Oleh: A.Bulqis Safirah (Dosen Humas & Komdigi, Universitas Negeri Makassar)
KabarMakassar.com -- Setiap bulan Oktober, dunia memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia. Bagi saya sebagai pendidik, momen ini bukan sekadar seremoni.
Ia pengingat bahwa di ruang kelas, di rumah, dan di sekitar kita ada orang-orang yang tampak baik-baik saja, tetapi sedang berjuang dalam diam.
Gambaran besarnya cukup mengkhawatirkan. Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional Indonesia (I-NAMHS) 2022 menemukan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia memiliki setidaknya satu masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.
Perlu dicatat, ini berbicara tentang masalah kesehatan mental yang mengganggu, tidak selalu gangguan klinis. Namun justru di situlah pentingnya kita peka sejak dini, sebelum persoalan membesar.
Hasil survei yang sama menunjukkan bahwa kecemasan adalah masalah yang paling banyak dialami remaja, jauh melampaui masalah lainnya. Yang lebih memprihatinkan, hanya sebagian kecil dari mereka yang pernah mengakses layanan konseling.
Artinya, persoalannya bukan hanya banyaknya yang berjuang, tetapi sedikitnya yang berani mencari pertolongan.
Kita sering menganggap orang yang aktif, produktif, dan bugar pasti sehat seutuhnya. Padahal tubuh dan jiwa saling terhubung. Pikiran yang terus tertekan bisa muncul menjadi sulit tidur, nyeri tubuh atau lelah berkepanjangan.
Sebaliknya, fisik yang prima tidak menjamin batin yang tenang. Karena itu kita perlu terbiasa melakukan check-in pada diri sendiri, seperti menanyakan diri apa yang sedang dirasakan atau sudah berapa lama perasaan mengganggu ini berlangsung.
Dalam ilmu komunikasi, percakapan dengan diri sendiri ini disebut komunikasi intrapersonal dan ia menjadi pintu pertama sebelum kita mampu bercerita kepada orang lain.
Tidak semua rasa sedih atau cemas berarti gangguan. Namun ada satu patokan sederhana yaitu ketika perasaan itu mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Misalnya sulit fokus belajar atau bekerja, menarik diri dari pergaulan, tidur dan makan berantakan, atau kehilangan minat pada hal yang biasanya disukai.
Jika itu berlangsung berhari-hari dan terasa makin berat, itu tanda bahwa kita butuh bantuan lebih dari sekadar "dikuatkan sendiri".
Setelah mengenali perasaan sendiri, langkah berikutnya adalah mengungkapkannya. Bercerita pada dasarnya adalah komunikasi. Mengubah apa yang kita rasakan menjadi kata-kata agar bisa dipahami orang lain. Ketika perasaan hanya dipendam, ia terus berputar di kepala.
Ketika diceritakan, ia menjadi lebih jelas, lebih ringan, dan lebih mudah dicari jalan keluarnya. Langkah pertama bisa sesederhana bercerita kepada teman, keluarga, atau orang yang kita percaya.
Jika belum cukup, datanglah kepada psikolog atau psikiater. Mencari bantuan profesional bukan tanda lemah dan bukan aib. Itu tanda bahwa kita berani mengenal diri dan memperbaiki apa yang sedang bermasalah pada diri. Stigma yang membuat orang takut dicap "bermasalah" justru sering menunda pertolongan sampai keadaan memburuk.
Di era sekarang, banyak anak muda mulai menumpahkan isi hati kepada kecerdasan buatan (AI), dimana peran AI ini selalu tersedia, tidak menghakimi dan tidak membuat kita malu. Namun komunikasi yang menyembuhkan tidak hanya soal bertukar kata.
Ada empati, tatapan mata, nada suara, keheningan yang menemani dan umpan balik dari seseorang yang mungkin pernah merasakan hal serupa. AI tidak benar-benar merasakan dan tidak bisa menilai apakah kita sedang dalam keadaan berbahaya.
Saat bercerita kepada manusia, emosi kita tersalurkan dan lawan bicara hadir secara utuh. Kehangatan semacam itu tidak tergantikan. AI barangkali bisa menjadi teman berpikir sesaat, tetapi ketika yang kita butuhkan adalah dipahami dan ditolong, bukan sekadar divalidasi atau dibenarkan, carilah orang yang kita percaya atau tenaga profesional.
Kita tidak harus menjadi ahli untuk saling peduli. Mulailah dengan jujur pada diri sendiri dan peka pada sekitar. Tanyakan kabar teman dengan sungguh-sungguh. Dengarkan tanpa buru-buru menasihati.
Dan saat kita sendiri lelah, jangan ragu untuk cari tempat yang nyaman bercerita.
Jangan takut berbicara. Jangan takut datang kepada profesional. Jangan takut dianggap lemah. Sebab di balik keberanian untuk bercerita, kita sedang belajar mengenal diri lebih dalam dan menjadi pribadi yang semakin tangguh.