Opini: Simpang Lima Bandara Masih Sisakan Macet

Opini: Simpang Lima Bandara Masih Sisakan Macet

Opini: Simpang Lima Bandara Masih Sisakan Macet

Oleh M.Dahlan Abubakar

Kabar Makassar -- Dua hari lalu seorang maha guru ‘’curhat’’ di dinding whatapps-nya tentang kehadiran Simpang Lima Bandara Sultan Hasanuddin. Ketika pulang dari pesantren di Lembang, beliau menyaksikan masih ada hambatan jalan masuk ke arah Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Padahal, perlimaan di sana dari jalan tol akan menghilangkan hambatan masuk ke jalur bandara internasional tersebut. Yang tidak ada hambatan sedikit pun justru jalur Makassar-Maros dan sebaliknya, karena lewat di terowongan.

‘’Yang tidak boleh ada hambatan adalah jalur masuk ke bandara untuk mencegah keterlambatan penumpang pesawat. Mengapa rancangan perlimaan ini terbalik pelaksanaanya, Yang perlu dihilangkan lampu pengatur lalu lintas, justru dipasangi lampu pengatur lalu lintas. Lihatlah di luar negeri, jalan ke bandara benar-benar tanpa hambatan. Mohon diselesaikan,’’ tulisnya panjang.

Diskusi saya dengan maha guru tersebut di WA terjadi, karena beliau lupa koreksi kata ‘’perlimaan’’ yang tertulis ‘’perlimahan’’. Ujung-ujungnya, beliau meminta saya menulis. Dan, saya katakan, memang simpang lima di bandara masih belum menyelesaikan masalah kemacetan yang ada. Baru mengurangi sedikit kemacetan.

Secara sepintas lalu, kendaraan yang bergerak dari dan ke Maros maupun sebaliknya, tidak ada masalah. Itu berlaku bagi kendaraan yang ‘’tidak punya urusan’’ dengan hal-hal yang terjadi di sepanjang jalan di bagian atas kiri dan kanan pada kedua arah itu. Kendaraan pribadi yang hendak ke Maros maupun kendaraan penumpang yang sudah penuh ke jurusan yang sama, akan tetap menggunakan jalur di terowongan.

Namun pernahkah kita berpikir akan halnya dengan kendaraan penumpang. Banyak kendaraan penumpang, terutama ‘’pete-pete’’ diduga masih berusaha mencari penumpang di bagian atas jalan simpang lima itu. Para sopir masih membayangkan akan memperoleh penumpang ‘’tercecer’’ yang malas menunggu di halte kendaraan yang disediakan. Perilaku penumpang di Kota Makassar menghendaki halte itu harus ada bila mungkin setiap 100 m. Itu pun terlalu panjang.

Dengan kondisi jalan di air mancur persimpangan lima sekarang, kemacetan sebenarnya tetap tidak bisa diatasi. Pasalnya, kendaraan dari kota tujuan ke bandara bersumber melalui Jl. Perintis Kemerdekaan dan Jalan Tol akan bertemu di bundaran air mancur. Sedangkan yang melalui tol ke Maros, langsung belok kiri.

Kendaraan yang ke bandara ini akan berpapasan dengan kendaraan dari arah Maros yang hendak masuk jalan tol. Termasuk di antaranya truk-truk raksasa yang memuat berbagai komoditas, baik ke Kawasan Industri Makassar (KIMA) atau langsung ke Pelabuhan Makassar.

Sementara kendaraan dari bandara yang hendak masuk tol pun akan mengalami antre panjang, karena ada pergerakan kendaraan dari Maros yang masuk ke tol. Kendaraan dari bandara yang ke kota melalui Jl. Perintis Kemerdekaan pun, tidak bisa langsung, karena kendaraan yang hendak ke tol kerap menghalangi ruas jalan sebelah kiri yang sebenarnya untuk kendaraan yang berbelok kiri ke Jl. Perintis Kemerdekaan.

Inilah kondisi pergerakan kendaraan di simpang lima bandara yang menjadi bahan pemikiran kita untuk mencari jalan keluarnya.

Jalan keluar

Rancangan simpang lima ini dari awalnya terfokus bagaimana kendaraan dari dan ke Maros atau sebaliknya tidak terjebak kemacetan. Namun di sisi lain, tidak terbayangkan bahwa pada bagian atas jalan pergerakan kendaraan masih tetap akan menimbulkan kemacetan. Akibatnya, kehadiran simpang lima belum seutuhnya memperlancar akses kendaraan yang langsung ke dan dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Kalau pun memang ditujukan demikian, tetapi tidak komprehensif.

Sejatinya, kendaraan yang ke dan dari bandara tidak perlu lagi terlibat dalam kemacetan panjang dan lama. Sekarang ini, justru yang terjadi malah dibuatkan lampu pengatur lalu lintas. Ini diperparah lagi, karena kendaraan yang dari Maros yang hendak masuk tol, antre panjang. Mestinya, kondisi ini sudah dipikirkan.

Tentu saja untuk mengatasi kemacetan ini harus ditangani pada biang kemacetan, yakni di jalan bagian atas yang mengitari bundaran air mancur. Perlu diamati lebih intens lagi benarkah salah satu penyebab kemacetan itu karena masih banyak kendaraan yang seharusnya langsung melintas via terowongan, malah masih melewati jalan atas. Tentu yang dialamatkan adalah kendaraan angkutan penumpang yang terbiasa mencari penumpang.

Supaya tidak ada lagi kendaran yang mencari penumpang di atas, perlu ada halte sebelum cabang ke terowongan dan jalan atas. Begitu pun dari arah Maros juga dibuatkan halte serupa menjelang cabang jalan ini.

Pada jalur jalan bagian atas, perlu diawasi oleh aparat kepolisian. Jika tidak, dipasang papan bicara yang melarang mengambil penumpang di sepanjang jalan itu.

Pemerintah harus berpikir ulang bagaimana pertemuan kendaraan dari arah berlawanan di bagian atas jalan itu dapat dikurangi, sehingga tidak menimbulkan kemacetan. Di tengah kemacetan itu, ikut diperburuk oleh perilaku penggunaan jalan yang tidak menaati aturan lalu lintas. Misalnya menerobos lampu pengatur lalu lintas yang sudah menyala kuning dan merah.

Mungkin perlu dibangun jalan layang di simpang lima ini untuk mengatasi kemacetan tersebut, terutama untuk kendaraan yang menuju ke jalan tol agar tidak terjebak kemacetan dan kepadatan jalan di bundaran air mancur bandara. Kini terpulang kepada pemerintah. [MDA]

Redaksi

Related Articles

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close