Oleh: Airah Amir (Dokter UGD RSUD Kota Makassar)
KabarMakassar.com -- Malam di UGD RSUD Kota Makassar belakangan ini punya pola yang sama. Pasien datang dengan luka panah busur yang menancap atau luka tebas yang menganga.
Pada periode September 2026 saja terdapat 31 korban busur. Ini bukan lagi kasus insidental, malah telah menjadi temuan rutin.
Anak panah yang melesat di jalanan kota Makassar tidaklah berdiri sendiri. Ia adalah tanda runtuhnya peran ruang sosial keluarga, sekolah, lingkungan dan negara dalam mendampingi proses tumbuh remaja.
Meningkatnya kasus ini telah menjadi isu kesehatan masyarakat yang perlu dikaji lebih lanjut terkait tinjauan medis, latar belakang perilaku dan determinan sosial yang menjadi penyebab hal tersebut.
Seperti kasus penyerangan geng motor pada Minggu 4/10/2026 yang menyebabkan seorang mahasiswa berusia 24 tahun mengalami luka tebasan parah akibat senjata tajam dan serangan anak panah busur pada kepala yang menyebabkan kematian pada korban. Diantara pelaku, beberapa diantaranya masih berusia dibawah umur.
Telaah Sosial
Cerita tentang gerombolan laki-laki bermotor yang menyandang busur dan parang kini menjadi cerita harian. Mereka menyergap pengendara di jalan sepi, merampok, menganiaya. Videonya berseliweran di media sosial. Bagi sebagian orang yang terbiasa pulang malam akibat tuntutan pekerjaan dipaksa was-was dengan kejadian ini.
Imbauan resmi dari aparat keamanan meminta warga meningkatkan kewaspadaan dan sedapat mungkin menghindari tempat sepi terlebih pada malam dan dini hari. Kita harus jujur, ini bukan sekadar soal kenakalan remaja. Ini adalah cermin ketimpangan kota. Di kota yang sama, tidak semua orang bisa meraih kesejahteraan yang layak.
Sebagian merasa terpinggirkan. Ketika akses pendidikan dan pekerjaan terasa jauh, sebagian anak muda mencari eksistensi dengan cara yang salah yaitu bergabung dalam geng motor. Mereka merasa unggul dengan senjata tajam, busur, miras, dan narkoba. Kekerasan menjadi pilihan untuk diakui.
Di sisi lain, sangat sulit bagi kita untuk mengarahkan generasi muda berhenti melakukan kekerasan, sedangkan setiap hari mereka terpapar konten kekerasan secara masif melalui YouTube, film, media sosial, gim daring, anime, dan platform lainnya.
Paparan konten kekerasan ini berlangsung lama, rutin dan intens melalui gawai mereka sehingga berdampak nyata pada pembentukan karakter pada anak. Intensitas paparan ini jauh lebih besar pengaruhnya dibandingkan edukasi untuk tidak melakukan kekerasan.
Budaya kekerasan akhirnya terwujud di tengah masyarakat. Persoalan sepele kerap berujung kekerasan, bahkan penghilangan nyawa. Semua ini terekam dan ditiru oleh anak dan makin menancapkan karakter destruktif yang disalurkan dengan melakukan perundungan pada pihak yang dianggap lemah.
Tinjauan Medis
Dari kacamata medis, WHO mendefinisikan kekerasan sebagai penggunaan kekuatan fisik atau psikis yang disengaja dan dapat mengakibatkan cedera, kematian, atau gangguan perkembangan. (Kompas, 19/3/2023). Dalam konteks busur dan parang, kerusakannya sangat fatal.
Anak panah bisa menembus organ vital, merobek pembuluh darah besar dan menyebabkan perdarahan hebat. Tebasan parang bisa memutus otot, saraf, hingga tulang. Ini bukanlah luka biasa.
Sehingga pemahaman mendalam diperlukan bagi tenaga medis, penegak hukum dan masyarakat berkaitan dengan akibat dari cedera yang diakibatkan oleh busur dan pedang, dua jenis senjata yang digunakan oleh kawanan geng motor.
Cedera atau luka akibat kekerasan fisik seperti yang terjadi pada korban busur dan pedang dapat menyebabkan rusaknya kontinuitas jaringan normal bagi korban hidup. Cedera yang dialami pasien dapat disebabkan oleh faktor fisik, kimia dan mekanis yang dapat mengakibatkan luka dan menyebabkan komplikasi.
Akibat dari cedera tersebut bisa merusak struktur internal tubuh seperti organ vital dan pembuluh darah sehingga menyebabkan perdarahan pada organ maupun ekstremitas yang menjadi sasaran busur dan pedang. Beberapa kasus dapat mengancam jiwa atau menyebabkan kebutaan permanen jika mengenai
mata korban.
Merangkai Solusi
Ini adalah trauma yang mengancam nyawa. Mengapa Selalu Berulang?Inilah masalahnya. Penanganan kita masih bersifat reaktif dan tambal sulam. Remaja geng motor ditangkap, ditahan beberapa hari, lalu dikembalikan ke orang tua.
Tetapi beberapa bulan kemudian, mereka berulah lagi, dengan korban baru. Kita lupa bahwa anak pelaku kekerasan ini adalah produk dari sistem yang gagal. Negara baru hadir setelah mereka menjadi pelaku, atau setelah mereka menjadi korban.
Akar masalahnya bukan hanya pada individu anak, tetapi pada relasi keluarga dan sistem pendidikan yang rapuh. Jika dibiarkan, siklus ini akan terus berputar. Hari ini mereka pelaku, besok mereka korban. Generasi tumbuh di antara dua peran itu.
Solusi bukan sekadar razia sebab razia saja tidak cukup. Yang kita butuhkan adalah sistem yang melindungi generasi sebelum mereka memegang busur. Salah satu pilarnya adalah pendidikan. Pendidikan yang tidak hanya mentransfer ilmu, tapi membentuk kepribadian.
Pendidikan yang menanamkan akidah sebagai cara berpikir dan syariat sebagai standar berbuat. Sehingga lahir benteng internal berupa iman dan takwa dalam menjalani peran mereka, baik saat menjadi anak, orang tua, maupun anggota masyarakat.
Tanpa itu, kita hanya akan terus menghitung jumlah korban baru di UGD setiap malam. Wallahu a'lam.