Opini: Jejak Korupsi Sang Belut

nasionalisme.net
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Kabar Makassar — Kasus cessie Bank Bali, limbah B3 di Batam, rapat-rapat setengah kamar untuk meminta bagian proyek-proyek rekonstruksi pasca tsunami Aceh, korupsi Wisma Atlet SEA Games Palembang, e-KTP, impor beras dari Vietnam ……

Dan lain-lain. Sebutlah semuanya, dan kita akan mengeja abjad yang nyaris lengkap sebuah ensiklopedia kasus korupsi.

Tapi ia selicin belut, tangan hukum terkulai di hadapannya. Bukti-bukti raib. Mata rantainya terputus.

Suatu hari di masa-masa pengusutan kasus Bank Bali, jaksa menyebut hendak memeriksa lokasi rapat persekongkolan gelap di lantai 12 sebuah hotel ternama di Jakarta, esok siang. Rencana sang jaksa bocor. Malam itu ratusan tukang dikerahkan: menghilangkan satu lantai gedung — lantai 12 itu — lengkap dengan angka 12 pada nomor kamar dan tombol lantai elevator.

Oh ya, seorang wartawan TEMPO pernah mewawancarainya tentang sebuah peran gelap di satu kejahatan besar. Seusai wawancara, diselipkannya sebuah amplop tipis. Isinya selembar cek. Di matanya, semua orang bisa dibeli. Seperti biasa.

Beberapa hari kemudian, sekretariat redaksi TEMPO yang memang bertugas mengembalikan pemberian para narasumber durjana, mengantar kembali amplop itu. Ia tak terima, ia terhina. Dirobeknya lembaran cek itu. Tak biasa ia ditolak bersekongkol.

Ah, sudahlah…. ini negeri, selalu melahirkan aneka kisah tentang penjahat yang bersembunyi di balik bayang-bayang, selicin belut, dan tetap dipuja-puja.

Mendiang Baharuddin Lopa pernah bertanya — kepada saya — “Mengapa korupsi tak bisa diberantas di negeri ini?” Lopa menjawabnya sendiri. “Karena kita tak percaya bahwa korupsi bisa diberantas.”

Lalu siapa gerangan tokoh selicin belut itu sodara-sodara? Alaaa… Kalian ini, sudah gaharu cendana pula. Sudah tahu bertanya pula.

Penulis: Tomy Lebang
Foto: nasionalisme.net

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.