News

Opini: Ke Indonesiaan Kita Apa Sedang Rapuh?

Opini: Ke Indonesiaan Kita Apa Sedang Rapuh?

Kabar Makassar--- Apa sesungguhnya yang terjadi? Mengapa keindonesiaan kita tiba-tiba begitu rapuh justru ketika kita hendak merayakan hampir dua dekade reformasi?

Itu pertanyaan pembuka artikel Profesor Syamsuddin Haris "Mengapa Politik Keruh" di Harian Kompas, pagi ini. Pilkada DKI yang mengharu-biru telah usai. Pemilihan Presiden yang membelah negeri bahkan sudah hampir tiga tahun berlalu.

Salah satu jawabannya, kata Syamsuddin, pasca-Pilpres 2014, rekonsiliasi politik di tingkat elite tampaknya berlangsung "semu", sementara rekonsiliasi sosial di tingkat akar rumput tak terjadi. Akibatnya, luka politik dan sosial bukan hanya tak kunjung sembuh, melainkan juga cenderung terpelihara.

Ironisnya, "tak sedikit pula orang atau kelompok orang yang mau bekerja profesional sebagai operator untuk "memelihara" luka politik dan sosial, bahkan mungkin juga "merawat" dendam politik yang belum lunas terbayar."

Artinya, semua ini masih akan berlanjut!

Kalau begitu, menjelang Idul Fitri nanti, masih perlukah kita yang kerap bersenggolan di dunia maya ini untuk bermaaf-maafan?

Sementara kita tahu, segala topik yang membelah ini, cela-celaan halus dan kasar ini, perkubuan ini, masih akan berlangsung seusai Lebaran nanti?

Penulis: Tomi Lebang
Editor: Dim

Redaksi

Related Articles

Leave a Reply

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close