Opini: KPK Tak Libur Lebaran

Kabar Makassar— KPK Tak Libur Lebaran Dekat-dekat Lebaran ini tulang-tulang, sendi-sendi dan saraf-saraf KPK biasanya justru sangat waspada. Operasi Tangkap Tangan mereka gelar di berbagai tempat.

Kemarin pejabat-pejabat Kota Mojokerto, besok entah giliran siapa dan di mana. Mungkin nilainya kecil, tapi keserakahan yang tak pudar-pudar di bulan yang suci sungguh layak jadi urusan besar KPK.

Menjelang Lebaran. Jumat 17 Agustus 2012, satu tim KPK menangkap dua hakim adhoc Tipikor bernama Kartini Marpaung dan Heru Kusbandono bersama pengusaha Sri Dartuti di halaman kantor Pengadilan Negeri Semarang, Jawa Tengah.

Tim KPK juga mengamankan uang suap senilai Rp 150 juta. Istri Heru telah mengingatkan suaminya: “Jangan macam-macam, ada KPK yang awasi.” Tapi Heru Kusbandono yang telah silau hanya menjawab singkat: “Udaaah. KPK nggak bakal nangkap di hari libur lebaran.”Dan ia tertangkap.

Menjelang Lebaran. Jumat 10 Juli 2015. KPK mencokok Ketua PTUN Medan Tripeni Irianto Putro, Hakim Amir Fauzi, Hakim Dermawan Ginting, dan Panitera Syamsir Yusfan.

Mereka tertangkap tangan menerima suap dari pengacara muda Yagari Bastara dari kantor pengacara OC Kaligis, Jakarta. Mereka semua ditetapkan jadi tersangka. Menjelang Lebaran tahun ini. Anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat kembali tertangkap tangan oleh KPK. Ia anggota Komisi 3, komisi yang memilih pimpinan KPK. Ironis, karena baru beberapa hari lalu ia berkoar-koar menasehati KPK untuk meningkatkan kinerja.

Siapa gerangan? Inisial IP… eh, tunggu keterangan resmi KPK siang ini. Menjelang Lebaran dan orang-orang tamak tak tobat-tobat juga. Saya dengar KPK kini memiliki alat sadap baru, mutakhir, dengan kemampuan memilah-milah percakapan yang mengarah ke tindak penyuapan dan korupsi di antara puluhan ribu percakapan sekaligus.

Tapi bukan karena alat canggih itu semata-mata sodara-sodara. Ini karena bertemunya orang-orang serakah dengan KPK yang tak pernah libur — bahkan menjelang Lebaran.

Penulis: Tomi Lebang
Editor: Yusri