Oleh: A.Bulqis Safirah, S.I.Kom.,M.I.Kom
KabarMakassar.com -- Ada anggapan yang biasa terdengar: ice breaking itu permainan anak sekolah, cocok untuk siswa SD atau mahasiswa baru, bukan untuk orang dewasa yang datang ke sebuah pelatihan untuk belajar hal serius. Anggapan ini perlu dikoreksi.
Dari pengalaman menjadi game host dalam sebuah pelatihan digital marketing yang diikuti peserta berbagai usia, mulai dari yang masih muda hingga yang sudah berkeluarga, ice breaking justru pantas diperlakukan
sebagai bagian serius dari strategi pelatihan, bukan sekadar selingan sebelum masuk ke materi inti.
Sebelum sesi pertama dimulai, suasana ruangan masih terasa kaku.
Sebagian peserta duduk berdekatan dan sudah saling mengenal, sebagian lain hanya mengenal beberapa orang saja, dan ada pula yang benar-benar belum mengenal siapa pun di ruangan itu.
Kondisi semacam ini wajar terjadi dalam banyak pelatihan orang dewasa. Berbeda dengan siswa yang bertemu setiap hari dalam satu kelas, peserta pelatihan biasanya datang dari latar belakang berbeda dan hanya berkumpul untuk beberapa hari saja.
Rasa canggung di awal pun hampir selalu muncul, dan di sinilah ice breaking semestinya dilihat bukan sebagai hiburan pelengkap, melainkan sebagai jembatan yang membuka jalan bagi komunikasi yang sebenarnya.
Dalam ilmu komunikasi interpersonal, kondisi ini sering dikaitkan dengan konsep keterbukaan, yaitu kesediaan seseorang untuk mulai terlibat, merespons, dan menunjukkan dirinya kepada orang lain. Keterbukaan semacam ini tidak selalu berarti cerita yang dalam dan personal.
Ia bisa dimulai dari hal sesederhana ikut tertawa bersama, menjawab pertanyaan ringan, atau sekadar berani mengangkat tangan saat diminta bercerita. Dan salah satu cara paling sederhana untuk memulai keterbukaan semacam itu adalah lewat ice breaking.
Dari jawaban kuesioner yang dikumpulkan setelah pelatihan, satu peserta menuliskan bahwa permainan-permainan pembuka itu “membantu mencairkan suasana dan menjadi pembuka interaksi dan komunikasi tanpa takut canggung dengan peserta lain.”
Peserta lain mengaku hari pertama masih terasa kaku, tapi setelah mengikuti beberapa sesi permainan, ia perlahan menjadi lebih nyaman dan percaya diri berbicara dengan orang-orang baru di sekitarnya.
Temuan ini menunjukkan sesuatu yang penting: hubungan dan kedekatan antarpeserta yang tadinya asing satu sama lain tidak selalu lahir dari sesi perkenalan formal, tapi justru lebih sering tumbuh lewat momen-momen ringan semacam ini, di mana orang merasa cukup aman untuk sekadar tertawa bersama sebelum akhirnya berani bercerita lebih jauh.
Fungsi ice breaking sebenarnya tidak berhenti di urusan keakraban. Sejauh pengamatan selama memandu pelatihan tersebut, ice breaking juga berperan penting dalam menjaga semangat peserta menerima materi.
Bentuknya tidak harus rumit, bisa sesederhana yel-yel singkat untuk membangkitkan energi sebelum sesi dimulai, atau permainan ringan yang dirancang khusus untuk mengembalikan fokus peserta yang mulai lelah di tengah pelatihan.
Dua fungsi ini, membangun kedekatan dan menjaga semangat, berjalan beriringan dan sama-sama menentukan apakah sebuah pelatihan terasa hidup atau justru terasa berat untuk diikuti.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah bagaimana peserta saling merespons satu sama lain selama permainan berlangsung.
Ada cerita tentang momen ketika salah satu peserta melakukan kesalahan gerakan saat ice breaking, dan yang terjadi bukan ejekan, melainkan tawa bersama, sebelum semua kembali mengikuti gerakan yang benar.
Respons semacam ini, dalam ilmu komunikasi, dikenal sebagai sikap suportif, sikap yang tidak menghakimi dan memberi ruang bagi orang untuk mencoba tanpa takut dipermalukan. Suasana aman seperti inilah yang sebenarnya menjadi fondasi bagi keterbukaan untuk tumbuh.
Namun, tidak semua orang nyaman dengan cara yang sama, dan ini perlu diakui agar ice breaking tidak diterapkan secara asal. Ada peserta yang mengaku ice breaking tidak serta-merta membuatnya lebih berani bicara, meski tetap membantu menaikkan semangatnya.
Ada pula yang merasa sesi tertentu terasa canggung untuk dilakukan di depan orang yang belum terlalu akrab, atau kurang pas dimainkan di ruangan yang diisi peserta dengan rentang usia yang lebih dewasa.
Catatan-catatan ini menegaskan bahwa keterbukaan tidak bisa dipaksakan dengan cara yang seragam. Usia, latar belakang, bahkan status seseorang, apakah ia masih lajang atau sudah berkeluarga, ikut memengaruhi seberapa nyaman seseorang membuka diri di depan orang lain.
Meski begitu, dari seluruh jawaban kuesioner, pola yang paling menonjol adalah bahwa hampir semua peserta merasa lebih rileks dan lebih bersemangat setelah sesi ice breaking. Ada yang bahkan merasa lebih dekat dengan peserta lain yang sebelumnya terasa asing.
Tapi ada pula suara kritis yang justru menyehatkan: satu peserta mengingatkan bahwa terlalu banyak ice breaking bisa menyita waktu yang seharusnya dipakai untuk materi inti.
Masukan ini menjadi pengingat bahwa ice breaking yang baik bukan soal seberapa sering dilakukan, tapi seberapa tepat ia ditempatkan, dan seberapa serius ia dirancang sebagai bagian dari strategi pelatihan, bukan sekadar pengisi jeda.
Dari pengalaman ini, ada satu hal yang perlu ditegaskan, kebutuhan untuk dibuat nyaman dan merasa diterima tidak hilang seiring bertambahnya usia. Orang dewasa justru sering datang ke ruangan pelatihan dengan beban yang lebih banyak, pekerjaan yang ditinggal, rasa lelah, atau sekadar kekhawatiran akan terlihat canggung di depan orang yang belum dikenal.
Karena itu, ice breaking semestinya tidak lagi dipandang sebelah mata sebagai hiburan ringan sebelum masuk ke "hal yang sebenarnya".
Ia adalah bagian dari hal yang sebenarnya itu sendiri, pintu masuk bagi keterbukaan, kedekatan, dan semangat yang pada akhirnya menentukan seberapa jauh sebuah pelatihan bisa diserap oleh pesertanya.