Oleh: Muh Asrullah Azis (Pemerhati Sosial dan Lingkungan)
KabarMakassar.com - Tepat hari ini, Senin penanggalan 19 Oktober 2026, Sulawesi Selatan sedang berulang tahun yang ke 357 Tahun. Jika bukan soal beberapa ruas jalan propinsi yang masih belum mulus, pertumbuhan ekonomi juga menjadi langganan sorotan nitizen di jagat maya di setiap HUT propinsi tercinta ini.
Seperti yang kita pahami bersama, dalam menakar indeks kemajuan sebuah negara ataupun daerah, pembangunan merupakan hal utama dengan ekonomi sebagai aspek krusial yang menjadi dasar bagi multisektor pembangunan itu sendiri. Sulawesi Selatan merupakan salah satu wilayah besar di kawasan Indonesia Timur yang memiliki komoditas ekspor kompetitif. Bahkan, tingkat kabupaten/kota saja bisa menghasilkan pendapatan yang setara dengan provinsi, apalagi jika seluruh wilayah diakumulasikan dalam satu provinsi.
Kemajuan ekonomi juga tidak terlepas dari partisipasi para pelaku usaha, mulai dari UMKM hingga perusahaan penyedia barang dan jasa. Berdasarkan indikatornya, keberhasilan ekonomi dapat diukur mulai dari tingkat pendapatan per kapita hingga daya beli masyarakat, sehingga dapat meminimalkan risiko inflasi di tengah pergolakan ekonomi di Sulawesi Selatan.
Dalam beberapa grafik yang tersedia beberapa media badan statistik maupun media online tercantum adanya peningkatan melesat ekonomi dari Tahun 2025 : Perekonomian Sulawesi Selatan tumbuh sebesar 5,43% (c-to-c) dengan nilai PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp753,08 triliun (tertinggi sejak pandemi COVID-19) hingga Triwulan I 2026: Ekonomi Sulsel melesat tumbuh 6,88% secara year-on-year (yoy) dengan PDRB Rp191,28 triliun, menempatkan Sulsel dalam 6 besar nasional.
Realitas yang miris kita dapatkan ditengah Masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, tidak sedikit memiliki daya beli yang cukup, sehingga untuk menutupi kebutuhan tersebut yang dikenal banyak kalangan dengan istilah " buy now, paylaters" beli sekarang, bayar nanti serta trending topik juga budaya yang namanya kredit dan koperasi untuk mengakomodir pemenuhan mereka.
Proyek-proyek besar yang dapat mengatasi ekonomi kerakyatan tidak berorientasi lagi terhadap kualitas dan efektifnya kebutuhan tender, tetapi marak terjadi praktik terindikasi nepotisme (yang terdekat akan jelas dapat).
Nepotisme dalam perspektif ekonomi dan tata kelola dipandang sebagai bentuk distorsi pasar serta kegagalan merit system (sistem berbasis kompetensi), di mana keputusan ekonomi dan alokasi sumber daya tidak didasarkan pada produktivitas atau keahlian, melainkan pada hubungan darah atau kekerabatan.
Perspektif Ekonomi Politik (Warisan Orde Baru / Crony Capitalism): Dalam konteks ekonomi politik, seperti dikaji oleh berbagai analis struktur kekuasaan (misalnya dalam dinamika KKN/Korupsi, Kolusi, Nepotisme), nepotisme menjadi "bahan bakar" sistem ekonomi oligarki. Hal ini menciptakan kapitalisme kroni (crony capitalism), di mana akses terhadap modal, lisensi, dan proyek negara dikuasai oleh lingkaran keluarga tertentu.
Petter Langseth (2000), dalam Teori Tata Kelola & Pencegahan KKN . Dimana dalam teori tata kelola publik dan integritas ekonominya, Langseth menekankan bahwa nepotisme tumbuh subur karena adanya peluang, tekanan (pressure), dan rasionalisasi. Ini merusak iklim investasi yang sehat dan menciptakan biaya transaksi tinggi.
Untuk itu perlu menjadi acuan bahwasannya agar terjadi peningkatan ekonomi dengan profesional dan relevan menjadi perhatian para pelaku bisnis dan pemegang kebijakan agar mengutamakan kualitas dan produktivitas, daripada isi tas dan kedekatan persuasif (lobby), sebab diseluruh pasar baik lokal maupun global yang menjadi perhatian dan pencarian hanyalah kualitas sehingga mampu lebih memajukan ekonomi rakyat yang berkompeten.
Selamat Hari Jadi yang ke-357 Sulawesi Selatan. Semoga semangat kebersamaan selama ini memacu kita semua diberbagai Kabupaten/ Kota untuk terus membenahi tata kelola daerah, menjaga amanah rakyat, dan tentu selalu memastikan buah pembangunan yang dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat hingga ke pelosok daerah. Ekonomi tumbuh, swasembada pangan, jaya infrastruktur.
Ewako Sulsel!