Opini: (Tanpa) Penghargaan

Opini: (Tanpa) Penghargaan

Opini: (Tanpa) Penghargaan

Catatan M.Dahlan Abubakar

Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia selalu diiringi dengan berbagai penyerahan penghargaan kepada mereka yang dianggap pernah mengabdi dan berprestasi. Bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), penghargaan yang diberikan adalah Satya Lencana Karya
Satya. Ini merupakan bentuk penghargaan kepada mereka yang sudah mengabdi, mulai 10, 20, hingga 30 tahun.

Tidak hanya Satya Lencana, juga ada penghargaan bagi mereka yang berprestasi dalam pemilihan karyawan/dosen teladan atau memenangi kompetisi apa pun di lingkungan perguruan tinggi, termasuk tingkat nasional.

Penghargaan tersebut berupa piagam dan juga dapat berbentuk lain yang menandakan adanya apresiasi lembaga terhadap prestasi karyawannya. Pada peringatan HUT ke-72 Proklamasi RI ini, saya membaca di media online, seorang dosen di Universitas Bosowa (Unibos) memperoleh piagam penghargaan karena sudah menulis tiga buku jurnalistik. Buku yang tentu saja, sangat saya pahami, karena sudah menekuni ‘urusan’ itu, baik sebagai praktisi selama 30 tahun (bahkan hingga kini), maupun sebagai pendidik.

Membaca berita tersebut, saya tergelitik. Saya bergumam, sudah menulis sedikitnya 25 buku, di antaranya 3 buku biografi pejabat Gubernur Sulawesi Selatan pada masa kepemimpinannya masing-masing. Dan, sejumlah biografi beberapa nama penting lainnya. Juga, memenangi belasan kali (sebagai juara
I) berbagai lomba, sejak tahun 1978 hingga 2013. Dan, dua kali lomba menulis tingkat nasional.

Bertepatan dengan Detik-Detik Peringatan Proklamasi, dari almamater, saya membaca dan melihat di grup WA, seorang dosen yang juga "bawahan" saya,
memperoleh penghargaan Satya Lencana 10 tahun dari rektor. Kembali saya bergumam, kemudian menulis di Grup WA tersebut, kira-kira begini “Saya justru
paling he(boh)-bat, tinggalkan Unhas tanpa Satya Lencana, walaupun lebih dari 20 tahun menjabat Kepala Humas Unhas dan jadi pegawai negeri November
1980", Setiap upacara dan ada penyerahan Satya Lencana seperti ini, saya kadang bertanya-tanya. "Mengapa giliran saya belum juga tiba, padahal sudah akan
purnabakti?’’.

Ada yang mengatakan, penghargaan seperti harus diusulkan. Bahkan ada yang lebih ekstrem menyebutkan, "harus diminta". Siapa yang meminta, pegawai atau dosen yang bersangkutan? Rasanya, yang terakhir inilah yang bertolak belakang dengan nurani saya. Kok penghargaan diminta? Jadi, pantas saja kalau saya harus puas meninggalkan almamater tanpa penghargaan apa-apa.

Saya termasuk orang yang "cuek" menyikapi persoalan seperti ini, tidak mendapatkan sesuatu, sabar, kalau dapat, ya syukur. Saya bersyukur pernah
menerima piagam penghargaan dua kali juara lomba karya tulis tingkat nasional, belasan kali tingkat provinsi, dan dua kali (juara I) memenangi lomba
karya tulis HUT Korpri di kampus dan sejumlah keterlibatan dalam berbagai kegiatan atau kepanitian. Tetapi, semua penghargaan itu sangat berbeda dengan Satya Lencana sebagai apresiasi terhadap karyawan ASN.

Redaksi

Related Articles

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close