News

Opini: Libur bersama dan Kebijakan salah kaprah ?

Opini: Libur bersama dan Kebijakan salah kaprah ?

Kabar Makassar--- Bukan saya mempersoalkan libur atau cuti bersama-nya. Tetapi manajemennya. Libur/cuti bersama sekaitan hari raya (untuk standar Indonesia) adalah wajar. Hanya saja, "governing" atau penatalaksanaannya jangan seperti yang barusan ini: tetiba keluar keputusan, dengan muatan kebijakan yang membutuhkan koreksi ekstra bagi para eksekutor kebijakan.

Hari Raya seperti Idul Fitri sudah pasti datangnya. Sejak awal tahun ini, atau tahun lalu, atau tahun-tahun sebelumnya pun, datangnya Idul Fitri sudah pasti. Setidaknya sampai skala hari sudah bisa diketahui rentang tanggal perayaannya. Dengan demikian, pengaturan libur atau cuti bersama dapat dilakukan jauh hari sebelumnya.

Keputusan yang keluar kemarin, semestinya dapat dilakukan pada awal tahun ini, atau setidaknya 3 bulan lalu. Atau bahkan bisa sejak tahun lalu saat anggaran disusun. Dengan begitu, para eksekutor kebijakan dapat menjalankan kebijakan cuti bersama itu dengan sebaik-baiknya, kalau perlu tanpa melakukan koreksi ekstra.

Contoh: seorang kepala daerah dapat mengatur ke bawah pola penanganan layanan publik saat cuti bersama berlangsung. Honor bagi pegawai pemerintahan yang harus tetap bekerja demi tetap terselenggaranya layanan publik dapat ditetapkan. Siapa yang bisa cuti total dan siapa yang cuti sebagian dapat ditetapkan. Ini hanya dapat dilakukan dengan baik dengan kebijakan yang sifatnya bukan tiba-tiba.

Contoh lagi: Keputusan bahwa tanggal 23 Juni sudah terhitung sebagai masa cuti bersama membuat Bank Indonesia yang setiap hari melayani ratusan ribu kliring harus menutup layanannya. Sebelumnya, dalam "jadwal" semula, BI masih akan menyelenggarakan layanan pada tanggal tersebut. Tetapi, karena adanya keputusan dadakan, BI mau tidak mau menyesuaikan diri (koreksi ekstra) dengan keputusan itu (meskipun sebenarnya BI dengan Dewan Gubernur-nya adalah sebuah sistem "Government" sendiri yang dapat saja menentukan tetap beroperasi).

Meskipun pejabat BI telah diberitakan menyatakan tutup layanan tanggal 23 Juni 2017 di media umum, tetapi situs resmi BI sendiri "belum sanggup" merespon koreksi tersebut. Di situs BI sampai siang ini (Jumat, 16 Juni 2017) kabar terbaru BI adalah tanggal 23 itu masih ada layanan. (Link saya tempatkan pada bagian komentar).

Ini adalah contoh bagaimana mencetuskan kebijakan itu jangan dadakan. Kesannya populis (bikin semua senang) dan sederhana (dalam membuat kebijakan). Tetapi, dalam tataran eksekusi, koreksi-koreksi ekstra harus dilakukan.

Pada tataran masyarakat yang adalah "pelaksana sejati" dari kebijakan dadakan itu, banyak koreksi harus dilakukan.

Rerata layanan transaksi kliring di BI, sebagai sampel contoh, adalah 300 ribu transaksi per hari. Apabila jauh hari sebelumnya sudah diatur, masyarakat akan mudah menyesuaikan. Karena aturannya dadakan, maka 300 ribu transaksi itu harus berpindah. Entah dimajukan, atau dimundurkan. Tetapi bukan maju-mundurnya yang menjadi soal utama. Melainkan, transaksi "sosial" yang akan melatarbelakanginya. Misalnya, sebuah usaha kecil yang jatuh tempo pembayarannya tanggal 23, kalau mendapat persetujuan bayar mundur setelah tanggal itu, tentu bukanlah masalah. Tetapi, kalau diwajibkan maju tanggal bayarnya, sementara kas belum cukup? Itu baru satu. Bagaimana dengan ratusan ribu lainnya, dengan ragam soal masing-masing?

Untuk pegawai negeri yang wajib masuk pada tanggal 23, dari mana honor mereka dibayarkan? Sebelumnya, kerja mereka di tanggal tersebut adalah kerja biasa. Kecuali, kalau memang pemerintahan kita memang akan selalu kita perlakukan sebagai sesuatu yang dapat dijalankan tanpa mikir.

So, bukan soal libur atau cuti bersama yang jadi masalah di sini. Tapi, "governance" nya. Bagaimana menatanya. Kalau meng"govern" hari libur yang "predictable" seperti ini saja sudah bikin eksekutor kebijakan harus mengambil langkah koreksional sana-sini, bagaimana meng"govern" urusan yang lebih besar? Upsss, jangan bilang salah tanda tangan, yakk... Karena sudah pernah. He he he..

Penulis: Canny Watae
Editor: Dim

Redaksi

Related Articles

Leave a Reply

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close