Opini: Golkar dan Janji Airlangga Hartarto

KabarMakassar.com — Setelah terpilih sebagai Ketua Umum (Ketum) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Golkar (PG), Airlangga Hartarto (AH) berjanji mengembalikan kejayaan PG. AH berjanji mengembalikan PG sebagai partai nomor satu, bukan partai nomor dua apalagi nomor tiga dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 nanti.

Janji itu nampak sulit tercapai mengingat popularitas dan elektablitas PG pada survey opini publik akhir-akhir ini berada di posisi ketiga di bawah PDIP dan Gerindra.

Namun demikian, janji itu tidak mustahil akan terwujud mengingat potensi pendukung kekuatan PG bersifat real dan akan termanifes apabila dikelola dengan baik.

Modal dasar PG untuk bisa bangkit dan menang adalah penerapan manajemen modern dalam pengelolaan partai. Ketokohan di partai ini tidak bertumpu pada satu orang sehingga sistem pengambilan keputusan tidak bersifat vertikal. Ada ruang bagi setiap kader dan pendukung partai untuk bersuara dan mengkritik kebijakan yang tidak berpihak bagi kepentingan rakyat.

Baca juga :   Opini: Laut Natuna Utara, Gagal Paham

Dalam menyelesaikan masalah, PG mengambil pendekatan kolektif, horizontal dalam semangat musyawarah mufakat. Sehingga tak ada tindakan atau kebijakan sepihak. Meski kontrol oleh sekelompok kecil elit partai tetap eksis namun kontrol ini bersifat fleksibel dan horizontal.

Hal ini telah dibuktikan dalam beberapa peristiwa. Wakil Presiden Jusuf Kalla (Wapres JK) sendiri mengakui bahwa dalam 3,5 tahun, PG telah memiliki 4 Ketum dan 1 plt Ketum. Namun dalam kurun waktu itu, PG dapat menyelesaikan masalah internal dan dualisme kepemimpinan dengan baik. Meski demikian, Wapres JK tidak menghendaki masalah berulang dan berharap AH dapat menyesaikan tugas Ketum sesuai priode nya.

PG sekali lagi memperlihatkan kedewasaan berpolitik dalam Munaslub kemarin.

Munaslub berlangsung tanpa riak. Semua telah diatur dengan rapi. DPD I dan II nampak patuh pada keputusan DPP PG untuk tetap berpegang pada proses aklamasi pemilihan Ketua Umum DPP PG. Salah satu alasannya meminimalkan proses transaksi politik uang. Meski dengan konsekuensi sistem instruksi dari atas diberlakukan lagi. Proses aklamasi ini berlangsung cepat dan tuntas karena kebetulan tidak ada kader lain yang mencalonkan diri.

Baca juga :   Pro Kontra Film G30SPKI

Saat para kader kasak kusuk tentang susunan pengurus. Berkali-kali Ketua Dewan pakar (Wankar) Agung Laksono menekankan dalam pidato dan himbauannya agar rekruitmen pengurus berdasarkan prinsip Prestasi, Dedikasi, Loyalitas, dan Tak Tercela (PDLT).

Ketua Wankar sangat kukuh memperjuangkan Munaslub dan mendudukkan pemimpin DPP PG yang berprinsip PDLT.

Prinsip PDLT sangat krusial dalam membangun kembali PG dari keterpurukan.
PDLT adalah panduan karakter yang harus dijunjung tinggi oleh setiap kader Beringin.

Hari ini, tantangan bagi Ketum Airlangga Hartarto adalah menerapkan prinsip PDLT dalam rekruitmen pengurus DPP PG. Hal ini sangat signifikan karena DPP adalah hulu yang akan mengalirkan spirit dan komitmen PDLT hingga ke hilir.

Baca juga :   Opini: Absolutisme Hitler dan Ancaman Demokrasi Indonesia

Bila berpegang dengan prinsip ini, maka Ketum DPP PG sudah menyelesaikan 70% masalah yang menggerogoti PG selama ini. Selanjutnya pemilihan pengurus juga memperhatikan aspek keaktifan, keteguhan, keinginan maju dan kebersamaan.

Hanya dengan itu, upaya menciptakan Partai Golkar sesuai dengan tekad Ketum Airlangga Hartarto yakni Golkar Bersih, Golkar Bangkit untuk Indonesia Sejahtera dapat terwujud.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing Ketum DPP PG yang baru agar dapat mewujudkan janji untuk mengantarkan PG ke Kejayaan yang hakiki.  (*/enr)

Penulis Notrida Mandica