Langsung ke konten
Opini Publik

OPINI: Alumni Tak Cukup Bernostalgia

Muswil I ILUNI UI Sulsel pada 17 Oktober 2026 menjadi momentum alumni Universitas Indonesia memperkuat kolaborasi dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Nofisari Diperbarui
Andi Zulkifli Daido - Ketua Panitia Muswil ILUNI UI Sulsel (Dok: Ist)
Andi Zulkifli Daido - Ketua Panitia Muswil ILUNI UI Sulsel (Dok: Ist)

Oleh: Andi Zulkifli Daido (Ketua Panitia Muswil ILUNI UI Sulsel)

 

KabarMakassar.com - Musyawarah Wilayah I Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Muswil ILUNI UI ) Sulawesi Selatan tinggal menghitung jam di perhelatannya. Beberapa sudut jalan para calon sudah mengkampanyekan program mereka pada baliho maupun videotron yang berukuran lumayan besar. Kita perlu apresiasi hal ini sebagai bentuk kecintaan para calon guna membesarkan ILUNI UI Sulsel jika mereka terpilih nantinya.

Namun ada satu paradoks dalam kehidupan alumni perguruan tinggi akhir-akhir ini, dimana semakin tinggi pendidikan yang ditempuh, terasa nampak luas pula semestinya pengetahuan dan jaringan yang dimiliki. Namun, semua itu belum tentu berbanding lurus dengan kontribusi yang dirasakan masyarakat. Pengetahuan dapat berhenti sebagai kebanggaan pribadi, sementara jejaring hanya menjadi lingkaran pertemanan yang sibuk memelihara kedekatan.

Paradoks inilah yang semestinya menjadi bahan renungan menjelang Musyawarah Wilayah (Muswil) I Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) Sulawesi Selatan pada 17 Oktober 2026 di Makassar.

Muswil ini bukan sekadar agenda memilih ketua dan menyusun kepengurusan. Ia merupakan kesempatan untuk menjawab pertanyaan mendasar apakah organisasi alumni akan menjadi ruang nostalgia atas masa lalu, atau justru akan menjadi kekuatan kolektif yang ikut menentukan masa depan daerah ini?

Pertanyaan itu tentu penting, hal ini dikarenakan Sulawesi Selatan memiliki persoalan pembangunan yang tidak sederhana. Ketimpangan antardaerah, kualitas sumber daya manusia, kesempatan kerja, penguatan usaha kecil, pelayanan kesehatan, hingga keberlanjutan lingkungan membutuhkan lebih dari sekadar kebijakan pemerintah. Semua memerlukan pengetahuan, kolaborasi, keberanian mengoreksi keadaan, dan kesediaan berbagai pihak untuk bekerja melampaui kepentingan masing-masing.

Dalam perspektif lain, organisasi alumni semestinya menemukan relevansi yang pas  dimana alumni Universitas Indonesia tersebar di berbagai bidang, mulai dari akademisi, birokrasi, dunia usaha, kesehatan, hukum, politik, hingga sektor sosial, yang menjadikan keragaman ini menjadi modal sosial yang berharga. Tapi perlu kita sadari bahwa modal sosial tidak otomatis menghasilkan manfaat publik. Ia harus diorganisasikan, diarahkan, dan dipertanggungjawabkan.

Sosiolog Robert D. Putnam, melalui pemikirannya tentang modal sosial, menekankan pentingnya jaringan, kepercayaan, dan norma kerja sama dalam kehidupan masyarakat. Jaringan yang sehat memungkinkan orang mengerjakan sesuatu yang sulit dicapai secara individual.

Namun, jejaring yang hanya berputar di antara orang-orang dengan latar belakang serupa berisiko menjadi ruang eksklusif. Hubungan yang erat di dalam kelompok belum tentu menghadirkan manfaat bagi masyarakat di luar kelompok tersebut.

Karena itu, tantangan ILUNI UI Sulawesi Selatan bukan sekadar menghimpun sebanyak mungkin alumni. Tantangannya adalah mengubah hubungan personal menjadi kerja sama produktif, mengubah keahlian individual menjadi pengetahuan bersama, dan mengubah reputasi institusi menjadi manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Ukuran keberhasilan organisasi alumni tidak semestinya berhenti pada jumlah anggota, kemeriahan pertemuan, atau banyaknya tokoh yang hadir dalam acara. Ukuran yang lebih substantif ialah persoalan apa yang berhasil dibantu penyelesaiannya.

Dan setelah Muswil selesai, tugas nyata sesungguhnya justru baru dimulai. Kepengurusan yang terbentuk perlu menghindari kecenderungan menyusun program sebanyak-banyaknya tanpa menentukan prioritas yang jelas.

Sehingga pada akhirnya, keberhasilan Muswil I ILUNI UI Sulawesi Selatan seyogyanya jangan hanya dinilai dari terselenggaranya pemilihan ketua atau terbentuknya susunan kepengurusan. Keberhasilannya itu justru harus terlihat dari kemampuan organisasi menjaga persatuan, membangun tata kelola yang sehat, dan menghadirkan kerja nyata setelah forum berakhir.

Ikatan alumni tak boleh hanya bangga pernah belajar di kampus besar dan bereputasi terbaik di Indonesia ini. Mereka perlu membuktikan bahwa pengetahuan yang diperoleh dapat menjadi bagian dari jawaban atas persoalan masyarakat.

Selamat Bermuswil!

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua