News

Opini: Laut Natuna Utara, Gagal Paham

Opini: Laut Natuna Utara, Gagal Paham

Kabar Makassar --- Penamaan Laut Natuna Utara segera ditiup menjadi "sesuatu yang hebat" dari seorang Jokowi. Ini, di satu sisi sungguh lucu. Di sisi lain -sebenarnya- memalukan.

Pertama, untuk penamaan perairan seperti itu (dinamai "sesuka hati" oleh kita) sudah pernah dilakukan, namun kita tidak memiliki 'kekuatan memaksa' (force) untuk menjadikannya acuan internasional. Sebut saja: Samudera Indonesia. Kita menamai demikian pada samudera luas di selatan dan barat negara kita. Tetapi, sampai sekarang dunia internasional hanya mengenal nama "Indian Ocean" (terjemahan Indonesia-nya adalah Samudera Hindia) atas samudera yang kita namai "Samudera Indonesia" itu. Dalam lain perkataan: penamaan a la Indonesia itu hanya sebatas pengantar penyebutan nama lautan dalam pelajaran Geografi kita.

Kedua. Penamaan Laut Natuna Utara itu menyalahi pakem penamaan laut secara geografi. Penamaan wilayah perairan untuk wilayah laut mengacu pada nama pulau di bawahnya. Laut Sulawesi dinamakan kepada perairan di atas Pulau Sulawesi. Laut Jawa dinamakan kepada perairan di atas Pulau Jawa. Laut Flores dinamakan kepada perairan di atas Pulau Flores. Untuk laut dengan karakteristik selat, penamaan mengambil nama tempat (biasanya titik destinasi dari perjalanan laut di masa lalu) di sebelah kanan. Misal, laut yang memisahkan Pulau Sulawesi dengan Pulau Kalimantan dinamai Selat Makassar. Laut yang memisahkan Jawa dan Bali dinamai Selat Bali. Laut yang memisahkan Pulau Sumatera dengan Kepulauan Karimata di lepas pesisir Pulau Kalimantan dinamai Selat Karimata. Selat antara Sumatera dan Jawa dinamai Selat Sunda (Sunda lebih kanan di peta bumi). Karena posisi Malaka ada di kanan relatif terhadap Sumatera, maka kita pun menerima selat di antara Pulau Sumatera dengan Semenanjung Malaya dinamai Selat Malaka.

Nah, penamaan Laut Natuna Utara itu atas patokan apa? Laut Natuna (tanpa kata "Utara") itu sendiri sudah ada. Yaitu kawasan laut yang ada di sekitaran Kepulauan Natuna yang secara hukum memang berada dalam zona perairan negara kita.

"Kelucuan" segera tampak. Laut Natuna Utara itu rupanya diberikan untuk mengganti nama sebuah laut yang sudah berabad-abad memiliki namanya sendiri. "Memalukan"nya adalah itu adalah perairan internasional. Laut itu adalah Laut China Selatan (South China Sea).

Pihak China sendiri oleh dunia internasional dinilai keliru menyatakan bahwa Laut China Selatan adalah wilayah kedaulatannya KARENA namanya saja Laut CHINA Selatan (karena ada China-nya maka laut itu adalah milik negara China). Penamaan Laut China Selatan semata-mata karena daratan China ada di tepi laut tersebut, dan letak laut berada di sebelah selatan daratan tersebut. Maka disebutlah perairan itu dengan nama Laut China Selatan. Bukan berarti laut tersebut milik China.

Lha, sekarang, kok ya Indonesia sekonyong-konyong masuk dan mengintrodusir nama baru pada perairan yang bukan wilayahnya? Kita ini mau apa? Pada saat China dinilai keliru menafsir hak kepemilikan atas Laut China Selatan hanya karena ada kata "China" dalam nama laut itu, salah salah kita nanti dinilai koplak karena tiba-tiba masuk mengganti nama lautnya dengan nama pilihan kita sendiri. Sudah begitu, menyalahi pakem pula. Pula, apakah kita memiliki daya yang cukup untuk enforcing (memaksa) penamaan a la kita? Mungkin saja iya, khususnya situs-situs internet dalam negeri yang gegap gempita "mengelu-elu"kan nama Jokowi, ditambah buzzer buzzer pencari makan. Sementara di Laut China Selatan itu sendiri, China punya armada perang dengan dukungan kapal induk.

Penulis: Canny Watae
Foto: portalindonesianews.com

Redaksi

Related Articles

Leave a Reply

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close