut sedang diisi, dan harapan hari esok masih menyala. Namun, realita sosial kita hari ini menyajikan sebuah ironi yang menyesakkan dada: kita hidup di tengah lingkungan yang terus-menerus berasap. sementara tungku-tungku di ruang privat justru perlahan mendingin dan padam.
Secara kasat mata dan metaforis, masyarakat kita sedang dikepung kabut pekat. Ruang publik kita disesaki oleh asap polusi industri, kebisingan digital, tekanan ekonomi, hingga polarisasi sosial yang membuat iklim komunal terasa panas. Ironisnya, energi masyarakat terkuras habis untuk bertahan menghadapi lingkungan yang toksik ini, sehingga tak tersisa lagi daya untuk sekadar menyalakan kembali asap dapur mereka sendiri.
Jika dibedah melalui kacamata Teori Kognitif Sosial dari Albert Bandura, fenomena ini dapat dijelaskan melalui prinsip Determinisme Resiprokal Triadik. Prinsip ini menegaskan bahwa lingkungan, kognisi individu, dan perilaku saling membentuk satu sama lain secara terus-menerus.
Lingkungan makro yang berasap penuh tekanan inflasi, ancaman PHK, dan ketidakpastian hidup, secara langsung membombardir kognisi masyarakat. Ruang aman yang seharusnya menjadi tempat pemulihan telah hilang, digantikan oleh mode bertahan hidup yang menguras mental.
Kondisi tanpa asap dapur ini pada akhirnya merenggut *Keagenan Manusia. Ketika seseorang kehilangan kendali atas kemampuan dasarnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, keyakinannya untuk mengarahkan jalan hidup akan hancur. Tidak heran jika generasi muda saat ini rentan terjebak dalam krisis transisi yang berkepanjangan; mereka merasa sedang menavigasi masa depan dengan peta yang kusut di tengah jalanan yang berkabut.
Lebih jauh lagi, lingkungan yang menekan tanpa adanya kehangatan keluarga memicu fenomena minimnya Keterlibatan Moral(Moral Disengagement). Dalam kabut keletihan kognitif, empati menjadi barang mewah. Individu menjadi lebih mudah merasionalisasi tindakan agresif, bersikap apatis terhadap penderitaan orang lain, dan kehilangan nilai-nilai Sipakatau (saling memanusiakan), karena fokus utama otak mereka hanyalah bagaimana bertahan agar tidak tenggelam hari ini.
Kesan yang tertinggal dari realita ini adalah sebuah keprihatinan yang mendalam. Melihat masyarakat yang terus berlari dalam kelelahan tanpa kepastian bahwa ada piring berisi di ujung hari adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang sunyi.
Pesan yang harus kita gaungkan adalah urgensi untuk mengembalikan keseimbangan sistemik ini. Kebijakan publik maupun inisiatif sosial harus berfokus pada upaya membersihkan udara sekaligus menyalakan kembali tungku.
Kita perlu merekonstruksi sistem dukungan sosial dan kecerdasan emosional komunal yang mampu menopang mereka yang sedang kehilangan daya. Jangan biarkan masyarakat terus menghirup asap dari tatanan sosial yang sedang terbakar, sementara dapur mereka sendiri dibiarkan membeku tanpa kehangatan.