News

Opini: Pensiun & Candu Politik

Opini: Pensiun & Candu Politik

Kabar Makassar --- Sejarah mengajarkan, politik itu senantiasa keruh, bahkan cenderung kotor. Tapi sayangnya, ia juga candu yang melenakan. Dihembus-hembus dengan semilir anginnya, diayun-ayun dalam buaian pemujanya, ditimang-timang dalam kehangatan seperti bayi yang terlelap di kelonan kain cukin -- siapa tak betah?

Karena itulah tidak mudah untuk pensiun. Tak gampang ditemui mereka yang sudah menikmati gemilang kekuasaan rela menempuh jalan sepi lagi. Tanpa pengawal, tanpa ajudan, tanpa tepuk tangan.

Hampir 20 tahun silam, sang patriark Orde Baru, Jenderal Besar Soeharto mengejutkan Indonesia dengan keinginannya untuk: lengser keprabon madeg pandhita. Hari itu, 20 Oktober 1997, sudah 31 tahun lamanya ia anteng di puncak singgasana.

Apa tugas pandita? Ini kata Soeharto sendiri. “Yang pertama adalah, mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kedua, mengasuh anak, cucu dan cicit supaya menjadi orang berguna bagi bangsa dan negara. Kepada masyarakat yang membutuhkan akan memberi saran-saran atau uwur-uwur sembur.”

Dalam tangkapan para awam, Soeharto hendak melepaskan jabatannya kemudian undur diri ke bilik yang sunyi menjadi pandita.

Tapi Harmoko, sang punakawan Orde Baru, datang dengan tawaran angin sorga: “Setelah bertanya ke rakyat Indonesia, mereka masih menginginkan Bapak Soeharto kembali menjadi Presiden”. Saya bayangkan, perasaan sang calon pandita melambung tinggi. Ia pun dicalonkan lagi dan tentu saja terpilih.

Setahun kemudian, 1998, Harmoko pula yang datang dan memaksa Soeharto mengundurkan diri. Indonesia pun memasuki babak anyar Era Reformasi dengan segenap kisah baru.

Seperti kita tahu, beberapa tahun lalu Soeharto berpulang, dan Harmoko kini tak ada kabar berita.

Begitulah.

Tidak mudah untuk pensiun, sekadar menegakkan bahu lalu melangkah menjauh dari lampu gemerlap kekuasaan. Apalagi, di jalan pulang, harus berpapasan dengan laron-laron yang terbang mengejar cahaya yang ditinggalkan.

Kepada mereka yang bisa pensiun dengan tenang, kita ucapkan selamat. Masa pensiun bukanlah perbatasan antara bekerja dan tidak bekerja, atau menjadi pejabat dan bukan pejabat, menjadi presiden dan mantan presiden. Ia juga bukan batas antara kebesaran yang nyata dan bayang-bayang. Pensiun adalah sebuah kesempatan untuk membentuk hidup yang paripurna.

Ada sepenggal lagu populer empu jazz Bing Crosby dan Louis Armstrong yang menghibur para pensiunan di tahun 40-an. Lagu Gone Fishin’ seperti mewakili suara hati para pensiunan yang justru memulai hari bahagia mereka di hari ketika tuntutan kerja tidak lagi menumpuk.

Gone fishin' by a shady wady pool
I'm wishin' I could be that kind of fool
I'd say no more work for mine
On my door I'd hang a sign
Gone fishin' instead of just a-wishin'

Salam hormat untuk para pensiunan ...

Penulis: Tomy Lebang
Foto: Int.

Redaksi

Related Articles

Leave a Reply

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close