OPINI : Geli-geli Sedap APBD DKI

Canny Watae. [Int.]

KabarMakassar Saya geli-geli sedap membaca seliweran “serangan” soal APBD DKI. Seberbusa apa pun “serangan” yang dilancarkan, penyerangnya gagal-logis pada tingkat sangat dasar: yaitu APBD 2017 yang sekarang sedang dijalankan adalah produk legislasi Gubernur sebelumnya dengan DPRD-nya.

Ada pun APBD 2018 yang akan datang masih akan mengandung bayang-bayang Gubernur lama. Mengapa? Karena pengumpulan aspirasinya dimusrenbangkan pada tahun 2017 ini pada saat mana Gubernur lama (dan pelanjut masa jabatannya) masih memegang kendali anggaran.

Baca juga :   Opini: Strategi Sederhana Pencegahan Penggunaan Narkoba Melalui Keluarga

Anggaran Gubernur Anies baru akan terlihat pada musim pembahasan anggaran Perubahan 2018, yang mana akan dimulai baru pada pertengahan tahun depan.

Ah, tambah “geli” lagi kalau muncul pernyataan “sudah DIKUNCI” sama Gubernur lama (sehingga Gub Anies diasumsikan “tak berdaya” dan “tak bisa macam-macam”). Apa-apaan ini? Tahukah anda, APBD itu adalah anggaran publik.

Baca juga :   Opini: Novel Baswedan Angkat Bicara

Ia bersifat terbuka dan accessible (dapat diakses). Segala bentuk hambatan terhadap akses tersebut (termasuk “kunci-kuncian”) adalah pelanggaran hukum. Itu melanggar UU Keterbukaan Informasi Publik 2008.

Penghambatnya bisa kena pidana (!). Do you know it? Kalau yang dipahami sebagai “kunci-kuncian” ini adalah komputer penyimpan file APBD itu di-password dan password-nya itu disimpan oleh Gub lama, ini mah bikin tambah ngakak.

Baca juga :   Pro Kontra Film G30SPKI

Agar enggak ribut-ribut, itu komputer digudangkan aja ama Gub Anies. Lalu Gub panggil Bappeda untuk buka dokumen cetakan (hard-copy). Apa susahnya? Kalau yang “blo-on”, nyata jelas.

Eh, Jangan Tensi yakkk