Langsung ke konten
Opini Publik

OPINI: Empat Telinga, Satu Rahasia

Opini tentang dugaan penyadapan di lingkaran kekuasaan, krisis kepercayaan, loyalitas pejabat, dan pentingnya ketegasan pemimpin dalam menjaga kepentingan publik.

ardiyanti Diperbarui
Haslinda (Warga Biasa di Sudut Makassar)
Haslinda (Warga Biasa di Sudut Makassar)

Oleh: Haslinda (Warga Biasa di Sudut Makassar)  

KabarMakassar.com -- Seperti biasa, jika senja telah tiba, shalat magrib telah tertunaikan, makan malam bersama keluarga kecil saya telah usai, sambil menunggu shalat isya diskusi via WhatsApp dengan sohib saya di kampung seberang selalu seru dengan tema-tema update.

“Pak Doktor, sapa saya, menurutku ini toh, mirip-mirip seperti cerita orang yang lagi membangun rumah, tetapi lupa memeriksa siapa saja yang sudah memegang kunci rumahnya.”

Tema  perbincangan kami malam ini  tentang sebuah istana yang belakangan ramai oleh sebuah drama singkat. Katanya, ada empat jenderal yang ditangkap karena urusan penyadapan terhadap pemimpin tertinggi. Saya bilang, wah, kalau benar ceritanya seperti itu, ini bukan lagi sekadar persoalan teknologi penyadapan. Ini sudah seperti rumah tangga kekuasaan yang hampir mirip dengan krisis gas yang saya dan puluhan tetangga saya alami beberapa hari lalu, sepertinya istana ini sedang mengalami krisis kepercayaan.

“Bagaimana tidak, Pak Doktor toh? Masa pemimpinnya sendiri mungkin merasa sedang memimpin sebuah pemerintahan, tetapi orang-orang di sekelilingnya ternyata punya juga versi cerita masing-masing.”

Saya tertawa dengan motion ngakak. Sebab dalam politik, kadang yang paling menarik bukan msngenai siapa yang duduk di kursi paling berpengaruh, akan tetapi ini tentang siapa yang diam-diam mengatur kursi itu agar tetap berada di tempatnya.

Bisa di bayangkan, seorang pemimpin yang baru saja masuk ke sebuah rumah besar. Ia membawa visinya, juga membawa janji-janji politiknya, termasuk membawa harapan untuk memperbaiki keadaan. Tetapi ternyata, sebagian penghuni rumah itu sudah lebih dahulu tinggal di sana. Mereka mengenal semua pintu, semua jendela, bahkan mungkin tahu letak kunci cadangan yang disimpan di bawah pot bunga depan pintu masuk.

Pemimpin baru ini mungkin  berpikir, “Ah, mereka orang-orang berpengalaman. Saya percaya saja deh.”
Masalahnya adalah, pengalaman itu tidak selalu berarti sudah menjadi sebuah kesetiaan. Ada juga memang orang yang setia kepada pemimpin, ada yang setia kepada institusinya, dan ada pula yang setia kepada siapa pun yang paling menjanjikan masa depan bagi dirinya walau sudah lewatmi masa kuatnya bossnya.

“Kasihan juga ini memang pemilik rumah Pak Doktor. Dia yang duduk di kursi paling depan, tetapi serasa sendirian yang paling sering kena hujat.”

Saya bilang, itulah risiko menjadi pemimpin. Ketika keadaan sedang baik-baik saja, semua orang merasa ikut berjasa. Tapi pas ketika keadaan lagi buruk, pemimpinlah yang pertama kali diminta menjelaskan. Yang lain mungkin cukup menggelengkan kepala sambil berkata, “Kami sedang mendalami dengan seksama ini persoalan.”

Kalimat itu memang luar biasa teman. Di dalam dunia politik, “sedang mendalami” kadang-kadang bisa menjadi pekerjaan yang lebih panjang daripada menyelesaikan persoalannya sendiri, semacam terputar-putar di tempat.

Belum selesai satu drama, muncul  lagi drama berikutnya. Urusan pasokan energi  masih bermasalah, kebijakannya yanh menjadi perdebatan, berbagai kasus lama kembali dibicarakan, dan publik juga mulai bertanya-tanya: sebenarnya siapa yang sedang mengendalikan arahnya ini cerita?

Sambil menyalakan lampu depan rumah yang lupa saya tekan saklarmya gara-gara hebohnya dunia maya sepanjang sore ini, saya bilang kepada sahabat saya, jangan-jangan istana itu sedang mengalami semacam penyakit organisasi. Semua orang punya jabatan, semua orang punya tugas, tetapi tidak semua orang memiliki tujuan yang sama dengan yang punya istana.

Teman saya lalu bertanya lagi "Jadi, menurutmu ada yang mau menggeser pemimpin itu?”

Saya jawab sederhana, bahwa  dalam politik itu, kecurigaan memang bisa tumbuh ketika kepercayaan mulai retak seperti gelas-gelas kacanya di lagu Nia Daniati. Tetapi kecurigaan itu tidak sama dengan bukti. Kita tidak bisa langsung begitu saja menyimpulkan bahwa setiap masalah itu  adalah bagian dari rencana besar untuk menggulingkan seseorang, nggak sesimple itu friend.

Namun ada satu hal yang perlu engkau tahu friend, tapi bukan "api cintaku padamu tak pernah padam", bukan, ini bukan lagunya Sandhy Sondoro. Bahwa  kalau ada sebuah pemerintahan itu terus-menerus dipenuhi konflik internal, publik cepat atau lambat akan mulai membaca setiap peristiwa sebagai bagian dari drama yang lebih besar.

Dan puncaknya, ketika publik sudah sampai pada tahap itu, pemerintah itu sebenarnya sedang menghadapi masalah yang lebih serius daripada sekadar konflik antarpejabat. Ia sedang kehilangan kepercayaan.

Pak doktor, pemimpin seperti ini kadang-kadang membuat publik bingung. Entah apakah ia sedang menjaga stabilitas, sedang menyusun strategi, ataukah justru terlalu banyak mempertimbangkan perasaan orang-orang di sekitarnya?

Atau jangan-jangan, di balik seragam dan jabatan yang tampak gagah, ada hati yang terlalu mudah luluh dan cepat baper. Kalau begitu, kita bisa menyebutnya pemimpin berhati Hello Kitty.

Tentu saja, hati yang lembut bukanlah masalah. Yang menjadi masalahnya itu  adalah ketika kelembutan itu justru membuat seseorang kehilangan ketegasan dalam menjaga kepentingan publik.

Karena pemerintahan bukan tempat untuk memelihara perasaan semua orang. Ia adalah ruang untuk memastikan bahwa aturan berlaku, tanggung jawab dijalankan, dan kepentingan masyarakat tidak dikorbankan demi kenyamanan kelompok tertentu.

Saya kemudian bertanya kepada sahabat saya yang jauh di kampung orang ini, “Kalau benar ada persoalan serius di dalam lingkaran kekuasaan, apa yang seharusnya dilakukan?”

Ia menjawab, “Ya, harus dibongkar semuanya lah, jangan stengah-stengah" katanya.

Saya bilang, oow tentu. Tetapi membongkar bukan berarti mengumbar kecurigaan. Membongkar berarti memastikan fakta, membuka proses secara transparan, dan memberi konsekuensi kepada siapa pun yang terbukti melanggar aturan.

Sebab, kalau semua persoalan hanya berakhir pada penangkapan, pelepasan, pernyataan, lalu saling lempar tanggung jawab, masyarakat akan merasa sedang menonton serial sinetron yang episode akhirnya tidak pernah tayang karena sesuatu dan lain hal.

Dan sisi yang paling menyedihkannya adalah, masyarakat kita tidak punya pilihan selain membayar biaya langganan sinetron itu melalui ketidakpastian politik, kebijakan yang terganggu, dan kepercayaan yang semakin menipis.

“Jadi, menurutmu, siapa yang paling setia dalam politik?” tanya sahabat saya tepat adzan isya mulai berkumandang.

Saya menjawab, mungkin bukan orang yang paling sering mengatakan setia. Sebab kesetiaan tidak selalu terdengar dalam pidato. Ia terlihat ketika seseorang tetap menjalankan tanggung jawabnya meskipun tidak sedang diawasi. Yang tidak berubah setianya itu hanya Charlie Setia Band kelakar saya.

Sebab, kalau kesetiaan hanya ditentukan oleh siapa yang memberi jabatan, siapa yang menyediakan fasilitas, atau siapa yang sedang berkuasa, maka kesetiaan itu sebenarnya bukan prinsip. Ia hanya hubungan transaksional yang menunggu kesempatan untuk berpindah.

Kami menutup diskusi singkat itu guna melaksanakan kewajiban menghadap Yang Maha kuasa, sebab percayalah, dia selalu punya dua penyadap terbaik di kiri dan kanan kita yang tak pernah salah dalam menyadap dan melaporkan langsung hasil sadapannya 24 jam non stop dalam kehidupan kita.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua