Oleh : Galuh Kristiningtyas (Mahasiswa Magister Psikologi Soegijapranata Catholic University)
KabarMakassar.com - Ketika budaya bertemu dengan pilihan hidup
Budaya bukan sekadar sesuatu yang diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya juga hidup dalam cara kita berpikir, merasakan, mengambil keputusan, membangun relasi, dan memaknai kehidupan. Bagi masyarakat Toraja, nilai-nilai budaya dapat hadir dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari hubungan kekeluargaan, solidaritas sosial, penghormatan kepada leluhur, hingga pelaksanaan Rambu Solo’ dan Rambu Tuka’. Tradisi tersebut bukan hanya rangkaian upacara adat, tetapi juga dapat menjadi ruang tempat individu dan keluarga memaknai hubungan, tanggung jawab, kebersamaan, serta identitas sebagai orang Toraja.
Pemahaman tersebut membuat keterlibatan dalam adat tidak selalu dipandang sebagai beban. Ada nilai kebersamaan, penghormatan, solidaritas, dan tanggung jawab yang menyertainya. Namun, bukan berarti tuntutan itu tidak menghadirkan tantangan. Sebagai anak, seseorang dapat merasa perlu membantu keluarga ketika upacara adat berlangsung, sementara ia juga memiliki kebutuhan pribadi, pekerjaan, pendidikan, dan rencana masa depan.
Hal ini memunculkan ruang refleksi yang menarik.
Ketika seorang anak harus memilih antara menggunakan sumber daya untuk pendidikan, membangun kehidupan mandiri, membantu keluarga, atau memenuhi tuntutan sosial dalam pelaksanaan adat, keputusan tersebut tidak selalu sederhana. Ada nilai yang sedang dipertemukan: kebutuhan pribadi, tanggung jawab keluarga, solidaritas sosial, dan harapan masyarakat. Di sinilah kekhawatiran menjadi generasi sandwich menemukan relevansinya. Istilah ini umumnya merujuk pada individu yang harus menopang kebutuhan generasi di atasnya sekaligus memenuhi kebutuhan dirinya atau generasi di bawahnya. Dalam konteks ini, kekhawatiran tersebut dapat beririsan dengan tuntutan keluarga dan tanggung jawab adat, meskipun tidak semua keterlibatan adat otomatis menjadikan seseorang generasi sandwich.
Indigenous Psychology: mendengarkan suara dari dalam budaya
Dalam perspektif Indigenous Psychology, perbedaan tersebut penting dipahami melalui pengalaman masyarakat dan makna yang mereka bangun sendiri (Kim et al., 2006). Kita tidak dapat langsung menyimpulkan bahwa adat adalah beban, sebagaimana kita juga tidak dapat menganggap seluruh tuntutan adat selalu mudah atau tidak memberatkan. Pengalaman setiap individu dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, hubungan keluarga, keterlibatan sosial, dan pilihan hidupnya. Oleh karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya apakah adat membebani generasi muda, melainkan bagaimana mereka memaknai tanggung jawab tersebut. Apakah tanggung jawab dipahami sebagai bagian dari identitas, bentuk kepedulian, atau tuntutan yang terkadang sulit dipenuhi?
Penelitian Rempe’ dan Agustang (2025) tentang Rambu Solo’ pada mahasiswa Toraja memperlihatkan adanya dua sisi pengalaman. Di satu sisi, pelaksanaan adat berkaitan dengan pengembangan rasa hormat, kepatuhan, dan tanggung jawab. Di sisi lain, penelitian tersebut juga menemukan persoalan berupa beban finansial dan konflik nilai. Temuan ini menunjukkan bahwa nilai budaya dan tantangan kehidupan dapat hadir secara bersamaan. Menghargai adat tidak berarti mengabaikan kesulitan yang dialami individu. Sebaliknya, mengakui adanya tantangan juga tidak berarti merendahkan budaya.
Melalui Indigenous Psychology, kita tidak terburu-buru menyebut pilihan tersebut sebagai bentuk ketidakmandirian, konflik keluarga, atau penolakan terhadap budaya. Kita justru perlu bertanya: apa makna tanggung jawab bagi generasi muda Toraja? Bagaimana mereka memahami kewajiban terhadap keluarga? Dan bagaimana mereka menegosiasikan nilai yang diwariskan dengan kebutuhan hidup masa kini? Sebab, makna sebuah tindakan tidak selalu dapat dipahami hanya dari sudut pandang orang luar. Kita perlu mendengarkan pengalaman orang yang menjalaninya. Tradisi menjadi titik awal untuk memahami manusia, bukan alasan untuk membuat generalisasi tentang seluruh masyarakat. Dari proses inilah kita dapat membangun pemahaman psikologis yang lebih kontekstual, relevan, dan menghargai keberagaman di dalam budaya itu sendiri.
Cultural Psychology: budaya dan pembentukan konsep diri
Markus dan Kitayama (1991) menjelaskan bahwa budaya berkaitan dengan pembentukan konsep diri (self-construal). Independent self-construal menekankan pemahaman diri sebagai individu yang memiliki tujuan, pilihan, dan kemandirian. Sementara itu, interdependent self-construal menekankan bahwa diri dipahami melalui hubungan sosial, keterikatan, dan tanggung jawab terhadap orang lain.
Konsep ini membantu menjelaskan pengalaman generasi muda Toraja merasa bertanggung jawab membantu keluarga dalam kegiatan adat, keputusan tersebut dapat berkaitan dengan cara ia memahami dirinya sebagai bagian dari hubungan kekeluargaan. Namun, seseorang tidak harus memiliki satu orientasi saja. Generasi muda dapat memiliki keinginan untuk mandiri sekaligus mempertahankan tanggung jawab terhadap keluarga. Di sinilah muncul proses negosiasi psikologis antara tujuan pribadi dan harapan sosial. Ketika keduanya dapat berjalan bersama, keterlibatan dalam adat mungkin memperkuat identitas dan rasa memiliki. Sebaliknya, ketika tuntutan melebihi kemampuan, individu dapat mengalami tekanan.
Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar apakah budaya bersifat kolektif atau individualistis, tetapi bagaimana individu menyeimbangkan kebutuhan pribadi dengan hubungan sosialnya.
Perspektif emic dan etic: mengapa cara pandang berbeda?
Berry (1999) menjelaskan bahwa perspektif emic dan etic dapat saling melengkapi dalam memahami perilaku manusia. Perspektif emic berusaha memahami fenomena berdasarkan makna yang berkembang dalam masyarakat itu sendiri. Sementara itu, perspektif etic menggunakan konsep analitis yang memungkinkan suatu fenomena dipahami dan dibandingkan lintas budaya.
Dalam konteks Toraja, pendekatan emic membantu memahami mengapa keterlibatan dalam Rambu Solo’ dan Rambu Tuka’ dapat menjadi bagian dari identitas dan tanggung jawab keluarga. Sementara itu, pendekatan etic dapat digunakan untuk mengkaji hubungan antara tuntutan keluarga, tekanan ekonomi, dan kesejahteraan psikologis.
Perbedaan ini terlihat ketika sebagian orang yang tidak terlibat langsung dalam kehidupan adat memandang tradisi sebagai beban ekonomi. Sebaliknya, mereka yang tumbuh dalam kehidupan adat mungkin memahami adanya makna kekerabatan dan solidaritas yang tidak langsung terlihat. Namun, emic tidak selalu berarti pandangan orang dalam, dan etic bukan sekadar pendapat orang luar. Keduanya merupakan pendekatan ilmiah untuk memahami fenomena psikologis. Karena itu, penilaian terhadap budaya sebaiknya mempertimbangkan makna lokal sekaligus dampaknya terhadap kehidupan individu.
Menjaga akar, memberi ruang untuk bertumbuh
Pada akhirnya, mungkin yang dibutuhkan generasi Toraja masa kini bukan sekadar nasihat untuk mempertahankan adat ataupun ajakan untuk meninggalkannya. Ada hal yang lebih dibutuhkan adalah ruang dialog antargenerasi, ruang untuk memahami mengapa tradisi diwariskan, nilai apa yang ingin dijaga, dan bagaimana nilai tersebut dapat terus hidup tanpa mengabaikan kenyataan yang dihadapi generasi sekarang.
Budaya yang hidup bukanlah budaya yang tidak pernah berubah. Budaya dapat terus menemukan maknanya melalui pengalaman, refleksi, dan percakapan antargenerasi. Perubahan bentuk praktik tidak selalu berarti hilangnya nilai, sebagaimana pelaksanaan tradisi tidak otomatis menjamin bahwa nilai di baliknya telah dipahami.
Menjadi orang Toraja hari ini mungkin berarti belajar memelihara hubungan dengan masa lalu sambil bertanggung jawab terhadap masa depan. Menghormati leluhur, tanpa kehilangan kesempatan untuk bertumbuh. Menjaga kebersamaan, tanpa mengabaikan kemampuan individu.