News

Opini: Presedential-treshold Dan Kebodohan Politik

Opini: Presedential-treshold Dan Kebodohan Politik

Kabar Makassar --- Terlalu bodoh jika menyimpulkan dengan disahkannya Presidential-threshold itu maka Jokowi bakal tak punya lawan di 2019. Kalau kesimpulannya ke situ, berarti aturan itu benar-benar untuk kepentingan tendensius jangka pendek kelompok tertentu, bukan untuk kepentingan bangsa secara menyeluruh.

Parpol-parpol pendukung aturan itu, jika nantinya ternyata mengajukan Capres yang sama, akan mendapat "hukuman" berupa berkurangnya perolehan suara pada Pemilu 2019. Karena Pemilu itu bersifat serentak Legislatif-Presiden, maka otomatis Capres yang diajukan bakal KALAH. Mengapa? Karena rakyat yang akan menjadi LAWAN langsung Jokowi. Berhadapan dengan kotak kosong pun, Jokowi bakal tidak menang.

Rakyat sudah "aware" dengan politik-tendensi dan cenderung tidak memberi suara pada kekuatan-kekuatan politik yang tendensius.

Tengok parpol-parpol berbasis religius. Yang berbasis Islam tidak menjadi besar. Yang berbasis Kristen hanya bertahan 1-2 musim Pemilu. Tendensi keagamaan tak laku. PDIP yang Mega-centered trend suaranya menurun dari pemilu ke pemilu.

Tendensi kepersoalan juga tidak laku. Demokrat yang juga kena centered-syndrom dengan SBY centrum jeblok habis, turun 3 kali gulung walau pun SBY sempat memegang tampuk kekuasaan 10 tahun. Political-test yang gagal yang dilakukan SBY dengan mengajukan anggota keluarganya sebagai Cagub DKI menjadi pelengkap tanda "awareness" rakyat pada politik-tendensi.

Golkar yang mempertahankan tendensi "selalu bersama kekuasaan" terbukti tak jua mendapat lebih banyak suara lagi dari rakyat.

Rakyat akan mencari Capres yang benar-benar menawarkan pengabdian untuk kepentingan bangsa, secara menyeluruh. Bukan Capres yang lahir dari politik-tendensi. Apalagi, boneka.

Penulis: Canny Watae
Foto: Int.

Redaksi

Related Articles

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close