News

Opini: Novel Baswedan Angkat Bicara

Opini: Novel Baswedan Angkat Bicara

Kabar Makassar --- NOVEL BASWEDAN. Lelaki ini bukan sekadar sosok seorang penyidik KPK. Ia telah menjelma jadi salah satu simbol penegakan hukum dan anti-korupsi di negeri ini.

Untuk keteguhannya sebagai penyidik itu, lelaki pendiam ini membayar mahal: kornea mata kirinya kini rusak total disiram air keras selepas subuh bulan April silam.

Berobat sampai ke Singapura, Novel tetap kehilangan fungsi penglihatan di mata kirinya, mata kanannya pun tak pulih benar seperti sedia kala.

Syukurlah, tetap ada harapan lewat teknologi kesehatan mutakhir. Dokter tengah mengupayakan mengganti jaringan yang rusak itu dengan jaringan gusi. Gusi dipilih karena, meski diambil, jaringannya akan tetap tumbuh.

Inilah blak-blakan Novel Baswedan kepada Harian KOMPAS yang dimuat di halaman depan, Selasa 25 Juli 2017.

-----

Setelah kejadian, ada informasi Anda dapat foto pelakunya dari Densus 88?

Saya dihubungi secara tidak langsung melalui keluarga dan kemudian saya hubungi balik. Ternyata senior saya dan yang bersangkutan menyampaikan bahwa ada tim yang dibentuk Kapolri. Saya langsung surprise karena sekitar seminggu atau beberapa hari saja dilakukan langkah yang, menurut saya, bagus. Saya, kan, penyidik, saya tahu cara mengungkap perbuatan yang begitu. Kemudian yang bersangkutan menyampaikan foto kepada saya. Jadi, kalau foto itu dari saya, enggak benar. Foto itu dari Polri, dari perwira menengah Polri. Saya yakin proses perolehan foto itu secara profesional dan saya mengapresiasi. Belakangan itu dimentahkan lagi. Bagi saya terserah saja.

Foto itu dikonfirmasi kepada Anda?

Sejak awal saya bilang kepada semua penyidik atau anggota Polri yang bertanya, saya tidak lihat pelaku. Ini menjelaskan, sejak pertama kejadian, saya berulang kali memberi keterangan. Tidak benar kalau ada yang menyatakan saya tidak pernah memberi keterangan. Memang, keterangan bukan dalam bentuk BAP. Ada beberapa tetangga, saya bilang beberapa, karena saksi perbuatan ini banyak. Dan, mereka menyatakan, iya, pelakunya itu.

Yakin pelakunya bakal ditangkap?

Kemarin yakin. Sekarang saya yakin pelakunya tidak akan ditangkap. Soal nanti berubah, ya, semoga Polri mengambil langkah yang positif. Bagi saya, menangkap atau tidak menangkap, kepentingannya banyak.

Dengan semua infrastruktur Polri, sebenarnya polisi mampu tidak mengungkapnya?

Bukan cuma pelaku lapangan, auktor intelektualisnya pun bisa. Tidak sulit. Polisi ini terlatih dan punya pengalaman banyak. Banyak kasus teroris di Indonesia, Anda tahu, ini tidak mudah, tetapi Polri mampu.

Apa karena, kalau auktor intelektualisnya terungkap, banyak kepentingan yang terganggu dan terseret kasus ini?

Di antaranya seperti itu. Ada kemungkinan. Informasi-informasi yang saya terima bahwa ada oknum di internal Polri yang terlibat membuat salah satunya enggak berani mengungkap kasus ini. Saya berkeyakinan itu benar.

Informasi soal dugaan keterlibatan oknum jenderal polisi itu dari mana?

Begini, informasi yang masuk kepada saya banyak, baik dari internal Polri, media, maupun masyarakat. Saya punya beberapa hal yang saya bisa duga bahwa informasi itu besar kemungkinan adalah kebenaran.

Kapolri sudah beberapa kali bertemu dan bicara langsung dengan Anda, sebenarnya adakah komitmen kuat untuk mengungkap kasus ini?

Saya melihat Beliau sosok intelektual Polri. Di antara senior-senior saya di Polri, Beliau sosok yang ingin mengubah Polri menjadi lebih baik. Cuma enggak mudah mengubah begitu. Butuh pengorbanan dan komitmen. Kalau enggak, berat. Tantangan dan hambatan pasti banyak. Resistensi apalagi.

Teror ini apa karena kiprah Anda menyidik kasus KTP-el?

Saya enggak ingin mengerucutkan ke satu hal saja karena semua peluang bisa saja terjadi. Bisa juga karena kepentingan-kepentingan yang lain atau terakumulasi karena beberapa kepentingan.

Jika setelah Anda pulih, pelaku terornya tak terungkap, apakah ada risiko yang sama?

Saya pada dasarnya memahami, setiap kejadian itu takdir Allah. Siapa pun orangnya, sekuat apa pun dia, dia tak bisa berbuat apa-apa kecuali oleh izin Allah. Di situ saya sama sekali tidak takut. Cuma yang saya takutkan tadi, aparatur yang berkewajiban (mengungkap pelaku) tidak dipercaya lagi. Itu yang jadi problem dan negara akan dipandang gagal melindungi aparaturnya.

Keberanian Anda tidak berubah setelah teror ini?

Insya Allah tidak. Logikanya begini, berbuat jahat saja orang berani, masa kita yang berbuat baik malah enggak berani. Bagi saya, segala sesuatu itu terjadi karena kehendak Allah. Itu yang membuat saya yakin, saya harus berani.

Penulis: Tomy Lebang
Foto: Int.

Redaksi

Related Articles

Leave a Reply

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close