News

Nol Kilometer Kota Makassar Dengan Berbagi Mitos

Nol Kilometer Kota Makassar Dengan Berbagi Mitos

Kabar Makassar-- Lapangan Karebosi mungkin tak asing lagi ditelinga masyarakat Kota Makassar. Karebosi merupakan nol kilometer dari Kota Makassar ini menyimpan banyak sejarah dan misteri.

Pada masyarakat Sulsel, Lapangan Karebosi kental dengan cerita mistik dan mahluk mahluk astral terlebih dengan keberadaan tujuh makam misterius yang berada tepat ditengah lapangan.

Lapangan seluas 11 hektar ini, pada masa kepemimpinan Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin mengalami revitalisasi guna menata agar lebih cantik dan terhormat.

Tapi, pada masa kempemimpinan dua Wali Kota sebelumnya, HM Dg. Patompo dan Suwahyo pernah meratakan tujuh gundukan tanah tersebut namun selalu muncul kembali.

Berdasarkan sejarah, pada abad ke 10 pernah terjadi kemarau panjang selama tujuh tahun. Pada saat ini masyarakat Gowa Tallo mengalami masa paceklik yang berujung pada kekacauan.

Hingga pada akhirnya turun hujan deras selama tujuh hari tujuh malam yang disertai dengan petir yang mengguncang.

Di hari ke delapan hujan dan halilintar akhirnya berhenti dengan menyisakan rintik rintik gerimis halus dari langit.

Tiba tiba keajaiban pun terjadi, dengan kemunculan tujuh gundukan tanah dalam satu posisi berjejer dari arah Selatan ke Utara dan menyebarkan bau pandan yang wangi.

Penduduk sekitar yang menyaksikan kejadian tersebut terperangah merasa takjub dan kaget atasa apa yang mereka saksikan.

Dari ketujuh gundukan tanah tersebut masing masing muncul satu orang mengenakan gaun berwarna kuning keemasan, ketujuhh orang t ersebut hanya mncul sesaat dan tiba tiba menghilang.

Hingga saat ini tidak ada yang mengetahui asal muasal ketujuh orang yang muncul dari gundukan tanah tersebut, tapi masyarakat percaya bahwa ketujuh orang tersebut adalah Tumanurung (semacam dewa dalam mitologi Bugis Makassar).

Ketujuh orang tersebut, oleh masyarakat Makassar kemudian disebut dengan nama Tujua yang merupakan Karaeng Angngerang Bosi aatu Tuan yang Membawa Hujan.

Disitulah masyarakat terinspirasi dan memberi nama Kanrobosi atas hamparan sawah. KAnro berarti anugrah dari Tuhan dan Bosi artinya hujan atau bisa bermakna kelimpahan.

Hujan yang turan waktu itu, adalah limpahan anugrah Tuhan, dan Kanrobosi menjadi sawah kerajaan.

Hingga saat Belanda menguasai Makassar lalu nama Kanrobosi berubah menjadi Koningsplein, tapi sejak Indonesa merdekan namanya kembali diubah menjadi Karebosi.

Bedarsarkan informasi yang dikutip dari majalahmitos.blogspot.co.id dalam dialog Karaeng Tu Mabbicarayya dengan seseorang terungkap bahwa Tujua di Karebosi nama namanya sesuai urutan leytak makan dari selatan ke utara adalah :

1. Karaeng Tu Mabellayya
2. Karaeng Tu Mabbicarayya
3. Karaeng Tu Maccinika
4. Karaeng Bainea
5. karaeng Tu Nipalanggayya
6. Karaeng Tu Apparumbu Pepeka
7. Karaeng Tu Angngerang Bosi

Sumber: Majalah Mitos Makassar

Foto:Int

Redaksi

Related Articles

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close