OPINI : Bondan Winarno dan Skandal Bre-X

Tomi Lebang. (transtipo.com)

KabarMakassar.com, — DUA puluh tahun yang lalu. Sebelum pukul 10.13 pagi, Michael Antonio Tuason de Guzman duduk di kursi belakang helikopter Alouette III yang dipiloti penerbang Letnan Kolonel Edi Tursono dan juru mesin Andrean.

Helikopter itu lalu lepas landas dari Bandara Temindung di Samarinda menuju satu titik pangkalan tambang emas Busang di pelosok Kalimantan Timur.

Baru 17 menit mengudara meninggalkan kota Samarinda, pada ketinggian 800 kaki dan kecepatan 90 knots, pilot dan juru mesin merasakan hempasan angin dari luar pesawat. Menoleh ke belakang, pintu helikopter telah terbuka dan kursi belakang kosong. Penumpang di kursi itu, warga negara Filipina yang juga manajer perusahaan tambang Kanada, Bre-X, Michael Antonio Tuason de Guzman tak terlihat lagi.

Pilot Edi Tursono kemudian menurunkan ketinggian sampai 200 kaki dan berputar selama 20 menit untuk mencari bayangan de Guzman di daratan di bawahnya, sebuah areal sekitar kecamatan Muarakaman dan Sabintulung. Nihil.

Helikopter Aloutte III pun kembali ke Samarinda. Penumpang di kursi belakang lenyap, hanya meninggalkan jejak barang bawaan berupa tas kulit berwarna hitam, satu kopor putih berisi jam tangan, gelang dan cincin emas, telepon genggam, dompet berisi kartu kredit, kartu pengenal, uang tunai 250.850 rupiah, 55 dolar Amerika, dan 20 dolar Kanada. Juga ada surat-surat yang ditujukan kepada beberapa orang.

Baru empat hari kemudian, jazad sang manajer ditemukan dalam posisi tertelungkup di rawa-rawa dengan kondisi tubuh yang sudah rusak dan tak mudah dikenali, selain dari pakaian yang ia kenakan.

Lalu kabar pun berhembus ke seluruh negeri: Antonio de Guzman bunuh diri dengan melompat dari helikopter saat meninjau proyek tambang Busang, sebuah kawasan dengan cadangan jutaan ons emas di Kalimantan. Bunuh diri, dan cerita pun ditutup.

Tapi tidak. Cerita berlanjut ketika seorang jurnalis independen bernama Bondan Winarno meragukan kejadian bunuh diri ini. Bondan tak habis pikir bagaimana jenazah yang jatuh dari ketinggian 800 kaki di lebatnya hutan belantara Kalimantan bisa ditemukan tak sampai sepekan dengan kondisi tubuh tak sesuai dengan gambaran orang terjatuh dari pesawat. Kondisi jenazah seperti terjatuh dari atas pohon kelapa.

Selain wartawan yang pernah bekerja di Majalah SWA dan TEMPO, Bondan adalah seorang penggemar terjun payung, dia paham benar bagaimana tubuh orang yang terjatuh dari ketinggian tanpa parasut. Selain itu, ada beberapa isu seperti adanya seorang pria tak dikenal yang ikut ke dalam pesawat sebelum terbang selain pilot, juru mesin dan de Guzman.

Baca juga :   Medsos Dan Hukum Rimba

Naluri wartawan Bondan tergerak untuk melakukan investigasi. Selama sebulan penuh, ia menelisik berbagai dokumen, juga menemui puluhan narasumber di lokasi tambang Busang, Jakarta, Samarinda, Balikpapan, sampai ke negara asal de Guzman di Filipina, kantor Bre-X di Toronto dan Calgary di Kanada.

Tiga bulan kemudian, hasil investigasi itu terbit sebagai buku berjudul “Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi”. Sebuah buku berisi hasil investigasi mendalam yang bermula dari sebuah keraguan pada peristiwa di tempat sepi, dari ketinggian 800 kaki di udara hutan Kalimantan, kematian seorang manajer, dan dihubungkan dengan skandal dan penipuan terbesar dalam sejarah pertambangan Indonesia.

Alkisah, investor pertambangan Bre-X dari Kanada tertarik mengakuisisi sebuah areal tambang dengan cadangan satu juta ons emas di kawasan yang dihuni orang-orang Dayak Busang, karena itu disebut Tambang Busang. Tambang ini dieksplorasi sebuah perusahaan bernama Montague Gold NL.

Informasi soal “cadangan emas satu juta ons” itu datang dari geolog Belanda bernama John Felderhof kepada promotor saham Kanada, David Walsh. David kemudian menyarankan investor dari Bre-X untuk melakukan akuisisi atas Montague.

Kabar soal “kandungan emas satu juta ons” yang diakuisisi Bre-X ini melejitkan saham perusahaan Bre-X di lantai bursa, dari 27 sen, menjadi 192,5 dolar Kanada per lembar saham pada bulan April 1996.

Sebagaimana setiap cahaya yang gemerlap, laron-laron tertarik mendekat. Tambang Busang dengan “cadangan emas satu juta ons” tidak hanya menarik laron, tapi babon-babon pengusaha kakap Orde Baru.

Ada Sigit Harjojudanto melalui PT. Panutan Duta menuntut kompensasi miliaran dolar dan saham, Barrick Gold Corporation bersama Siti Hardiyanti Rukmana yang didukung Presiden Amerika Serikat George HW Bush berhasil mendapatkan katabelece Presiden Suharto untuk mengikutsertakan perusahaan Amerika itu di Busang, lalu Bob Hasan melalui PT. Askatindo. Yang terakhir ini, menggandeng raksasa tambang yang juga sudah lama bermain di Papua: Freeport-McMoRan.
Begitulah daya tarik Busang, tambang dengan “cadangan emas satu juta ons” di Kalimantan Timur.

Baca juga :   Opini: Siapa untung dalam UU Pemilu Yang Baru?

Nah, adalah bos Freeport-McMoRan, Jim Bob Moffet yang mendorong perlunya verifikasi atas cadangan emas Busang ini. Ia mengirim tim sendiri dan melakukan pengeboran di lokasi. Hasilnya? Cadangan emas Busang tak sebanyak yang dilaporkan Bre-X. Pada inti bor tim ini hanya ditemukan sedikit emas vulkanis.

Singkat cerita, semua pihak yang telah berburu tambang Busang, terkejut dan merasa tertipu. Usut punya usut, orang pertama yang melakukan pengeboran dan melaporkan kandungan emas raksasa di Busang melalui Felderhof ini ternyata adalah Michael Antonio Tuason de Guzman, seorang geolog Filipina. Penemuannya yang digunakan Felderhof untuk meyakinkan David Walsh yang lalu disambut gempita oleh Bre-X.

Bre-X menyatakan kemungkinan Freeport tidak mengambil contoh kandungan emas di lokasi yang benar. Bre-X kemudian mengirim Michael Antonio Tuason de Guzman yang saat itu sudah menjadi manajer eksplorasi perusahaan ini ke Kalimantan. Ia ke lokasi dengan helikopter Aloutte III, lalu menghilang.

Apa yang sebenarnya terjadi? Ini sebuah skandal besar. Lewat serangkaian kerja investigasi, Bondan tak percaya bahwa jenazah yang ditemukan tertelungkup di rawa-rawa, yang jatuh dari helikopter itu, adalah de Guzman. Orang itu bergigi lengkap, sementara salah satu narasumber Bondan mengaku pernah melihat de Guzman pernah melepas gigi palsunya menjelang tidur. Dan lain-lain keanehan dari peristiwa ini.

Kesimpulan Bondan: kematian de Guzman dipalsukan. Bisa jadi, sang manajer masih hidup entah di mana, atau bisa jadi tengah berfota-foya di satu pulau surga terasing.

Hilangnya de Guzman membongkar skandal besar kebohongan Bre-X, yang sebenarnya juga adalah korban. De Guzman telah menipu Bre-X dengan melumuri ujung inti mata bor dengan taburan bijih emas murni. Inti mata bor itulah yang diperiksa di laboratorium dan keluar dengan hasil akurat: areal tambang Busang mengandung “cadangan emas satu juta ons”.

Media-media luar negeri yang juga melakukan investigasi atas skandal ini membuat cerita semakin terang. Harian The Wall Street Journal mengungkapkan keterlibatan de Guzman dan dua anak buahnya Jerry Alo dan Rudy Vega, bersama sejumlah beberapa ahli geologi Filipina, melakukan penaburan emas di mata bor pada sekitar bulan Desember 1996. Mereka melakukannya di gudang Loa Duri, di pinggir sungai di Samarinda.

Baca juga :   Opini: Absolutisme Hitler dan Ancaman Demokrasi Indonesia

Setelah kasus ini terungkap, saham Bre-X rontok. Bursa Saham Toronto, Kanada mencatat, pada 6 Mei 1997, harga saham Bre-X yang pernah mencapai 192,5 dolar Kanada, terjun bebas sampai hanya 6 sen belaka! Lima tahun kemudian, perusahaan ini dinyatakan bangkrut.

Hasil investigasi jurnalis senior Bondan Winarno dalam bentuk buku berjudul “Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi” telah menguak satu skandal besar yang juga menampar pemerintah Orde Baru. Pemerintah telah mengeluarkan izin terhadap eksplorasi cadangan tambang yang tak diketahuinya sendiri.

Investigasi Bondan Winarno yang dilakukan dengan intuisi seorang jurnalis, kemampuan mengendus ketidakberesan sebuah fakta, ketekunan melakukan verifikasi, kecermatan memilah-milah bahan, dan tentu saja kegigihan mengejar narasumber kunci.

Saat akhirnya bisa beredar di publik di tahun 1997, tantangan datang, Menteri Pertambangan dan Energi saat itu, IB Sujana menuntutnya di pengadilan dengan nilai tuntutan Rp2 triliun, ditambah permintaan maaf di media massa. Sujana merasa namanya dicemarkan di buku itu, terutama soal adanya permintaan setoran dana Rp50 miliar ke rekening sang menteri dari PT Tambang Batu Bara Bukit Asam.

Di pengadilan, Bondan dinyatakan bersalah, meski hakim tak mengabulkan sepenuhnya tuntutan terhadapnya. Ia hanya diharuskan membayar ongkos perkara Rp1000 dan diganjar hukuman percobaan beberapa bulan. Dalam perkara lain, Bondan juga dihukum membuat iklan pernyataan maaf sebesar satu halaman di 16 koran nasional.

Begitulah. Sang jurnalis investigatif itu berpulang pagi tadi. Kabar-kabar duka berseliweran mengabarkan, sang pembawa acara kuliner – nama acaranya di televisi Wisata Kuliner – telah meninggal dunia di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta.

Saya mengenang kepergian Bondan Winarno pagi tadi dari sisi mendiang sebagai wartawan. Bangsa ini, terutama para jurnalis, kehilangan seorang teladan yang memberi contoh bagaimana memperlakukan satu fakta dan menjadikannya sebuah karya.

Dengan cara itulah, Bondan meninggalkan nama. Bukan sekadar ingatan pada Bondan Winarno sebagai politisi, pengusaha warung kopi, atau pada kata-kata takjub atas kelezatan makanan yang dicicipinya: “maknyuuussss”.

Selamat jalan, Bondan Winarno!